Harakatuna.com – Barbara D. Metcalf, seorang profesor emeritus sejarah di University of California yang begitu tertarik dengan sejarah Asia Selatan, terutama mengenai populasi Muslim India dan Pakistan di masa kolonial, menulis sebuah artikel khusus yang membahas satu dari gerakan pembaharu Islam di India, yaitu Jamaah Tabligh (JT). Di pendahuluan karyanya yang berjudul Living Hadith in The Tablighi Jama’at, Barbara mengungkapkan bahwa teks-teks yang dicetak, disebarluaskan, dan dibaca oleh para pengikut JT menjadi pembentuk organisasi dan pengalaman dari para jemaah.
Pernyataan tersebut cukup menggoda pembaca untuk bertanya: apa sebenarnya isi dari teks atau kitab-kitab tersebut? Apa motif di balik teks-teks yang diajarkan? Serta pertanyaan-pertanyaan lain yang menuntut jawaban dari fakta yang terjadi, bahwa gerakan JT berkembang hingga saat ini.
Sebagai tanggapan atas realitas tersebut, Barbara menawarkan argumen dasar, bahwa terdapat tiga proses yang bekerja dalam gerakan JT. Pertama, teks-teks yang dipegang kuat JT bekerja untuk kritik budaya yang otoritatif beserta generasi di dalamnya. Dan secara bersamaan, konsep kesadaran diri, baik tentang gaya beragama, kesetiaan, maupun perilaku keseharian, juga bekerja di situ.
Kedua, teks-teks tersebut diproduksi ketika reproduksi budaya saling bersaing untuk menyingkirkan alternatif. Dan dalam hal ini, pertunjukan lisan (pembacaan dengan suara keras), pertemuan-pertemuan dan sebagainya juga berjalan beriringan. Ketiga, sebagaimana disebutkan di atas, semua teks berkontribusi dalam membentuk kelompok JT: apa, dengan siapa, kapan membacanya adalah pola yang menunjukkan ‘siapa Anda’.
Barbara kemudian menyebut dua karya yang terbilang penting bagi JT yang kesemuanya ditulis oleh Maulana Muhammad Zakariya Khandalawi (1898-1982) atas perintah pendiri sekaligus pamannya sendiri, Maulana Muhammad Ilyas Khandalawi (W. 1944). Dua karya tersebut berjudul Tablighi Nisab atau dikenal dengan Fadha’il al-A’mal dan Hikayat al-Shahaba. Adapun narasi dalam risalah-risalah ini mencakup serangkai fadha’il atau keutamaan-keutamaan ibadah dan ritual yang berpahala.
Semua itu, berfokus kepada pelayanan yang tiada lain hanya terhadap Tuhan, seperti kumpulan do’a, pembacaan Al-Qur’an, formulasi pengulangan nama Tuhan, puasa, ziarah ke Makkah dll. Pada catatan kaki, Barbara juga menambahkan beberapa buku yang juga ditulis Zakariya, seperti “Enam Dasar”, “Seruan kepada Umat Islam”, dan “Kemerosotan Umat Islam dan Satu-satunya Obat”.
Namun, semua teks itu tidak hanya berorientasi untuk hal-hal “ibadat”, transmisi bimbingan Islam yang disebut dengan tabligh menjadi salah satu hal urgen dalam gerakan. Sebab, tabligh merupakan kewajiban paling mendasar dari ibadah.
Hadis Sebagai Kritik Budaya
Sesuai judul yang diusung Barbara D. Metcalf, yakni living hadis, kitab Hikayat Shahaba yang menjadi pegangan utama JT menggambarkan dengan jelas bagaimana gerakan ini ingin hidup berdasar tuntunan hadis dan menjadi hadis yang hidup itu sendiri. Dan itulah yang dimaksud Barbara dengan “double meaning” dalam studi living hadith.
Maka dari karya tersebut, terciptalah dua mode sikap: di satu sisi menggambarkan kembali bagaimana tradisi Islam di masa Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat, dan di sisi lain menggambarkan pelbagai penyimpangan yang terjadi di masa kini. Meskipun tidak secara eksplisit gerakan ini mengklaim kebenarannya dari yang lain -terbukti dengan tiadanya ketertarikan mereka dalam berdebat, akan tetapi kritik-kritik yang mereka lontarkan atau, setidaknya, perilaku mereka menjadi legitimasi akan hal tersebut.
Kritisisme kitab Hikayat Shahaba kemudian diungkapkan Barbara melalui beberapa bukti, di antaranya adalah pengutipan Al-Qur’an sebagai isyarat kritik pada halaman judul kitab: “Tidak diragukan lagi, bagi orang-orang yang berakal, kisah-kisah mereka adalah peringatan yang besar”. Dari ayat tersebut, kitab ini kemudian meletakkan subjudul “Kisah-kisah yang Nyata” sebagai penekanan otoritasnya.
Selanjutnya, sub-sub judul berikutnya mengharuskan pembaca untuk memperhatikan bahwa kisah-kisah ini dimaksudkan untuk semua orang. Penting juga dicatat bahwa ajaran yang disampaikan bukan melulu persoalan laku lahiriah saja, tapi juga laku bathiniah yang dikembangkan dari para sufi seperti ketabahan, takut kepada Allah, penyangkalan diri, kesalehan dan ketelitian, syaja’ah, simpati dan pengorbanan, kepahlawanan, semangat untuk pengetahuan dan pengabidan kepada Nabi.
Selain itu, Barbara juga mengutip beberapa teks yang ada dalam kitab tersebut yang mengilustrasikan betapa tema-tema yang diangkat dalam setiap kisah begitu kontras dengan kehidupan masa kini. Dan tentu otoritas standar hadis dianggap tidak dapat tunduk terhadap perubahan dan selalu berlaku di setiap zaman. Salah satu contoh perilaku masa lalu adalah hidup hemat, rendah hati, bekerja dengan tangan sendiri, pengorbanan atas semua perintah Ilahi dan menyebarkan iman. Ketika budaya masa lalu ini dipertemukan dengan budaya masa kini yang dianggap lebih mementingkan hal duniawi, maka jelas betapa “kemerosotan Islam” sangat tampak.
Penekanan yang lain tampak juga dalam leksikon yang sering diulang-ulang seperti Tabligh, hidayat, qaum dan jema’at. Hal ini, menurut Barbara tampak sebagai penjelasan terhadap siapa dan apa yang mereka lakukan. Leksikon tabligh yang kemudian dipadankan dengan amar ma’ruf nahi munkar juga menjadi visi dari mereka yang mengutamakan praktik daripada hanya membaca teks. Sebab menurut mereka, teks berada di posisi nomor dua setelah praktik.
Dalam praktiknya sendiri, tabligh atau dakwah yang mereka lakukan tidak dengan menyalahkan budaya yang buruk (meniru kisah Nabi Muhammad Saw ketika berdakwah di Tha’if) dan memilih untuk terus menerapkan laku baik khas “masa lalu”. Sebagaimana hukum Gresham bahwa, praktik yang baik akan sendirinya menyingkirkan praktik yang buruk. Tidak sebagaimana gerakan muslim radikal lainnya, JT tidak menaruh perhatian terlalu besar kepada bid’ah, melainkan hanya kepada kelalaian-kelalaian umat muslim modern.
Terlepas dari itu, apakah gerakan ini tidak pernah mendapat kritik atau pertentangan sama sekali?
Penyasaran “Akar Rumput” dengan Ideologi Non-Konfrontasi
Gerakan pembaharuan ini, sebagaimana gerakan Islam lain, tidak dapat terelakkan dari misi persaingan. Barbara mengungkapkan bahwa apa yang disebut dengan reproduksi budaya JT bukan hanya mencakup teks tertulis, melainkan juga pertunjukan individu dan kolektif yang menawarkan cita-cita budaya alternatif. Sebagai contoh, adalah persaingan mereka dengan kaum Syiah. Di tengah konflik Sunni-Syiah kala itu, JT menggaungkan narasi bahwa mencintai satu sahabat dan membenci yang lainnya adalah salah, meskipun pernyataan tersebut tidak secara eksplisit ditujukan kepada Syiah.
Kitab Fadhail, secara signifikan, bukanlah satu-satunya kitab yang dipegang para pengikut JT. Banyak kitab lain yang dikarang oleh penulis yang sama. Namun, gerakan ini tidak menuntut pengikutnya untuk membaca saja, lebih penting daripada itu adalah praktik. Penggunaan teks tersebut secara intens berada dalam ruang lingkup lisan sebagaimana pola yang umum di Asia Selatan kala itu. Tentu siapa pun pengikut dapat menjadi pengkhotbah dan menyebarkan apa yang mereka pahami dan lakukan. Mereka juga menolak model otoritas ulama atau satu tokoh pemimpin, di mana hal demikian sering kali terjadi monopoli.
Mengutip Kepel, Barbara ingin menunjukkan bahwa peran individu dalam gerakan JT menjadi prioritas utama. Sebelum shalat Magrib, mereka membaca kisah-kisah para sahabat Nabi yang saleh dan kemudian, setelah selesai, mereka makan bersama, mengingat dan menerapkan hadis yang mengodifikasi tatakrama makan Muhammad (Kepel, 1987: 202-5). JT juga memiliki bahasa yang sama, kumpulan metafora yang sama, dan cara penjelasan yang sama, sebagaimana dikutip dari seorang antropolog yang berbasis di Delhi, Muhammad Talib.
Penulis sendiri cukup tertarik dengan kesimpulan yang diberikan Barbara D. Metclaf yang sedikit bernada kritis. Ia menyatakan bahwa, meskipun teks-teks JT bukan turunan dari wacana kolonial atau klaim mereka sendiri yang tidak berafiliasi kepada partai politik dan cenderung mengabaikannya, tetapi mereka pada kenyataannya tetap berbicara tentang banyak isu dan konteks yang sama seperti halnya ideologi-ideologi gerakan lain pada masanya. Pertanyaan Maulana Ilyas, “Apa penyebab kemunduran umat Islam dan bagaimana umat Islam dapat kembali menjadi besar?” dengan sendirinya merupakan pertanyaan tentang kolonial abad ke-20.
Maka dalam hal ini, penulis melakukan pembacaan terhadap artikel Barbara yang lain berjudul, ‘Traditionalist’ Islamic Activism: Deoband, Tablighis, and Talibs. Dalam artikel ini, JT disebutkan sebagai cabang dari Deoband. Mereka menginginkan pemindahan penyebaran Islam dari madrasah, jantung dari kegiatan Deobandi, untuk mengundang orang awam untuk berbagi kewajiban dalam mengajak orang lain dan mengamalkan Islam. Gerakan ini juga dimulai dengan mencari cara untuk menjangkau para petani yang merupakan muslim nominal yang menjadi sasaran konvensi Hindu (Barbara, 2001).
Dari tiga gerakan yang dikaji Barbara dalam artikel tersebut, semuanya mempunyai ikatan kuat. Pada kenyataannya mereka memainkan peran yang sebagian besar moderat dengan berpartisipasi atau menerima rezim-rezim politik yang ada. Beberapa pengamat juga mengatakan bahwa sebenarnya gerakan ini sebenarnya bersifat politik terselubung. Namun, JT tentu berbeda dengan dua kelompok di sini.
Mereka tidak melibatkan diri di wilayah politik. JT juga merupakan gerakan modern yang ingin menciptakan sebuah masyarakat transnasional yang bersifat sukarela dan terpisah dari negara. Kepedulian terhadap keselamatan individu, penekanannya kepada pilihan individu, pilihan yang tidak lazim dalam masyarakat muslim, namun dipandang sebagai pertobatan yang sesungguhnya.
Kajian ini menjadi gambaran mudah bagaimana konsep living diterapkan. JT sebagai objek penelitian begitu jelas menggambarkan bagaimana sebuah teks, dalam ini hadis, hidup di antara pengikut JT. Sebagaimana yang mereka yakini bahwa, teks yang tidak diamalkan akan menjadi beku dan mati.









Leave a Comment