I’tikaf dari Media Sosial: Mampukah Kita Benar-Benar Menyepi?

Harakatuna

17/03/2026

4
Min Read
I’tikaf dari Media Sosial Mampukah Kita Benar-Benar Menyepi

On This Post

Harakatuna.com – Istilah i’tikaf sudah begitu familiar di kalangan masyarakat Muslim. Setiap kali bulan Ramadan tiba, kata ini kembali sering terdengar, terutama saat memasuki sepuluh malam terakhir. Mayoritas umat Islam memanfaatkan momen tersebut untuk memperbanyak ibadah semaksimal mungkin guna mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Jika kita mengamati fenomena saat ini, cukup banyak orang yang berniat fokus beri’tikaf, tetapi tetap membawa ponsel di saku. Alih-alih benar-benar menyepi, perhatian justru masih terdistraksi oleh notifikasi, konten viral, dan percakapan digital di media sosial.

Hakikat I’tikaf dalam Islam

I’tikaf adalah kegiatan berdiam diri atau menetap di dalam masjid dengan niat bertakarrub kepada Allah Swt. Ibadah ini merupakan aktivitas spiritual yang dimaksudkan sebagai bentuk penyerahan diri sekaligus meninggalkan urusan duniawi. Hukum i’tikaf adalah sunah, kecuali bagi orang yang bernazar untuk melaksanakannya, maka hukumnya menjadi wajib (Muna et al., 2023).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Artinya: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Nabi saw. biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan hingga beliau wafat. Kemudian, istri-istri beliau melanjutkan i’tikaf setelah beliau wafat. (HR. Bukhari No. 2026 dan Muslim No. 1172)

Hadis tersebut menegaskan bahwa Rasulullah saw. secara konsisten melaksanakan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan untuk menggapai Lailatul Qadar. Setelah beliau wafat, para istri beliau pun melanjutkan amalan tersebut. Dengan mengisolasi diri sementara di masjid, seseorang dapat merefleksikan diri secara lebih mendalam dan meningkatkan kualitas ibadah.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berinteraksi dengan orang lain dan tanpa sadar berusaha memenuhi ekspektasi mereka hingga melupakan diri sendiri. Oleh karena itu, berdiam diri di masjid dapat membantu menata ulang jiwa agar menjadi lebih tenang dan positif. Inti dari i’tikaf menurut para ulama adalah mengosongkan hati dari distraksi duniawi agar lebih optimal dalam beribadah, berdoa, dan bermuhasabah.

Namun, meskipun seseorang telah membatasi interaksi sosial secara langsung, bagaimana jika saat i’tikaf ia masih bergantung pada interaksi di media sosial?

Media Sosial sebagai Distraksi Baru

Sebelum internet berkembang pesat, gangguan mungkin datang dari keramaian pasar, pekerjaan, atau percakapan manusia. Kini, layar kecil di tangan kita menjadi sumber distraksi baru. Dari bangun tidur hingga kembali tidur, banyak orang sulit terpisah dari ponsel.

Saat makan, belajar, bahkan berkumpul bersama teman, perhatian sering kali tertuju pada layar. Notifikasi, pesan, dan beragam konten media sosial yang tiada habisnya tanpa disadari terus menarik perhatian. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk berzikir, tadarus Al-Qur’an, berdoa, dan bermuhasabah justru habis untuk menggulir linimasa.

Kehadiran media sosial dalam i’tikaf menjadi pengingat bahwa menyepi tidak hanya berarti berada di masjid, tetapi juga berusaha melepaskan diri dari berbagai gangguan yang membuat hati sulit fokus kepada Allah Swt.

Di era digital ini, kita perlu melatih diri untuk tidak terus-menerus membuka ponsel setiap saat. Bayangkan jika kita sudah berada di masjid dan tidak berbicara dengan orang lain, tetapi jari-jari tetap sibuk membalas pesan atau menggulir video. Hal tersebut tentu mengganggu kekhusyukan dalam beribadah.

Pelan-Pelan Belajar Menyepi Secara Batin

Tujuan menyepi adalah menata kembali relasi hati dengan dunia. Menyepi tidak selalu berarti meninggalkan seluruh aktivitas duniawi, tetapi lebih kepada mengelola keterikatan terhadapnya.

Dalam hal ini, i’tikaf menjadi sarana untuk melatih diri agar tidak selalu merespons setiap notifikasi atau mengikuti arus percakapan di media sosial. Jika memungkinkan, kita dapat mengatur manajemen waktu penggunaan ponsel secara bijak, bahkan menghindari penggunaannya selama i’tikaf.

Dengan demikian, pikiran dan batin menjadi lebih tertata serta tidak terus-menerus teralihkan oleh notifikasi gawai.

Di penghujung Ramadan, i’tikaf seharusnya menjadi ruang bagi jiwa untuk kembali tenang dan mendekat kepada Ilahi. Pertanyaannya bukan hanya apakah kita berada di masjid, tetapi apakah hati kita benar-benar hadir di hadapan-Nya, atau masih terseret oleh hiruk-pikuk dunia maya.

Referensi
Muna, Naelul, Didik Himmawan, & Ibnu Rusydi. (2023). I’tikaf sebagai Meditasi Islam. Risalah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, 9(1), 317–326.

Oleh: Muna Khansa Mufidah (Alumnus Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Salatiga. Guru di Planet Education Klaten, Article writer di Kumparan, Kompasiana, dan Geotimes).

Leave a Comment

Related Post