Harakatuna.com – Dalam pidato di Munich Security Conference 2026, 14 Februari di Munich, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyerukan kepada negara-negara Eropa untuk memperkuat aliansi transatlantik dan bekerja sama lebih erat melawan tantangan global bersama.
Rubio menggarisbawahi pentingnya hubungan AS-Eropa yang lebih kokoh dan menyatakan bahwa kedua pihak saling terikat oleh warisan sejarah serta harus menghadapi ancaman bersama demi masa depan yang baik bagi Barat. Dunia sudah berubah.
Kembalinya Taliban berkuasa di Afghanistan pada Agustus 2021 menjadi simbol paling nyata dari perubahan itu. Setelah penarikan pasukan AS dan NATO, Kabul jatuh dengan cepat dan Emirat Islam kembali diproklamasikan di bawah Hibatullah Akhundzada. Peristiwa itu mengguncang narasi keberhasilan proyek “demokratisasi” ala Barat.
Di Gaza, Hamas hingga kini belum dapat dilumpuhkan sepenuhnya oleh Israel, meski didukung teknologi militer canggih dan bantuan Barat. Perang modern memperlihatkan bahwa jaringan perlawanan ideologis tidak mudah dihancurkan hanya dengan bombardir dan operasi darat.
Di Asia Selatan, Pakistan menunjukkan keunggulannya atas India setelah pesawat tempur Pakistan Chengdu J-10C buatan Cina yang dipakai pilot Pakistan, diyakini telah merontokkan pesawat-pesawat top dunia termasuk Dassault Rafale, Sukhoi-30MKI dan Mig-29, pada dini hari, 7 Mei 2025 di sepanjang wilayah perbatasan garis kendali Kashmir (LoC).
Setelah itu India menarik diri. Tidak melancarkan serangan balasan lagi. Rontoknya pesawat-pesawat tempur India memastikan kepada dunia bahwa superioritas regional Asia Selatan bukan di tangan India.
Di Timur Tengah, Iran berkali-kali menunjukkan bahwa tekanan sanksi dan ancaman militer tidak otomatis memaksa perubahan sikap politik. Bahkan dalam konfrontasi langsung yang terbatas, Teheran mampu mempertahankan posisi tawarnya tanpa tunduk pada tekanan Washington.
Kepala Iran tegak di hadapan Amerika karena kemajuan teknologi militer yang dimiliki. Dibuktikan dengan kemampuan Iran mengimbangi Israel dalam perang 12 hari.
Di Yaman, gerakan Ansar Allah yang dipimpin Abdul Malik al-Houthi berkembang menjadi kekuatan militer signifikan. Dengan rudal balistik dan drone, mereka mampu memengaruhi jalur pelayaran strategis di Laut Merah. Ini menunjukkan bahwa aktor non-negara pun kini bisa berdampak global.
Selain aktor-aktor regional, kekhawatiran Amerika juga bersumber dari kebangkitan Rusia. Moskow tetap menjadi kekuatan militer besar dengan persenjataan strategis modern, kemampuan nuklir, serta pengaruh energi yang kuat di Eropa dan Asia. Dalam berbagai krisis, Rusia menunjukkan bahwa mereka masih pemain utama yang sulit disingkirkan.
Lebih besar lagi adalah tantangan dari Cina. Dengan ekonomi raksasa, kemajuan teknologi, dan ekspansi perdagangan global, Beijing secara perlahan menggeser pusat gravitasi dunia. Modernisasi militernya di kawasan Indo-Pasifik memperkuat posisi tawar Cina dalam persaingan strategis dengan Washington.
Sementara itu, Korea Utara tetap menjadi faktor ketidakpastian. Pengembangan rudal balistik dan kemampuan nuklir membuatnya sulit ditekan sepenuhnya melalui sanksi. Negara kecil dengan daya gentar besar ini memperlihatkan bahwa ketahanan politik dapat bertahan meski berada di bawah isolasi panjang.
Semua dinamika ini memperlihatkan bahwa dunia telah bergerak menuju tatanan multipolar. Tidak ada lagi satu kekuatan yang mampu mendikte arah global tanpa perlawanan. Aliansi-aliansi baru terbentuk, kerja sama lintas kawasan meningkat, dan negara-negara berkembang semakin berani menentukan sikap independen.
Seruan Menlu Amerika untuk memperkuat aliansi transatlantik terasa sebagai respons terhadap kecemasan tata dunia baru yang semakin multipolar. Kekhawatiran Amerika bukan sekadar soal satu konflik, melainkan soal perubahan dominasi atas dunia.









Leave a Comment