Kapolda Lampung Ingatkan Ancaman Nyata Terorisme

Ahmad Fairozi, M.Hum.

14/05/2025

2
Min Read
Kapolda Lampung Ingatkan Ancaman Nyata Terorisme Fairozi BNPT

On This Post

Harakatuna.com. Bandar Lampung – Kapolda Lampung Irjen Pol Helmy Santika menghadiri kegiatan nonton bareng film Sayap-Sayap Patah 2: Olivia di Studio XXI MBK Mall, Bandar Lampung, Senin malam (12/5/2025). Kegiatan ini diikuti oleh Wakapolda Brigjen Pol Ahmad Ramadhan, jajaran pejabat utama (PJU) Polda Lampung, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Pemutaran film ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari kampanye edukasi untuk meningkatkan pemahaman publik tentang bahaya laten terorisme dan beratnya tugas aparat kepolisian, khususnya Detasemen Khusus 88 (Densus 88) Anti-Teror. “Film ini bukan sekadar tontonan, tapi pengingat bahwa terorisme adalah ancaman nyata. Aksi teror bisa menyasar siapa saja, bahkan anak-anak,” ujar Irjen Pol Helmy Santika dalam sambutannya usai pemutaran film.

Sayap-Sayap Patah 2: Olivia mengangkat kisah nyata dari tragedi bom Gereja di Samarinda pada tahun 2016, yang menewaskan seorang anak kecil bernama Olivia. Dengan alur yang emosional dan sudut pandang yang menyentuh, film ini menggambarkan bagaimana aparat Densus 88 mengejar pelaku aksi teror sambil menyoroti sisi kemanusiaan dari tugas-tugas kepolisian yang penuh risiko.

Irjen Helmy menambahkan, film ini juga menjadi refleksi akan pengorbanan aparat keamanan yang sering kali harus mengesampingkan kehidupan pribadi demi tugas negara.

“Tugas sebagai polisi sangat berat. Kami harus selalu siap ketika negara memanggil, bahkan saat keluarga kami sendiri sedang sangat membutuhkan kami,” ungkapnya.

Kapolda juga mengapresiasi sineas nasional yang berhasil menyampaikan pesan moral secara kuat melalui pendekatan sinematik yang menyentuh, tanpa kehilangan substansi pesan penting tentang bahaya radikalisme.

“Film ini berhasil menggugah emosi sekaligus menyampaikan pesan yang kuat bahwa kita semua punya tanggung jawab dalam mencegah penyebaran paham kekerasan,” katanya.

Lebih lanjut, Helmy mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga lingkungan terdekat, khususnya keluarga dan institusi pendidikan, agar tidak menjadi ladang subur bagi masuknya ideologi kekerasan dan radikal. “Jaga keluarga kita, terutama anak-anak, dari pengaruh paham kekerasan. Terorisme sering masuk secara halus, melalui celah-celah yang tidak kita sadari,” tegasnya.

Momen paling mengharukan terjadi di akhir film, saat tokoh kecil Olivia digambarkan meninggal akibat ledakan bom yang ditanam di bawah panggung tempat ia bernyanyi. Tangis haru penonton pecah di dalam studio, mempertegas pesan kemanusiaan yang disampaikan film ini.

Disutradarai oleh Ferry Fei, film ini dianggap berhasil membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya deteksi dini serta peran aktif semua pihak—dari aparat hingga masyarakat sipil—dalam melawan terorisme dan menjaga kedamaian bangsa. “Semoga film ini menjadi bahan renungan dan penyemangat bagi kita semua untuk terus menjaga keamanan dan ketenangan di negeri ini,” tutup Kapolda Helmy.

Leave a Comment

Related Post