Harakatuna.com – Kelas menengah Muslim di Indonesia memegang peran strategis dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan bahkan politik. Mereka adalah kelompok yang berada di tengah dinamika perkotaan, dengan akses luas terhadap informasi keagamaan, baik melalui media digital maupun berbagai platform dakwah.
Namun, akses yang serba mudah juga menjadi celah yang dieksploitasi oleh kelompok radikal-terorisme. Dalam beberapa tahun terakhir, propaganda radikal-terorisme menyasar kelompok tersebut secara sistematis, memanfaatkan kegelisahan spiritual, keterasingan sosial, dan keresahan politik yang sering mereka alami.
Dinamika kelas menengah Muslim berbeda jauh dari masyarakat pedesaan. Di desa, figur kiai atau tokoh agama tradisional tetap menjadi pusat pengaruh keagamaan. Sebaliknya, masyarakat perkotaan memiliki kebebasan lebih besar dalam memilih figur atau tema ceramah yang sesuai dengan kebutuhan batin mereka.
Hiruk-pikuk kehidupan perkotaan yang penuh tekanan sering kali menciptakan kegalauan spiritual, yang mendorong mereka mencari solusi keagamaan instan. Kondisi itulah yang menjadi titik lemah yang dimanfaatkan oleh kelompok radikal.
Kelas Menengah dan Radikalisme: Potret Kasus
Kita tentu ingat tragedi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada 2018, yang dilakukan oleh satu keluarga di bawah komando Dita Oepriyanto dan Puji Kuswati. Lebih mengejutkan, pasangan itu bahkan melibatkan anak-anak mereka dalam aksi keji yang disebut sebagai “jihad”. Fenomena serupa juga terlihat pada kasus Triyono Utomo, seorang lulusan magister dari universitas ternama di Australia yang pernah bekerja di Kementerian Keuangan. Pada 2017, ia meninggalkan karier dan kehidupannya untuk bergabung dengan ISIS di Suriah.
Kedua contoh tersebut menunjukkan bahwa radikalisme-terorisme tidak mengenal batas kelas sosial. Bahkan, mereka yang memiliki pendidikan tinggi dan akses ekonomi yang baik tetap menjadi target empuk. Hal itu karena kelas menengah Muslim di Indonesia memiliki dua ciri utama: intelektualisme dan borjuasi.
Intelektualisme kelas menengah Muslim ditandai dengan pergeseran pemikiran keagamaan yang awalnya ortodoks menjadi lebih kritis. Sementara itu, borjuasi muncul dari transformasi ekonomi, dari basis agraris ke sektor jasa, perdagangan, dan birokrasi. Keduanya memberikan ruang luas bagi kelas menengah untuk terpapar ideologi politik islamisme yang sering kali mengusung narasi anti-Barat, anti-Kristen, dan anti-demokrasi.
Kelas menengah Muslim tidak hanya menghadapi tantangan spiritual tetapi juga pergolakan batin yang disebabkan oleh narasi global. Isu-isu seperti ketidakadilan sosial, dominasi Barat, dan “kekalahan” umat Islam secara geopolitik menjadi bahan bakar utama propaganda kelompok radikal. Narasi ini menawarkan khilafah sebagai solusi universal, sebuah janji utopis yang tampaknya mampu menjawab segala keresahan kelas menengah.
Dalam konteks itu, peran media digital menjadi penting. Berbeda dengan masyarakat pedesaan yang lebih mengandalkan figur agama lokal, masyarakat perkotaan memiliki akses langsung ke narasi radikal melalui media sosial, video ceramah, dan komunitas daring. Proses indoktrinasi semakin kuat karena mereka sering kali merasa tidak mendapatkan jawaban yang memadai dari sistem yang ada, baik secara politik, ekonomi, maupun spiritual.
Upaya Pencegahan
Propaganda radikalisme yang menyasar kelas menengah Muslim bukanlah fenomena sepele. Strategi mereka yang memanfaatkan kegelisahan spiritual dan kondisi sosial-ekonomi harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak, terutama pemerintah dan institusi keagamaan. Upaya pencegahan harus dilakukan dengan pendekatan holistik, termasuk:
- Membekali kelas menengah dengan pemahaman Islam yang inklusif dan moderat sangat penting untuk menangkal narasi radikal.
- Tokoh agama di perkotaan harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan spiritual masyarakat kelas menengah, memberikan solusi keagamaan yang kontekstual dan relevan.
- Dakwah moderat harus mengambil alih ruang digital dengan menyebarkan pesan-pesan yang mendorong toleransi, keberagaman, dan persatuan bangsa.
- Kegelisahan spiritual dan sosial yang menjadi pintu masuk radikalisme perlu ditangani melalui pendekatan psikologis yang humanis.
Kelas menengah Muslim adalah tulang punggung negara-bangsa: NKRI. Namun, tanpa perhatian serius, mereka juga dapat menjadi kelompok yang terperosok dalam siklus radikalisme-terorisme. Wallahu a’lam.








Leave a Comment