Kenapa Orang Madura Tidak Pernah Terjebak Propaganda Terorisme?

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.

12/06/2024

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Saya bertanya, kenapa orang yang terjebak propaganda terorisme itu adalah orang kota? Pertanyaan ini muncul berdasarkan ingatan dan pengamatan saya selama tinggal di Madura. Sampai detik ini belum ada berita bahwa orang Madura terjerat kasus pidana terorisme. Malahan, yang ramai beritanya orang Madura menguasai sektor perekonomian UMKM, mulai dari jualan sate, nasi bebek, besi, sampai toko sembako.

Orang Madura sejauh yang saya amati memiliki karakter religiusitas yang berbeda dengan beberapa umat Islam di perkotaan. Orang Madura memang dikenal masyakarat religius, bahkan ke mana-mana pakai sarung dan kopyah putih atau nasional. Namun, dalam beragama orang Madura tidak semuluk orang kota. Mereka beribadah dengan menggunakan akal rasional. Ibadah, bagi orang Madura, pasti selalu mengajarkan kebaikan dan mencegah keburukan.

Sederhananya begini, ibadah yang membawa kepada kebaikan diyakini oleh orang Madura dapat membawa kepada keberkahan hidup. Hidupnya damai dan bahagia, meski secara ekonomi tidak sekaya orang kota. Hidup yang berkah tentu beriringan dengan rezeki yang berkah pula. Bahkan, orang Madura selalu berdoa, “Jangan kasih rezeki jika rezeki itu akan membawa pada petaka atau mafsadah. Tapi, berilah rezeki yang membawa kepada kemaslahatan.” Rezeki yang berkah bukan hanya menenteramkan seorang diri, tetapi juga orang lain, termasuk keluarga dan sanak familinya.

Rasionalitas dalam beribadah dapat diukur dari dampaknya. Jika perbuatan seseorang semakin menjauh dari nilai-nilai luhur agama, pasti ibadah yang dilakukan tidak membawa dampak yang positif. Bagi orang Madura, ibadah semacam itu belum benar dan perlu diperbaiki. Mungkin secara syarat dan rukun shalat sudah terpenuhi, tapi ibadah itu belum memberikan dampak yang baik kepada pelakunya. Karena, ibadah itu tidak diberengi dengan rasionalitas berpikir di luar shalat.

Orang kota yang terlampau religius dan mengabaikan rasionalitasnya akan gampang terjebak propaganda terorisme. Mereka biasanya tidak memiliki dasar keagamaan yang mendalam. Kedalaman agama di sini tidak dapat diukur dari seberapa banyak buku yang dibaca. Tapi, hanya dapat dipastikan dengan keberkahan guru yang mengajarkan. Seseorang yang salah memilih guru akan dapat mengantarkan kepada petaka masa depan. Sebaliknya, orang yang benar memilih guru akan meraih kebahagiaan masa depan.

Pentingnya memilih guru, sejauh yang saya amati, memang cukup berbeda antara orang Madura dan orang kota. Orang Madura tidak bakal menyekolahkan anaknya selain kepada pesantren atau lembaga yang diyakini berhaluan agama versi Nahdlatul Ulama (NU). Karena, agama versi NU yang diyakini selamat dari propaganda terorisme. Di dalam NU diajarkan nilai-nilai moderasi.

Islam versi NU tentu berbeda dengan ajaran terorisme dan Wahabisme. NU menentang keras aksi-aksi terorisme karena itu bukan ajaran agama Islam. Islam melaknat pelaku pembunuhan, karena menjaga keselamatan jiwa jauh lebih penting daripada pembunuhan. Bahkan, pembunuh diklaim akan mendapatkan hukuman neraka kelak. Maka, terorisme yang merupakan model pembunuhan dengan pengeboman tentu tidak dapat dibenarkan, apa pun alasannya.

Sebagai penutup, religiusitas hendaknya dibarengi dengan rasionalitas. Beragama yang rasional akan mengantarkan pelakunya kepada jalan yang benar. Mereka tidak gampang melakukan aksi-aksi terorisme. Karena, aksi-aksi terorisme adalah pembunuhan yang dilarang agama. Bagaimana dapat dikatakan benar terorisme jika agama sendiri melarangnya? Maka, agar selamat dari propaganda terorisme, ikuti cara beragama orang Madura yang hanya berpangku kepada model beragama NU yang mengajarkan nilai-nilai moderasi dan cinta tanah air.[] Shallallahu ala Muhammad.

Leave a Comment

Related Post