Harakatuna.com – Bencana alam merupakan peristiwa yang kerap menimbulkan dampak besar bagi kehidupan manusia, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun kemanusiaan. Banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan berbagai bencana lainnya sering dianggap sebagai musibah alam semata. Namun, dalam banyak kasus, bencana tersebut tidak dapat dilepaskan dari peran dan perilaku manusia terhadap lingkungan.
Aktivitas manusia seperti penggundulan hutan, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, serta kurangnya kepedulian terhadap keseimbangan ekosistem sering kali memperparah dampak bencana. Ironisnya, tindakan-tindakan tersebut kerap dilakukan atas nama pembangunan, kemajuan, atau perbaikan kesejahteraan. Padahal, tanpa disadari, cara-cara tersebut justru meninggalkan kerusakan jangka panjang bagi alam dan kehidupan masyarakat.
Kondisi ini selaras dengan peringatan Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 11–12:
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ ١١
اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلٰكِنْ لَّا يَشْعُرُوْنَ ١٢
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi,’ mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan, Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya.“
Surah Al-Baqarah merupakan surah ke-2 dalam Al-Qur’an dan termasuk surah terpanjang, dengan jumlah 286 ayat. Surah ini tergolong Madaniyah, karena diturunkan setelah Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah. Nama Al-Baqarah berarti “sapi betina”, yang diambil dari kisah Bani Israil pada ayat 67–73 sebagai pelajaran tentang ketaatan kepada perintah Allah. Sabab nuzul QS. Al-Baqarah ayat 11–12 berkaitan dengan perilaku orang-orang munafik di Madinah yang secara lahiriah mengaku beriman, namun dalam praktiknya justru menimbulkan kerusakan di tengah masyarakat. Mereka kerap menyebarkan keraguan, memecah persatuan kaum muslimin, serta melemahkan kepercayaan terhadap Rasulullah ﷺ. Ketika ditegur agar tidak berbuat kerusakan, mereka membela diri dengan mengklaim bahwa tindakan mereka adalah bentuk perbaikan dan upaya mendamaikan keadaan. Melalui ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa klaim tersebut tidak sesuai dengan hakikat perbuatan mereka, karena sesungguhnya merekalah pelaku kerusakan, hanya saja mereka tidak menyadarinya. Ayat ini menjadi peringatan bahwa perbaikan sejati tidak cukup dengan pengakuan atau niat, melainkan harus tercermin dari dampak nyata yang membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi umat.
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa orang munafik menganggap tindakan mereka sebagai perbaikan, padahal sejatinya mereka menimbulkan kerusakan dengan menyebarkan keraguan, fitnah, dan perpecahan di tengah kaum muslimin. Klaim “kami hanya melakukan perbaikan” menjadi bentuk pembelaan diri atas kerusakan yang mereka lakukan. Al-Qurthubi memperluas makna kerusakan dalam ayat ini, tidak hanya terbatas pada kerusakan akidah, tetapi juga mencakup kerusakan sosial, moral, dan tatanan kehidupan. Menurutnya, setiap tindakan yang menjauhkan manusia dari keadilan, kebenaran, dan kemaslahatan termasuk bentuk kerusakan, meskipun dilakukan dengan alasan yang terlihat baik.
Seperti beberapa musibah yang terjadi saat ini di Indonesia yaitu banjir, tanah longsor yang sedang terjadi di Sumatra yang terjadi akibat ulah tangan manusianya sendiri yang tidak pandai dalam merawat bumi, dikatakan dalam surah lain di Al-Qur’an dalam Q.S. Al-A’raf: [56] “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya” pernyataan dari ayat ini sudah jelas adalah anjuran dari Allah untuk manusia agar menjaga bumi dari kerusakan, karena seperti yang kita lihat saat ini dampak dari kerusakan alam ini bukan hanya berdampak kepada manusia, namun juga kepada binatang-binatang yang terlantar sehingga terancam habitatnya.
Dalam kasus ini banyak hikmah yang dapat kita ambil, juga kita bisa melihat manusia manusia dengan kepeduliannya antar sesama makhluk, sedikit banyak yang kita tahu beberapa manusia banyak yang menyalahkan air langit yang turun ke bumi yang pada akhirnya menyebabkan banjir dan longsor di Indonesia, jika kita lihat dari ayat pada Q.S. Al-Baqarah ini musibah dan bencana alam yang terjadi tidak semata-mata terjadi begitu saja, tetapi juga karena ulah tangan manusia.
Seperti pada firman Allah SWT pada Q.S. Az-Zukhruf: [11] “Yang menurunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu dengan air itu Kami menghidupkan negeri yang mati (tandus). Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).” Allah menurunkan hujan dari langit sesuai dengan keperluan untuk menghidup-suburkan tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan. Dia menurunkan hujan tidak lebih dari yang diperlukan sehingga tidak melimpah ruah melampaui batas dan akhirnya menjadi bencana, seperti halnya air bah yang merusak dan membinasakan, dan tidak pula terlalu sedikit sehingga tidak mencukupi kebutuhan untuk kesuburan tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang menyebabkan kering dan layu, dan mengakibatkan timbulnya bencana kelaparan yang menimpa makhluk Allah di mana-mana. Dengan turunnya hujan dari langit sesuai dengan kadar yang diperlukan, maka hidup dan makmurlah negeri yang telah mati yang tidak lagi ditumbuhi tanam-tanaman dan pohon-pohonan.
Dari musibah ini pun kita menjadi tahu adanya penggundulan hutan yang dilakukan pemerintah Indonesia yang dilakukan tanpa sepengetahuan rakyat, terjadi kurang lebih 1,6 juta hektar penggundulan hutan diketahui sebab banjir yang sedang terjadi terdapat banyak batang pohon dan kayu yang sudah terpotong rapih terbawa arus sehingga kayu-kayu tersebut banyak menimpa warga sekitar dan rumah yang tertimpa batang pohon yang menyebabkan banyak korban jiwa pada bencana ini.
Adapun beberapa hikmah dari musibah yang terjadi ini yaitu menjadi dorongan untuk kita sebagai hamba Allah agar bermuhasabah kepada Allah SWT, menjadi lebih peduli kepada lingkungan sekitar, mulai belajar dari diri sendiri untuk menjaga dan merawat apa yang Allah SWT ciptakan di sekitar kita, peduli terhadap sesama makhluk, serta sabar dan percaya bahwa kita akan aman ketika kita bisa mematuhi apa yang Allah SWT perintahkan dalam Al-Qur’an seperti menjaga sesama makhluk, merawat dan menjaga bumi. Dalam musibah ini selain diuji kesabaran oleh Allah SWT kita pun diuji mana manusia yang menunjukkan kepedulian-Nya terhadap sesama makhluk Allah SWT siapa yang membantu, dan siapa yang tidak peduli terhadap sesama. Juga mengingatkan kepada kita bahwa pertolongan dan ujian dari Allah SWT. itu nyata, karena pada hakikatnya segala kesulitan selalu beriringan dengan kemudahan, Allah adalah sebaik-baiknya penolong bagi seluruh hamba-Nya.
Wallahu A’lam.
Wallahu A’lam.
Oleh: Dillah Alifah.









Leave a Comment