Islam Wasathiyah Sebagai Pilar Wawasan Moderat dan Kontra-Ekstremisme

Layyin Lala

26/09/2025

5
Min Read
Islam Wasathiyah

On This Post

Harakatuna.com Wasathiyah (وسطية) berasal dari kata wasatha (وسط) yang memiliki beberapa arti. Prof. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Wasathiyah menuliskan bahwa dalam Al-Mu’jam al-Wasith yang dikemukakan oleh Lembaga Bahasa Arab Mesir, wasath adalah apa yang terdapat di antara kedua ujungnya dan ia bagian darinya yang juga berarti pertengahan dari segala sesuatu. Kata wasath juga memiliki arti yang adil dan baik (hal tersebut disifati tunggal atau bukan tunggal).

Dalam Al-Qur’an sendiri, kata wasath terdapat pada salah satu ayat di surah Al-Baqarah [2]: 143, yang berbunyi:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًاۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Artinya, “Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menetapkan kiblat (Baitulmaqdis) yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui (dalam kenyataan) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

Kalimat وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا dijelaskan oleh Prof. Quraish Shihab sebagai tolok ukur uraian mengenai “moderasi beragama” dalam pandangan Islam, sehingga moderasi tersebut dinamakan wasathiyah, meskipun ada nama-nama lain yang juga dari Al-Qur’an memiliki makna yang sama. Istilah-istilah selain wasathiyah ada as-sadad (السداد), al-qashd (القصد), dan istiqamah (استقامة).

Mengapa Wasathiyah?

Ketika kita menengok pada awal mula penciptaan alam semesta, terdapat kisah agung tentang bagaimana Allah menghadirkan langit dan bumi dari sebuah ledakan dahsyat. Dari peristiwa besar itu, pecahan-pecahan raksasa menyebar dan beredar dengan teratur. Masing-masing bagian bergerak pada jalurnya tanpa saling menabrak.

Peredaran itu karena adanya pengaturan yang sangat teliti, serasi, dan seimbang. Dari jutaan pecahan yang terbentuk, bumi hanyalah satu titik kecil, seakan setetes air di tengah samudera ciptaan Allah. Namun, dari setetes itulah kehidupan kita berlangsung.

Jika kita memperhatikan bumi ini, kita akan menemukan betapa banyak keteraturan yang menopang kehidupan. Gunung berdiri kokoh menjaga kestabilan tanah, laut menyimpan air yang terus berputar melalui siklus hujan, tumbuhan tumbuh memberikan oksigen dan makanan, hewan hidup saling melengkapi rantai makanan, dan manusia hadir sebagai khalifah yang diberi akal untuk menjaga semua itu. Ekosistem terbentuk dengan rancangan yang penuh keseimbangan.

Tidak berhenti di sana, keteraturan juga terlihat pada perjalanan bumi, bulan, dan matahari. Ketiganya beredar dalam garis edar masing-masing, membentuk pergantian siang dan malam. Siang membawa cahaya yang memungkinkan kehidupan tumbuh dan berkembang, malam menghadirkan ketenangan bagi makhluk untuk beristirahat. Dari perputaran tersebut tercipta irama kehidupan yang serasi, sebuah tanda betapa keseimbangan adalah kunci keberlangsungan alam.

Semua keteraturan tersebut menunjukkan bahwa Allah menciptakan alam dengan penuh keseimbangan agar manusia dapat mengambil pelajaran. Setiap ciptaan memiliki keterkaitan satu sama lain. Tumbuhan membutuhkan air dan cahaya, hewan bergantung pada tumbuhan, manusia memanfaatkan keduanya, dan semua itu berjalan dalam lingkaran saling memberi manfaat. Tujuan akhirnya adalah kemaslahatan bersama, karena tidak ada ciptaan yang berdiri sendiri.

Namun, keseimbangan itu tidak selamanya terjaga. Ketika manusia berbuat melampaui batas, merusak lingkungan, menebang hutan tanpa kendali, mencemari udara dan air, atau mengganggu kelestarian hewan, maka yang rusak bukan hanya satu bagian. Seluruh sistem akan terganggu. Banjir, kekeringan, tanah longsor, dan hilangnya keanekaragaman hayati hanyalah sebagian dari akibat pelanggaran keseimbangan itu. Semua ini menjadi pengingat bahwa ulah manusia dapat merusak tatanan yang telah diciptakan Allah dengan penuh ketelitian.

Di sinilah jawaban tentang mengapa wasathiyah atau moderasi menjadi penting. Moderasi adalah cara hidup yang menjaga keseimbangan sebagaimana alam diciptakan. Alam semesta tidak akan memberi manfaat bagi makhluk hidup tanpa keseimbangan. Bahkan, tanpa keseimbangan itu, alam akan menuju kehancuran.

Penerapan Wasathiyah

Dalam penerapan wasathiyah, Prof. Quraish Shihab menjelaskan perlu tiga pilar untuk membangun moderasi beragama. Pertama, dengan memiliki pengetahuan dan pemahaman yang benar. Bagaimana kita dapat mengetahui wasathiyah yang dikehendaki agama jika kita tidak memiliki pengetahuan agama? Bagaimana wasathiyah terwujud jika kita tidak mengetahui tentang apa yang dibenarkan dan dilarang?

Kedua, dengan emosi yang seimbang dan terkendali. Melalui pengendalian emosi, kita dapat terhindar dari menerapkan ajaran agama secara berlebihan. Emosi yang menggebu dapat menjadikan seseorang bersemangat melebihi “semangat Tuhan” sehingga memaksa diri atau orang lain melakukan hal-hal yang tidak diperkenankan-Nya.

Ketiga, dengan kewaspadaan dan kehati-hatian yang berkesinambung. Melalui hal tersebut, seseorang akan selalu mengecek, siapa tahu pengetahuannya telah kadaluarsa. Misalkan, dahulu persoalan A terlarang, tetapi kini karena ‘illat (sebab) pelarangannya sudah tidak ada lagi maka ia diperbolehkan. Kemudian, kewaspadaan juga berkaitan dengan situasi yang sedang dihadapi, karena itu dalam tuntunan agama ada istilah adab al-waqt, yakni kemampuan memilih apa yang terbaik dilakukan pada setiap waktu dan situasi.

Sebagai kesimpulan, melalui wasathiyah, ajaran Islam terpelihara tetapi pada saat pemeliharaannya ia datang membawa rahmat lagi sesuai dengan jati diri manusia dan perkembangan masyarakat. Islam hadir di tengah masyarakat plural untuk berdialog dengan berprinsipkan niali-nilai kemanusiaan, keadilan, dan syura tanpa memaksa yang menolaknya untuk mengikutinya.

Wasathiyah menjadi sistem yang menuntut pemahaman agama dan pengamalannya, dan menuntut pengamalnya menjauhi ekstremisme terhadap diri dan pihak lain, sebagaimana menuntutnya juga menghindari sikap penggampangan dalam segala bidang kehidupan.

Referensi

Shihab, M.Q. (2019). Wasathiyah (Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama). Tangerang: PT. Lentera Hati.

Leave a Comment

Related Post