Harakatuna.com – Zionis Israel kembali memberlakukan pembatasan ketat terhadap jemaah Palestina yang hendak beribadah di Masjid Al-Aqsa, dengan maksimal sepuluh ribu orang, juga syarat izin khusus dan ketentuan usia yang tidak semua warga dapat penuhi. Bagi banyak negara, kebijakan semacam itu merupakan potret nyata bagaimana konflik politik bisa menjangkau bahkan ruang paling spiritual dalam kehidupan manusia. Yordania pun mengutuk Israel. Namun, sebatas mengutuk. Omon-omon.
Padahal, peristiwa tersebut menghadirkan ironi mendalam di bulan yang mestinya dipenuhi pesan rahmat dan pengampunan. Ramadhan adalah momentum ketika umat diajarkan menahan diri dan memperluas empati. Namun faktanya, betapa mudah seseorang terjebak logika yang berlawanan: melihat pihak lain sebagai ancaman, menormalisasi pembatasan hak, dan membenarkan tindakan keras atas nama keamanan. Para Zionis Israel lebih ekstrem dari ekstremis paling barbar di dunia.
Namun demikian, penting dicatat bahwa, fenomena tersebut tidak terjadi hanya dalam konteks konflik geopolitik. Kelompok radikal-teror juga sama. Mereka selalu memulai langkahnya dengan cara pandang yang memisahkan dunia secara tegas antara Muslim dan kafir, lalu secara perlahan mengikis empati terhadap pihak yang dianggap berbeda. Empati mereka menghilang, moralnya juga, dan kekerasan menjadi sesuatu yang mereka benarkan setiap waktu.
Sebenarnya, ekstremisme merupakan persoalan dehumanisasi. Ia muncul ketika seseorang berhenti melihat yang lain sebagai sesama yang memiliki martabat setara. Dalam kondisi seperti itu, kekuasaan berubah jadi sistem kontrol yang keras, sementara keyakinan berubah jadi justifikasi bagi tindakan yang merugikan pihak lain. Banyak yang menyadari bahwa, dalam setiap kasus, dehumanisasi selalu menjadi pintu masuk bagi ekstremisme.
Apakah seorang Muslim perlu marah, misalnya, ketika menyaksikan kebiadaban Zionis Israel di Masjid Al Aqsha? Tentu. Namun, perlu diingat, kemarahan yang tidak terkelola akan berubah jadi kebencian yang destruktif. Ketika kebencian menguasai, seseorang kerap kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang terjebak dalam pola yang sama, yakni menghapus kemanusiaan pihak lain demi pembenaran moral bagi tindakannya sendiri. Ekstremis melahirkan ekstremis lainnya.
Dan seperti disinggung pada Editorial Harakatuna, mestinya Ramadhan menjadi momen deradikalisasi diri. Puasa itu idealnya melatih seseorang untuk menahan dorongan emosional dan mengingatkan bahwa perjuangan melawan ketidakadilan tidak boleh mengorbankan nilai kemanusiaan. Dehumanisasi adalah biang kerok ekstremisme, dan ekstremisme pada akhirnya menciptakan lingkaran setan kekerasan yang terus berulang dari masa ke masa.
Antara Dehumanisasi dan Ekstremisme
Ekstremisme, sekali lagi, adalah soal cara pandang terhadap orang lain. Para ekstremis melihat pihak di luar dirinya sebagai ancaman yang harus dimusnahkan. Kondisi tersebut dikenal sebagai dehumanisasi, yakni proses psikologis-sosial ketika orang lain dipersepsikan tidak lagi sebagai subjek yang perlu dihormati sekalipun berbeda, melainkan sebagai objek yang boleh diperlakukan secara keras, tanpa rasa bersalah jika pun harus membunuh mereka.
Ironisnya, dehumanisasi bekerja secara perlahan dan kerap tak disadari. Dimulai dari narasi yang menyimplifikasi realitas jadi hitam-putih, lalu keyakinan akut bahwa kebenaran hanya dapat dicapai dengan menyingkirkan pihak lain, otak para ekstremis kemudian berpikir untuk menyerang. Jika aksinya akan membuat orang lain menderita, maka para ekstremis menganggap itu sebagai konsekuensi dari apa yang disebutnya ‘kesesatan’ atau ‘kekafiran’.
Semua kelompok radikal, baik dari Islam seperti Al Qaeda dan ISIS, atau dari Yahudi seperti para Zionis di Israel, mindset-nya sama. Siapa pun yang berbeda, mereka merasa harus dibatasi ruang geraknya, dikontrol kehidupannya, dihalangi hak dasarnya, bahkan dibunuh. Pembatasan akses ibadah di Masjid Al-Aqsa, sebagai contoh, mengandung pesan simbolik tentang kebiadaban para Zionis, yang menganggap Muslim sebagai ancaman yang harus diberantas dan dimusnahkan.
Dengan demikian, ekstremisme bukan milik agama tertentu, bangsa tertentu, ataupun ideologi tertentu. Ekstremisme adalah pola mindset yang dapat muncul di mana pun ketika empati hilang dan superioritas moral mengambil alih. Pada kelompok ekstremis, polanya terlihat dalam klaim kebenaran absolut yang menolak keberadaan pihak lain. Dalam konteks Zionisme, ia terlihat dalam kebijakan yang menganggap keamanan atau dominasi lebih penting daripada martabat manusia.
Karena itu, memahami relasi dehumanisasi dan ekstremisme merupakan sesuatu yang krusial. Ketika masyarakat terbiasa dengan narasi yang mereduksi manusia menjadi label, baik label agama, identitas politik, maupun kewarganegaraan, maka ruang bagi empati semakin menyempit. Tanpa disadari, kondisi tersebut menciptakan lingkungan psikologis yang memungkinkan kekerasan dianggap sebagai sesuatu yang rasional dan bahkan perlu dilakukan.
Ramadhan justru menghadirkan pesan kontras, mengajarkan seseorang untuk melihat sesamanya sebagai makhluk setara yang tidak boleh dizalimi. Puasa melatih kepekaan terhadap penderitaan orang lain, sekaligus meruntuhkan ilusi superioritas yang jadi fondasi dehumanisasi. Ramadhan bukan ritual spiritual belaka, melainkan juga mekanisme moral yang menantang akar terdalam dari ekstremisme itu sendiri. Lantas, bagaimana mengatasi rantai ekstremisme yang semarak itu?
Lingkaran Setan Ekstremisme
Dalam sejarah, ekstremisme cenderung melahirkan respons yang memicu kekerasan berikutnya, membentuk rantai panjang yang sulit diputus. Itu disebut sebagai siklus eskalasi, ketika suatu kekerasan dipersepsikan sebagai ancaman, lalu memicu balasan setimpal. Tanpa disadari, kedua pihak terjebak lingkaran yang sama, di mana masing-masing ekstremis merasa sedang mempertahankan kebenaran, padahal sedang mencederai kemanusiaan.
Kemarahan, trauma, dan rasa tidak adil merupakan pengalaman yang sangat manusiawi, terutama dalam situasi konflik berkepanjangan. Namun ketika emosi tersebut terus dipupuk dengan mindset ekstrem, ia dapat berubah jadi kebencian total yang berbahaya. Seseorang tak lagi akan memandang tindakan mereka sebagai bagian dari siklus kekerasan, melainkan respons yang sepenuhnya sah sebagai pertahanan. Itulah titik di mana kekerasan dan teror mengakar di kepala para ekstremis.
Yang membuat lingkaran setan tersebut semakin berbahaya ialah kemampuannya untuk menciptakan justifikasi moral bagi kekerasan balasan: ekstremisme dibalas ekstremisme, terorisme dibalas terorisme. Narasi semacam itu memberikan legitimasi psikologis, sehingga seseorang yang melakukan kekerasan melihat diri mereka sebagai korban yang sedang menuntut keadilan. Peran korban dan pelaku berganti terus-menerus, padahal pola sama, yaitu sama-sama ekstremis.
Jelas, ekstremisme merusak kerukunan antarkelompok, sekaligus membentuk pola pikir yang menutup kemungkinan rekonsiliasi. Ketika seseorang telah meyakini bahwa pihak lain jahat dan tak layak diperlakukan secara manusiawi, maka ruang untuk empati sepenuhnya hilang. Setiap upaya dialog dianggap sebagai kelemahan, dan setiap bentuk kompromi dipandang sebagai pengkhianatan terhadap identitas atau perjuangan.
Karena itu, memutus lingkaran ekstremisme tidak cukup dilakukan melalui pendekatan hukum semata. Yang diperlukan adalah kemampuan mengelola emosi kolektif agar ekstremisme tidak lagi berubah bentuk atau terus mencari legitimasi baru. Masing-masing pihak harus berbenah; Zionis Yahudi dan ekstremis Muslim harus sama-sama sadar. Mereka perlu sama-sama membuka ruang refleksi untuk membuka jalan keluar dari lingkaran setan ekstremisme yang meresahkan.
Ramadhan ini boleh jadi momentum yang pas. Dengan menahan diri dari reaksi impulsif, seseorang dilatih untuk melihat konflik secara jernih, tidak semata-mata lewat lensa emosi. Dari situlah muncul kemungkinan untuk memutus siklus lama ekstremisme: mengganti logika kebencian dengan keberanian moral untuk tetap mempertahankan kemanusiaan. Baik kaum ekstremis Muslim maupun Zionis Yahudi harus sama-sama bercermin, menyadari bahwa semua kebiadaban mereka itu bertentangan dengan ajaran Tuhan, semasif apa pun mereka mengatasnamakan nama-Nya.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…









Leave a Comment