Ketika Kata Harus Memiliki Tubuh

Firda Adinda Syukri

26/07/2025

3
Min Read
Kata

On This Post

Harakatuna.com – Semakin banyak teks yang ditulis mesin, semakin jelas perbedaannya: kata-kata rapi, kalimat lancar, tapi hambar. Tidak ada denyut. Tidak ada detail yang menggigit. Tulisan AI sering terdengar seperti ucapan yang ingin menyenangkan semua orang, padahal sastra dan esai tidak lahir dari keramahtamahan; ia lahir dari benturan, dari sesuatu yang benar-benar dilihat dan dirasakan.

Mesin bisa merangkai sinonim, tapi tidak bisa merasakan keringat di dahi seorang ibu yang baru melahirkan, atau bau kapur barus di lemari nenek. Dan di situlah jurang itu.

Ada nasihat tua yang terus bertahan di dunia menulis: (Don’t Tell, but Show) “Jangan ceritakan, tunjukkan.” Sering terdengar klise, padahal inti dari setiap tulisan yang bernyawa. Jangan menulis, “Dia marah,” lalu berharap pembaca ikut merasakannya. Lebih baik hadirkan detail: pintu yang dibanting, napas yang tersengal, suara pecah ketika kata-kata meluncur terlalu cepat. Dari situ, kemarahan akan terasa tanpa perlu diberi nama.

Menulis bukan laporan perasaan. Bukan tugas untuk menjelaskan emosi dengan definisi. Cukup biarkan peristiwa berbicara. Biarkan pembaca berjalan sendiri ke ruang yang sama, tanpa kalimat yang menuntun seperti, “Ini kesedihan,” atau “Ini cinta.”

Tidak semua orang pernah menyaksikan proses kelahiran. Tapi bayangkan jika berada di sana. Berada di ruangan yang tegang, udara bercampur bau obat dan keringat. Lalu tiba-tiba, suara tangis memekik, mentah, seolah sang bayi takjub dengan rekayasa dunia. Tubuh mungil, licin oleh cairan, diletakkan di atas dada yang masih bergetar.

Tangan ayah terulur pelan, gemetar, seperti takut merusak sesuatu yang sakral. Di sudut ranjang, sehelai kain basah mengusap kening seorang ibu yang napasnya tinggal sisa, cukup untuk satu tarikan lega. Detail seperti ini berbicara lebih jujur daripada seribu kata yang mencoba menjelaskan makna kehidupan.

Untuk sampai ke titik ini, menulis harus kembali ke pancaindra. Menangkap apa yang hadir sebelum komentar dan kritik datang mengganggu. Dari sanalah kata-kata lahir jernih, sebersih jiwa bayi yang tak mengenal dosa. Tidak selalu mudah, tetapi penting untuk mengenal ruang itu.

Kalimat seperti, “Tulisan ini tentang kehidupan,” kalimat semacam itu ibarat janji reformasi di gedung megah, tapi keluar hanya dengan pernyataan pers yang sama sekali tak bernas. Tidak perlu bicara tentang kehidupan—perlihatkan saja. Saat memulai, mungkin hanya muncul kalimat seperti, “Ingin menulis tentang nenek.”

Tidak masalah. Itu baru pintu masuk. Yang menentukan adalah keberanian untuk membuka pintu. Duduklah di kursi kayunya, hirup bau kapur barus yang mengendap di lemari, dengarkan denting sendok ketika gula larut di cangkir teh. Dari detail kecil seperti itu, cerita mulai bernapas.

Pernyataan umum tidak selalu buruk, asal tidak dibiarkan telanjang. Beri ia tubuh, beri warna, beri bunyi. Bahkan filsafat akan lebih hidup jika disandarkan pada hal kecil. Bayangkan Descartes menulis, “Aku berpikir tentang bau rokok, denting gelas anggur, dan riuh pasar malam; maka aku tahu aku ada.” Bukankah itu membuatnya tampak duduk di pojok kafe, bukan sekadar nama di buku pelajaran?

Ada cerita yang kadang terasa hambar bukan karena idenya lemah, melainkan karena jarak terlalu jauh. Penulis berdiri di luar pagar, tak menyalakan napas di dalamnya. Bukan soal mengalami langsung atau tidak, yang penting adalah masuk, menyentuh denyutnya, membuatnya hidup. Jika tidak, cerita akan tetap dingin—tak bersentuhan dengan dunia, tak bersentuhan dengan siapa pun.

Leave a Comment

Related Post