Kebencian Terhadap Kelompok Agama: Bibit Ideologi Kekerasan

Muallifah

08/08/2024

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Pada beberapa tagline dakwah pada belakangan ini, sudah banyak acara keagamaan yang mengusung tema agama adalah cinta, perdamaian, kasih sayang, dll. Pertanyaan yang muncul adalah, mengapa tema semacam ini penting untuk dikampanyekan? Bukankah semua agama mengajarkan cinta kasih kepada sesama makhluk Tuhan? Tanpa kita sadari bahwa, masih banyak kelompok agama yang mempertentangkan perbedaan yang ada di muka bumi, termasuk perbedaan atas pilihan agama yang diyakini oleh masing-masing individu.

Pertentangan dalam diri kepada kelompok agama yang berbeda, menciptakan kebencian terhadap kelompok tersebut. Kebencian inilah yang menjadi bibit ideologi kekerasan dan membuat seseorang berani melakukan tindakan pembunuhan yang berasal dari perbedaan ini.

Dalam konteks di atas, para teroris yang sudah memiliki rencana untuk melakukan pembunuhan dengan meledakkan bom, pada mulanya memiliki mindset seperti di atas. Kebencian terhadap kelompok agama berbeda, dan merasa bahwa dirinyalah yang paling benar dalam menjalankan agama, menjadikan dirinya tertutup terhadap perbedaan yang sebenarnya adalah sunnatullah. Tidak hanya itu, para teroris senantiasa memupuk pemahaman tersebut bersama kelompoknya dengan melihat berbagai fenomena pemerintahan yang dianggap bertentangan dengan keyakinan/agamanya.

Berkaitan dengan hubungan pemerintahan, diakui atau tidak Indonesia bukanlah negara sekuler yang memisahkan urusan agama dari urusan pemerintahan. Indonesia juga bukan negara agama yang menerapkan syariat Islam sebagai hukum negara. Lebih tepatnya, Indonesia adalah negara beragama yang menaungi beberapa agama di dalamnya. Meski tidak ada satu agama tertentu yang dijadikan sebagai hukum positif negara, namun bukan berarti hukum positif yang ada bertentangan dengan norma-norma agama yang ada di negara Indonesia.

Artinya, sebuah kekeliruan yang sangat besar ketika menyebut bahwa pemerintah adalah taghut. Secara aturan kenegaraan, hukum yang diterapkan di Indonesia merangkul seluruh kelompok umat beragama, tanpa adanya diskriminasi kepada satu pihak mana pun. Tentu, ini sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam untuk saling merangkul antarsesama umat manusia, menyediakan keamanan bagi sesama dan saling memberikan perlindungan kepada sesama manusia.

Mengapa Kebencian Ada Pada Diri Manusia?

Pada hakikatnya, sebagai makhluk individu, kita akan senantiasa memiliki rasa bangga terhadap diri sendiri ataupun kelompok, di mana kita menjadi bagian dari kelompok tersebut. Jika bibit ini besar dalam diri, maka menciptakan sikap acuh kepada kelompok lain. Selain itu, apabila dalam diri manusia memiliki fanatisme akut terhadap kelompoknya, maka akan menganggap bahwa kelompok lain salah. Dalam konteks beragama, fanatisme ditunjukkan dengan sikap menyalahkan orang lain yang berbeda pandangan, ritual ibadah dan menganggap orang/kelompok lain kafir ketika berbeda dengan dirinya.

Rasa benci terhadap orang/kelompok agama lain muncul karena pemahaman agama yang dimiliki oleh seseorang tidak diimbangi dengan interseksionalisme dalam diri. Padahal kalau kita menyadari tentang Indonesia, kondisi negara ini sejak dahulu kala sudah multi-etnik, multi-agama, ras, ataupun budaya. Kebencian yang dimiliki oleh seseorang/kelompok terhadap agama lain, memiliki perspektif untuk membenarkan tindakan teror. Mengapa demikian? Hal ini didasari oleh pemahaman agama yang tertulis tanpa memahami konteks dari ajaran agama yang ada dalam Islam.

Mereka menjadikan aksi teror dengan legitimasi agama untuk berjihad menegakkan tauhid kepada Allah. Mereka juga membenarkan tindakan permusuhan dan pembunuhan seperti praktik yang dilakukan oleh para teroris. Tentu, ini tidak lepas dari contoh nyata ketika beberapa waktu lalu Densus 88 berhasil menangkap anak muda 19 tahun, di Batu, inisial HOK yang sudah berencana untuk mengebom tempat ibadah di Kota Malang dengan alat peledak yang sudah dibuatnya selama beberapa bulan terakhir. Fakta ini mengingatkan kita bahwa, kebencian terhadap kelompok yang berbeda agama, akan mengantarkan kita kepada bibit ideologi kekerasan. Maka dari itu, pentingnya untuk terus meningkatkan interseksionalisme dalam diri, agar senantiasa menghargai perbedaan yang ada di sekitar kita. Wallahu A’lam.

Leave a Comment

Related Post