Israel Serbu Kapal Kemanusiaan di Laut Internasional, Greta Thunberg dan Anggota Parlemen Eropa Ditahan

Ahmad Fairozi, M.Hum.

10/06/2025

3
Min Read
Israel Serbu Kapal Kemanusiaan di Laut Internasional, Greta Thunberg dan Anggota Parlemen Eropa Ditahan

Harakatuna.com. Gaza – Pasukan komando Israel dilaporkan menyerbu dan menyita paksa kapal bantuan kemanusiaan Madleen di perairan internasional pada Senin (9/6/2025), saat kapal tersebut tengah berlayar menuju Jalur Gaza untuk mengirimkan bantuan vital kepada warga Palestina yang terjebak blokade.

Aksi militer ini memicu kecaman luas dan dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Kapal yang membawa 12 aktivis kemanusiaan, termasuk aktivis iklim dunia Greta Thunberg (Swedia) dan anggota Parlemen Eropa Rima Hassan (Prancis), dipaksa berbelok ke Pelabuhan Ashdod, Israel. Seluruh penumpang dilaporkan ditahan.

Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengecam keras insiden tersebut, menyebutnya sebagai bentuk “terorisme negara yang terstruktur” dan “serangan terhadap nurani kemanusiaan.”

“Kami mengecam sekeras-kerasnya pembajakan ilegal ini, penyitaan kapal Madleen di perairan internasional, serta penahanan aktivis kemanusiaan yang hanya menjalankan misi damai,” tegas Hamas dalam pernyataan resminya. “Ini adalah kejahatan kemanusiaan sekaligus upaya rezim Zionis untuk memutus solidaritas global dengan rakyat Palestina.”

Misi Kemanusiaan Madleen: Bantuan dan Harapan untuk Gaza

Kapal Madleen, yang diorganisir oleh Freedom Flotilla Coalition, berangkat dari Pelabuhan Catania, Sisilia, pada 1 Juni 2025. Kapal ini membawa berbagai bantuan simbolis seperti susu bubuk, tepung, alat desalinasi air, prostetik untuk anak-anak korban perang, serta obat-obatan penting.

Nama Madleen diambil dari Madeleine Kullab, nelayan perempuan pertama Gaza, yang menjadi simbol ketangguhan perempuan Palestina dalam menghadapi blokade dan penjajahan.

Sebelumnya, pada Mei 2025, kapal bantuan lain bernama Al Dhamir juga menjadi sasaran serangan drone Israel di dekat perairan Malta saat menjalankan misi serupa. Juru bicara Madleen, Rashad Al Baz, mengungkapkan bahwa kapal sempat diserang drone sebelum akhirnya dikepung kapal perang Israel.

“Meski diserang secara bertubi-tubi, kapal tetap mencoba menembus blokade hingga akhirnya dihadang secara brutal dan disita,” kata Al Baz kepada saluran berita Alalam TV.

Pelapor Khusus PBB untuk Situasi HAM di Wilayah Palestina, Francesca Albanese, yang sempat berkomunikasi dengan kru Madleen sebelum ditangkap, mengecam keras insiden tersebut dan menyerukan pembebasan segera para aktivis. “Membuka blokade Gaza adalah kewajiban hukum dan moral dunia,” tegasnya dalam unggahan di platform X.

Dalam video yang dirilis Freedom Flotilla Coalition, Greta Thunberg menyampaikan bahwa mereka telah menjadi korban penculikan oleh otoritas Israel. “Ini adalah penculikan. Saya meminta pemerintah Swedia dan komunitas internasional untuk segera bertindak. Ini bukan hanya tentang kami, tapi tentang kemanusiaan yang dibungkam,” kata Thunberg dalam pernyataan emosionalnya.

Pemerintah Israel mengklaim bahwa kapal Madleen adalah “kapal provokasi” yang berupaya melanggar blokade laut Gaza, yang telah diberlakukan selama bertahun-tahun. Namun, sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional mengecam tindakan Israel sebagai pelanggaran terhadap Konvensi Hukum Laut (UNCLOS) dan prinsip perlindungan terhadap misi kemanusiaan.

Hamas menyatakan bahwa insiden ini justru akan memperkuat solidaritas dunia terhadap rakyat Palestina dan membuka mata masyarakat internasional terhadap kekejaman rezim Israel. “Upaya membungkam suara kebenaran akan gagal. Aksi brutal ini hanya akan memperkuat solidaritas global dan memperlihatkan wajah asli rezim apartheid Zionis,” tegas Hamas dalam pernyataannya.

Leave a Comment

Related Post