Judul Buku: Just War: Psychology and Terrorism, Editor: Ron Roberts, Penerbit: PCCS Books, Kota Terbit: Ross-on-Wye, United Kingdom, Tahun Terbit: 2007, ISBN: 978-1-898059-92-9, Peresensi: Sharon Collins.
Harakatuna.com – Sejak halaman awal, buku Just War: Psychology and Terrorism sudah menampakkan dirinya bukan sebagai karya akademik biasa. Bahkan sebelum masuk ke isi, pembaca disambut dengan bagian “un-acknowledgements”, sindiran tajam dari sang editor, Ron Roberts, yang dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak berterima kasih kepada Presiden AS, PM Inggris, maupun anggota Partai Republik dan Partai Buruh, “yang dengan caranya masing-masing banyak berkontribusi pada terciptanya buku ini.”
Kalimat pembuka itu saja sudah menjadi pernyataan politik yang menggugah: buku ini bukan sekadar analisis tentang perang dan terorisme, tetapi juga cermin dari keberanian intelektual untuk melawan kemapanan dan kemunafikan institusional.
Dalam kumpulan 12 bab yang disunting oleh Roberts ini, para penulis yang terdiri dari para klinisi dan peneliti menulis dengan gaya yang hidup dan menggugah, jauh dari kesan kering atau akademis semata. Setiap bab menantang pembaca untuk mempertanyakan apa yang selama ini dianggap sebagai “kebenaran”. Buku ini memaksa pembaca untuk merasa tidak nyaman, bahkan malu atas ketidaktahuan mereka, serta terkejut melihat sejauh mana psikologi, yakni disiplin yang semestinya menjunjung kemanusiaan, terseret ke dalam praktik kekerasan dan kebrutalan, terutama dalam konteks perang Irak.
Bagi Sharon Collins, seorang psikolog klinis sekaligus praktisi CAT (Cognitive Analytic Therapy), membaca buku ini adalah pengalaman yang menyakitkan sekaligus membuka mata. Ia mengakui bahwa sebelumnya ia memegang pandangan naif: bahwa ilmu psikologi dan alat-alat berpikirnya hanya akan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.
Namun bab pembuka oleh David Harper segera menghancurkan ilusi itu. Harper menunjukkan bahwa psikologi, dan para psikolog sendiri, telah memainkan peran signifikan dalam mengembangkan metode penyiksaan. Ia mengurai sejarah penelitian yang didanai CIA, termasuk eksperimen klasik dalam psikologi sosial yang ternyata memiliki hubungan langsung dengan teknik interogasi dan penyiksaan, seperti yang digunakan di penjara Abu Ghraib.
Fakta-fakta tersebut bukan sekadar teori. Collins menuturkan pengalaman pribadinya mengenang seorang rekan yang disiksa di Malawi pada tahun 1992, dan merasa ngeri menyadari bahwa metode yang digunakan sama dengan yang diuraikan dalam buku ini. Pertanyaan yang menghantui kemudian muncul: sampai sejauh mana psikologi telah menjadi kaki tangan kekuasaan dalam melanggengkan kekejaman?
Roberts sendiri tidak berhenti di sana. Ia juga mempertanyakan peran lembaga profesional seperti British Psychological Society (BPS) yang tetap bungkam terhadap perang Irak. Dalam analisisnya yang tajam, Roberts menuding sikap diam ini sebagai bentuk kolusi terselubung, kegagalan moral dari lembaga yang seharusnya menjunjung kemanusiaan dan etika. Membaca bagian ini sungguh tidak nyaman, sebab Roberts menyoroti bagaimana diamnya para akademisi dan lembaga profesional telah memperkuat legitimasi perang yang merenggut begitu banyak nyawa tak berdosa.
Bab-bab berikutnya tetap mempertahankan daya guncang intelektual yang sama. Ada kajian menarik tentang cara anak-anak di Bosnia dan Inggris memaknai perang, memperlihatkan betapa konstruksi sosial dan media mempengaruhi persepsi publik terhadap konflik.
Para penulis menelanjangi bagaimana masyarakat Barat, termasuk para pembacanya sendiri, telah terperangkap dalam narasi media yang menempatkan perang Irak sebagai “misi penyelamatan”, sementara mengabaikan penderitaan rakyat Irak yang sesungguhnya menjadi korban utama. Dengan cara yang halus namun tegas, buku ini mengingatkan bahwa kepercayaan terhadap versi resmi peristiwa perang adalah bentuk partisipasi pasif dalam sistem penindasan global.
Salah satu bab paling menarik bagi para penggemar CAT adalah tulisan Steve Potter dan Julie Lloyd. Keduanya secara brilian menggunakan konsep peran timbal balik (reciprocal roles) dalam menganalisis pidato-pidato politik Presiden George W. Bush dan PM Tony Blair, khususnya pada peristiwa Camp David menjelang invasi Irak.
Mereka menunjukkan bagaimana retorika politik kedua pemimpin itu membentuk pola relasional yang manipulatif, yakni memosisikan “kita” sebagai pihak yang rasional dan demokratis, sementara “mereka” (Irak, Timur Tengah, atau musuh yang dikonstruksi) sebagai pihak yang irasional dan berbahaya.
Analisis Potter dan Lloyd menyingkap “sisi bayangan” dari pidato politik: keyakinan bahwa penggunaan kekerasan akan menjadi “adil” jika dilakukan oleh pihak yang merasa lebih bermoral. Dengan pendekatan psikologi relasional, Potter dan Lloyd membantu pembaca melihat bahwa pidato politik tidak sekadar kata-kata, melainkan alat canggih untuk membangun kepatuhan moral terhadap perang.
Dari sini, Collins menafsirkan bahwa salah satu kekuatan utama buku ini adalah kemampuannya membalik fungsi psikologi: dari alat yang pernah dipakai untuk menyamarkan kekerasan, menjadi alat untuk membongkar dan menentang kekerasan itu sendiri. Buku ini mengkritik kebijakan perang dan praktik terorisme negara, sekaligus menantang pembaca untuk merefleksikan keterlibatan diri mereka sendiri sebagai warga dunia yang mungkin diam, menikmati kenyamanan, dan dengan demikian ikut menyokong ketidakadilan global.
Buku Just War: Psychology and Terrorism bukan sekadar bacaan akademik, melainkan panggilan etis. Ia memaksa kita untuk masuk ke wilayah yang tidak nyaman, untuk mengakui bahwa kita bagian dari sistem yang sama yang menyebabkan penderitaan orang lain.
Seperti yang ditulis Collins, ketika kita membaca surel berantai yang mengatakan bahwa 95% sumber daya dunia dikonsumsi oleh 5% populasi, sesungguhnya kita sedang membaca tentang diri kita sendiri. Dan ketika media hanya menyoroti korban di pihak kita, siapa sebenarnya korban sejati? Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung, menantang, dan tak mudah dijawab.
Ron Roberts menutup buku ini dengan peringatan keras: jika kita tidak waspada terhadap peran diam dan ketakpedulian, maka kita sedang melangkah pelan namun pasti menuju bentuk totalitarianisme baru yang diselimuti retorika demokrasi dan kemajuan sains.
Sharon Collins menyerukan agar setiap dosen psikologi menjadikan buku ini sebagai bacaan wajib bagi mahasiswa. Karena hanya dengan memahami sisi gelap dari disiplin ilmu ini, kita dapat memastikan bahwa pengetahuan psikologis benar-benar digunakan untuk memulihkan, bukan menyakiti, dan yang membebaskan, bukan menindas.








Leave a Comment