Islam Iran: Membongkar Kotak Pandora Kemunafikan Wahabi dan Kebejatan Teroris

Ahmad Khairi

27/06/2025

7
Min Read
Islam Iran

On This Post

Harakatuna.com – Apa yang ada di pikiran Anda, ketika kelompok yang selalu mengklaim diri paling sunnah, bermanhaj salaf, paling dekat dengan Al-Qur’an dan hadis, dan paling lurus tauhidnya, ternyata berkomplot dengan Zionis? Bagaimana perasaan Anda ketika melihat kelompok yang selalu ‘ngoceh’ soal negara Islam, Daulah, dan khilafah, justru menjadi koalisi orang kafir ketika mendapatkan kursi kekuasaan?

Demi Tuhan, tidak ada yang lebih miris dari itu. Rasa-rasanya, Islam dikhianati Muslim sendiri, dan tengah dirusak oleh orang Arab itu sendiri. Bagaimana tidak, baru-baru ini, Zionis memajang gambar di papan billboard bertajuk “The Abraham Alliance; It’s Time for a New Middle East” di sejumlah titik di Tel Aviv. Abraham yang dimaksud yaitu Abraham Accords, MoU normalisasi negara-negara Arab dengan Zionis Israel.

Di billboard itu, terpampang sejumlah foto pemimpin Arab, yaitu: Abdullah II bin Al-Hussein (Raja Yordania), Ahmed Al Sharaa (Presiden Suriah), Mohammed bin Zayed Al Nahyan (Presiden Uni Emirat Arab, Emir Abu Dhabi), Mahmoud Abbas (Presiden Otoritas Palestina), Abdel Fattah el-Sisi (Presiden Mesir), Mohammed bin Salman (Putra Mahkota Arab Saudi), Donald Trump (Presiden AS), Benjamin Netanyahu (PM Israel), Mohammed bin Rashid Al Maktoum (Wapres UEA, Emir Dubai), Haitham bin Tariq (Sultan Oman), Barham Salih (Mantan Presiden Irak), dan Khalid bin Salman (Menhan Arab Saudi, adik MBS).

Arab Saudi, tempat kiblat Muslim berada, memang dikuasai Wahabi. Presiden Suriah yang baru, Ahmed Al Sharaa, adalah eks-teroris dari kelompok HTS, sempalan Jabhat al-Nusrah—Al-Qaeda. Artinya, secara garis besar, billboard tersebut merupakan kongkalikong pengkhianatan oleh ‘kelompok’ yang selama ini menunggangi Islam sebagai kendaraan politinya. ‘Kotak Pandora’ itu berisi watak asli negara-negara Arab, Wahabi, dan teroris.

Kendati demikian, di tengah kesemrawutan tersebut, satu poros perlawanan tetap berdiri tegak melawan dominasi Zionis Israel: Islam Iran. Namun ironisnya, perlawanannya selalu dicurigai dan dilabeli sesat oleh media-media yang pro-Arab Teluk. Iran, yang dalam banyak panggung geopolitik internasional menantang hegemoni Zionis Israel dan AS, justru dituduh musuh umat Islam oleh kelompok Wahabi dan kroni-kroninya.

Di situlah letak ironi besar dunia Islam: musuh sejati umat tertukar dengan saudara yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa-bangsa Muslim. Adalah fakta, bahwa, perang Iran melawan Israel adalah perang panjang tentang benturan dua poros kekuatan di Timur Tengah: Iran yang konsisten menentang okupasi Palestina dan ekspansi Zionis, berhadapan dengan Israel yang sejak lama menjadi ujung tombak imperialisme Barat di kawasan.

Sementara sebagian besar negara Arab memilih berdamai, atau membisu dalam menghadapi kejahatan Zionis, Iran secara terbuka membiayai dan mempersenjatai kelompok perlawanan: Hizbullah dan Hamas. Konfrontasi tersebut merupakan bentuk perlawanan yang langka di era ketika banyak rezim Arab justru berlari ke pangkuan normalisasi dengan Zionis Israel. Apalagi, Wahabi terus tebarkan propaganda pro-Zionis, termasuk di Indonesia.

Demonisasi terhadap Islam Iran dan Syiah terus digemakan oleh pusat-pusat dakwah yang berada di bawah bayang-bayang Wahabi. Pendidikan, khutbah, dan medsos, propaganda stigmatisasi Syiah sebagai musuh Islam semakin masif Wahabi lakukan. Padahal, secara faktual, Iran paling vokal menentang eksistensi Israel dan mendukung Palestina dengan sumber daya, bukan dengan slogan kutukan kosong seperti yang Arab Saudi lakukan.

Jadi, siapa sebenarnya musuh umat Islam itu? Iran yang melawan Israel dengan risiko embargo dan serangan militer, atau negara-negara yang mengaku benteng Sunni tetapi berpelukan dengan Zionis? Ironis sekali, persatuan umat yang semestinya terbangun atas dasar melawan kezaliman dan kebatilan, justru hancur oleh narasi sektarian yang dibentuk oleh kepentingan politik dan hipokrisi Wahabi dan Muslim Arab itu sendiri.

Untungnya, Muslim Iran telah membuka Kotak Pandora tersebut. Dalam konteks ini, umat Islam perlu membongkar ulang Kotak Pandora yang selama ini sengaja ditutup rapat oleh propaganda Wahabi dan para penjaga status quo Timur Tengah, agar tidak terus terjebak dalam permusuhan yang salah alamat dan tidak lagi memihak pada musuh yang sesungguhnya. Wahabilah musuh umat yang sebenarnya. Mereka pengkhianat Islam.

Wahabi dan Propaganda Stigmatisasi Syiah

Di Timur Tengah ada proyek besar yang sistematis dan perlu diketahui seluruh Muslim: upaya Wahabi menstigmatisasi Syiah sebagai musuh utama umat. Sejak kemunculannya pada abad ke-18, Wahabi membawa misi membumihanguskan segala bentuk keberagaman Islam. Wahabi sekaligus jadi alat politik Arab Saudi untuk mengukuhkan hegemoninya di Timur Tengah, dengan menjadikan Syiah, terutama Iran, sebagai kambing hitam.

Propaganda Wahabi secara masif menanamkan narasi bahwa Syiah adalah pengkhianat Islam, penyembah Ali bin Abi Thalib, bahkan dianggap lebih berbahaya daripada orang kafir—seperti Israel dan AS. Melalui masjid, sekolah, lembaga dakwah, dan media yang dibiayai petro-dollar Saudi, stigmatisasi Syiah menembus batas negara dan masuk ke relung-relung kesadaran umat Muslim di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Ceramah kiai-kiai lokal pun, hari-hari ini, banyak terperosok propaganda Wahabi tersebut. Ada kesalahkaprahan serius hingga ke pesantren-pesantren Sunni, yaitu menganggap Syiah sebagai kafir dan lebih berbahaya dari Zionisme. Narasinya sukses membelokkan peta musuh umat: Zionis Israel, penjajah dan penindas Sunni Palestina, perlahan disamarkan, sementara Iran dan Syiah dikristalisasi sebagai ancaman laten. Munafik, bukan?

Padahal, bila ditelisik dari fakta geopolitik, siapa yang konsisten berdiri melawan Zionis Israel? Jelas bukan Arab Saudi, bukan pula Yordania. Iran, secara terang, memproklamirkan Zionis Israel sebagai entitas ilegal yang harus dimusnahkan. Iran juga membiayai dan mempersenjatai umat. Iran mengambil risiko besar: menghadapi sanksi internasional, embargo ekonomi, bahkan serangan militer Zionis yang biadab.

Abraham Accords, alias normalisasi hubungan Israel dengan UEA, Bahrain, Sudan, dan Maroko kemudian jadi puncak kemunafikan yang disembunyikan. Negara-negara yang dibesarkan di rahim Wahabi dan kelompok teror berbaris dengan Israel dalam aliansi keamanan regional untuk menghadapi Iran. Mereka tidak malu-malu berdagang, berbagi teknologi, bahkan bekerja sama militer dengan Zionis—berkomplot dengan musuh.

Sementara propaganda Wahabi terus berputar, mencitra-burukkan Iran sebagai ancaman, umat Islam justru kehilangan kesadaran kritis tentang siapa sebenarnya yang berdiri membela umat dan siapa yang menjual kehormatan umat kepada orang kafir. Selain Wahabi dan teroris, belum lama ini, ideolog HTI Felix Siauw juga bersikap yang sama: menegasikan perjuangan Iran dan pada saat yang sama termakan propaganda Wahabi.

Propaganda Wahabi tentang Syiah merupakan plot kolonialisme: Divide et Impera (pecah-belah dan kuasai). Kelompok Sunni berada di ambang propaganda tersebut sehingga di hadapan Zionis, orang Sunni tidak lebih dari buih yang tidak ada artinya. Justru, negara-negara Wahabi dan para ulamanya jadi buzzer anti-Syiah, tanpa memberikan kontribusi nyata atas Palestina. Arab dan Wahabi, juga kelompok teror, adalah aib bagi Islam.

Arab, Wahabi, dan Aib Bangsa Munafik

Di balik sorban para penguasa Teluk dan indahnya menara-menara masjid yang dibiayai dengan kekayaan minyak, tersembunyi aib besar yang ditutup rapat oleh hipokrisi politik Arab: kongkalikong dengan musuh. Mereka mengafirkan Syiah, menuduh Iran sebagai ancaman, tetapi membebek pada Zionis. Adalah naif bahwa di Indonesia, Wahabi terus dipuji sebagai manhaj salaf, bertauhid murni, tanpa tahu kebenarannya yang memalukan.

Sejak lama, Wahabi telah memproduksi narasi bahwa Iran dan Syiah adalah perusak akidah dan musuh dalam selimut. Tujuannya, untuk menutupi kebusukan politik Arab Saudi dan negara-negara Teluk yang secara diam-diam membuka pintu bagi Zionis. Sekali lagi, Islam Iran dijadikan kambing hitam. Narasi sektarian dan kemunafikan diperalat untuk menjadikan Iran alasan mereka bersekutu dengan Israel.

Bukankah Arab Saudi mengutuk Israel saat menyerang Iran beberapa hari lalu? Iya, benar, namun itu akting belaka demi menutupi aibnya. Narasi yang selama ini mereka dengungkan tentang solidaritas Palestina dan musuh bersama Zionis tidak lebih dari topeng belaka, dan Islam Iran telah berhasil membuka Kotak Pandora itu, menyadarkan umat betapa buruknya para penganut Wahabi di Arab dan bejatnya mereka mengkhianati Islam.

Lebih ironis lagi, mereka terlibat agresi brutal di Yaman, membantu Zionis Israel dan AS dengan membombardir warga sipil, juga menciptakan krisis kemanusiaan. Mereka membiarkan rakyat Palestina merana di Jalur Gaza, tetapi sibuk menghabiskan miliaran dolar untuk membeli sistem pertahanan dari Israel dan AS. Mereka mengangkat bendera tauhid dalam konferensi internasional, tetapi di lapangan, berbaris dengan para penjajah.

Itulah poinnya. Aib terbesar bangsa Arab ialah kegagalan politik dan penghianatan terhadap spirit persatuan umat. Mereka menukar Palestina dengan investasi dan teknologi Israel. Mereka lebih takut pada Iran daripada pada kejahatan nyata Zionis.

Dan hari ini, umat Islam yang tertipu propaganda Wahabi dihadapkan pada pilihan pahit: terus memusuhi sesama Muslim berdasarkan narasi sektarian yang dibangun Wahabi, atau membongkar kemunafikan Arab yang sudah lama berkhianat melalui corong Wahabisme. Sikap Islam Iran dengan Ali Khamenei sebagai pimpinan tertingginya telah berhasil membuka Kotak Pandora kemunafikan Wahabi Arab itu. Jadi, siapa yang pantas disebut pengkhianat?

Inilah kenyataan getir yang dihadapi Muslim hari ini. Setelah konflik Iran, harusnya umat Islam di tanah air terbuka mata hatinya, sadar bahwa musuh Muslim sebenarnya adalah Wahabi dan para teroris seperti Al-Jaulani—yang kini jadi Ahmed Al Sharaa dan jadi kacung Zionis. Umat Islam di Indonesia harus cerdas dan tidak dibodohi Wahabi. Sebab, Wahabi ibarat belatung di tubuh Islam, dan seluruh Muslim harus melawan dan membumihanguskannya!

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post