Kelompok Radikal Sasar Dunia Maya, Kadensus 99 Banser: Jangan Lengah!

Ahmad Fairozi, M.Hum.

08/06/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta — Kelompok radikal dan intoleran semakin aktif memanfaatkan ruang digital sebagai arena utama penyebaran paham terorisme dan kekerasan ideologis. Hal ini disampaikan Kepala Densus 99 Satkornas Banser, Ahmad Bintang Irianto, menyusul penangkapan dua pelaku penyebaran konten radikal di dua lokasi berbeda: Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan dan Purworejo, Jawa Tengah.

“Pelaku radikalisme dan intoleransi masih hidup dan aktif menyebarkan narasi terorisme melalui dunia digital,” tegas Ahmad Bintang dalam keterangan pers, Sabtu (7/6/2025).

Penangkapan pertama terjadi di Gowa, di mana aparat mengamankan seorang remaja berusia 18 tahun berinisial MAS. Ia diketahui menyebarkan propaganda ISIS serta ajakan melakukan pengeboman terhadap tempat ibadah melalui media sosial. Sementara di Purworejo, pria berinisial AF (32) yang diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan Anshor Daulah juga ditangkap. AF diketahui aktif menyebarkan paham radikal dan konten kekerasan secara daring.

Ahmad Bintang menilai bahwa kedua kasus ini menjadi bukti nyata perubahan pola gerakan kelompok teroris yang kini menjadikan ruang siber sebagai medan tempur utama. “Kita tidak lagi berhadapan dengan kelompok berseragam militan, tetapi dengan narasi menyimpang dan individu yang terpapar secara ideologis,” ujarnya.

Sepanjang tahun 2024, pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital telah memblokir lebih dari 180 ribu konten bermuatan radikalisme dan intoleransi. Sebagian besar di antaranya berafiliasi dengan kelompok teroris seperti ISIS, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Ahmad Bintang menekankan pentingnya upaya pencegahan yang lebih sistematis. Ia mendorong penguatan pendidikan kebangsaan dan ideologi Pancasila sejak usia dini, peningkatan literasi digital di kalangan masyarakat, serta pengawasan ketat dalam proses rekrutmen di institusi negara dan lembaga keagamaan. “Kampanye kontra-narasi di media sosial harus terus digencarkan untuk menyeimbangkan arus serangan ideologis yang disebar kelompok radikal,” katanya.

Meski laporan Global Terrorism Index menempatkan Indonesia dalam kategori “medium” hingga “low impact” dalam beberapa tahun terakhir, Ahmad Bintang mengingatkan bahwa ancaman laten tetap ada. “Jangan pernah lengah. Ruang siber kini menjadi arena dominan pertempuran ideologi,” pungkasnya.

Leave a Comment

Related Post