Islam Bukan Negara dan Juga Individu Semata

Muhammad Helmi Nurrohman

23/07/2024

5
Min Read
Islam negara

On This Post

Harakatuna.com – Islam sebagai agama terbesar di dunia dengan 1,9 Milliar Muslim berdasarkan World Population Review, sering kali membuat para pemeluknya mencari figur atau entitas yang bisa mewakili Islam di zaman modern. Ada yang mengidentifikasi Islam dengan negara-negara di Timur Tengah, ada yang melihatnya melalui ulama-ulama Timur Tengah. Sebagian lagi melihat Islam melalui ulama dari pondok pesantren lokal, organisasi Islam, atau bahkan melalui figur anak kiai: gus dan ning.

Banyak orang berlomba-lomba mencari sosok untuk mengaitkan “Islam” dengan gambaran yang mereka anggap sesuai oleh umat Muslim. Jadi, apa dan siapa sebenarnya Islam itu?

Islam Bukanlah Negara

Arab Saudi dan Iran, salah satu contoh negara Islam yang sedang mengalami perang proksi dengan memihak negara-negara tetangga yang sedang berperang, yang kita ketahui Arab Saudi adalah basis kekuatan Sunni dan Iran adalah basis kekuatan Iran. Melansir dari Al Jazeera, konflik ini telah berlangsung bertahun-tahun dan mencakup beberapa perselisihan seperti Arab Spring dan Perang Suriah yang dimulai pada tahun 2011, pada tahun 2015 Perang Yaman, serta tuduhan Iran terkait penyelenggaraan ibadah haji. Pada tahun 2023, Iran dan Arab Saudi mulai mengadakan pembicaraan untuk memulihkan hubungan mereka.

Peperangan ini sangat disayangkan, terutama karena saat ini peradaban Islam tertinggal dibandingkan peradaban Eropa yang telah mencapai berbagai kemajuan. Ironisnya, Arab Saudi, tempat Nabi Muhammad Saw. pertama kali menyebarkan Islam hingga menjadi agama terbesar kedua setelah Kristen, justru mengalami konflik sesama umat Muslim. Imam Bukhari dan Muslim telah menjelaskan dalam sebuah hadis betapa besar dosa membunuh sesama Muslim yang berbunyi:

إِذَاالْتقَى الْمُسْلِمَانِ بسيْفيْهِمَا فالْقاتِلُ والمقْتُولُ في النَّارِقُلْتُيَا رَسُول اللَّهِ، هَذَا الْقَاتِلُ فمَا بَالُالْمقْتُولِ؟ قَال  إِنَّهُ كَانَ حَرِيصاً عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

Apabila dua Muslim bertemu, dengan membawa pedang (bertengkar hingga salah satunya terbunuh), maka orang yang membunuh dan yang dibunuh masuk neraka”, Aku (Nufail) berkata; “Yaa Rasulullah, si pembunuh (layak masuk neraka), maka bagaimana dengan orang yang dibunuh (mengapa juga masuk neraka)?”, Rasulullah Saw. menjawab; “Karena ia juga ingin membunuh (berniat atau sengaja membunuh saat bertengkar) temannya.”

Tidak hanya itu, data yang diberikan oleh Arab Barometer bahwa 46 persen pemuda Tunisia cenderung tidak religius, mirip dengan pemuda di AS. Di negara lain, jumlah yang tidak religius juga meningkat, mencapai 18 persen dari 11 persen pada 2013. Tunisia menonjol, meski mayoritas pemuda di MENA (Middle East-North Africa) masih religius. Jika tren berlanjut, MENA bisa menjadi lebih sekuler dalam beberapa dekade mendatang.

Bahkan kepecayaan pada para pemimpin agama di kawasan MENA menurun ke angka 50 persen percaya pada tingkatan “sangat” dan “sedang”. Pada tahun lalu, kepercayaan pada pemimpin agama ini turun mencapai angka 40 persen. Sedangkan di Indonesia tingkat kepercayaan pada pemuka agama sebesar 50,6 persen berdasarkan data dari Survei Literasi Digital 2020.

Di atas adalah beberapa contoh negara-negara di Timur Tengah, wilayah tempat Islam pertama kali berkembang dan menyebar, serta lokasi berdirinya zaman keemasan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah dan Ottoman. Oleh karena itu, negara dengan mayoritas Muslim tidak selalu bisa mewakili syariat Islam sepenuhnya.

Bahkan, bukan tidak mungkin negara dengan minoritas Muslim justru bisa lebih baik dalam menerapkan syariat Islam dibandingkan negara-negara mayoritas Muslim. Oleh karena itu, Islam tidak bisa diidentikkan dengan satu negara tertentu.

Islam Bukanlah Pribadi Semata

Indonesia sejak zaman dahulu sudah menjadi titik jalur perdagangan rempah yang mana hasil dari jalur tersebut menjadikan Indonesia mendapatkan berbagai macam orang berasal dari Arab, China, dan India. Di situlah latar belakang munculnya berbagai teori masuknya Islam ke Nusantara dan juga menghasilkan beragam ulama dengan kekhasannya masing-masing.

Ulama dan pemuka agama menjadi tonggak utama dari sebuah agama. Kita boleh menjadikan mereka sebagai suri teladan, tetapi kita harus menghindari fanatik buta. Fanatik buta dapat menimbulkan dampak yang sangat berbahaya. Data dari Komnas Perempuan menunjukkan bahwa pesantren atau pendidikan berbasis agama Islam menempati urutan kedua dalam kasus kekerasan seksual dan diskriminasi. Adapun modus yang digunakan termasuk ancaman bahwa ilmu akan hilang, akan terkena azab, tidak akan lulus, dan hapalan akan hilang.

Maka dari itu Allah Swt. berfirman QS. Al-Ahzab ayat 21:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Dengan ayat tersebut, Allah Swt. memerintahkan kita untuk menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan, termasuk di medan perang. Rasulullah adalah contoh yang sempurna dalam ucapan dan perbuatan, baik di masa damai maupun perang. Namun, keteladanan ini hanya relevan bagi mereka yang mengharap rahmat Allah, tidak mengharapkan dunia, dan menantikan hari kiamat sebagai hari pembalasan.

Dengan begitu, kita bisa mencontoh Nabi Muhammad dari para ulama, baik dari Timur Tengah maupun Indonesia. Ulama merupakan pewaris para nabi yang menyampaikan ajaran Islam dan memandu umat. Beragam ulama tersebut menawarkan berbagai majelis ilmu dengan pendekatan yang berbeda dalam memahami dan mengamalkan Islam, termasuk belajar langsung dari ulama Timur Tengah, ulama Indonesia, dan lulusan pondok pesantren yang alim. Semua variasi ini positif dan menambah kekayaan spiritual Islam di Indonesia.

Namun, kita harus bisa memilih ulama yang mengajak kepada kebaikan yang tidak menjual agama hanya untuk kepentingan semata. Sebab, ulama juga manusia yang bisa khilaf dan berbuat salah. Oleh karena itu, kita harus menghindari fanatik buta terhadap individu atau organisasi masyarakat tertentu. Maka dari itu Islam tidak bisa diidentikkan dengan suatu individu.

Islam sebagai agama tidak dapat diidentikkan dengan negara tertentu atau individu tertentu. Islam adalah ajaran yang luas dan universal, yang menekankan keadilan, perdamaian, dan keteladanan. Untuk memahami dan mengamalkan Islam secara utuh, kita harus merujuk pada nilai-nilai inti dari ajaran Islam, bukan pada representasi terbatas negara-individu itu sendiri. Keislaman seseorang tidak bergantung pada negara atau tokoh individu, tetapi pada setiap umat Muslim itu sendiri. Di mata Allah Swt., tidak ada perbedaan di antara manusia kecuali dalam hal ketakwaan mereka.

Mari kita introspeksi diri dan menjalankan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-hari. Mari hindari fanatisme buta dan tidak mengidentikkan Islam dengan negara atau individu tertentu. Jadikanlah ketakwaan dan nilai-nilai universal Islam sebagai pedoman hidup kita, bukan khilafah sebagaimana yang dipropagandakan selama ini.

Leave a Comment

Related Post