Harakatuna.com – Fenomena pembubaran kelompok Jamaah Islamiyah (JI) oleh para tokoh pimpinannya beberapa waktu yang lalu adalah langkah awal dari perjalanan menutup rapat kelompok JI. Ada beribu-ribu pertanyaan cukup krusial yang hadir di kepala masyarakat, yakni benarkah JI benar-benar bubar?
JI bukanlah kelompok teroris sembarangan. Di berbagai negara JI menjadi ancaman. Tidak hanya di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, bahkan di negara Australia JI menjadi ancaman. Masih teringat di benak saya bahwa JI pernah masuk ke negara kuat ini melalui subkelompok Mantiqi IV. Anda pasti tahu bahwa Mantiqi IV adalah orang-orang yang terkait dengan melakukan serangan terhadap kepentingan Yahudi di Australia, namun tidak terwujud.
Bertahan dan Bersayap
Di mana saja JI selalu kreatif dalam mengatur strategi. Karena kedisiplinan inilah JI bisa bertahan selama lebih dari 3 dekade (1993-2024). Hingga hari ini JI terus berkembang pesat dalam senyap. Mendadak viral karena senior mereka membuat strategi melingkar dengan cara membubarkan diri (kalau tidak bisa menyebut menyerahkan diri) sepihak, tapi untuk kepentingan jangka lama.
Sepengetahuan saya, JI diperkirakan memiliki sekitar 6.000 anggota, terutama di Indonesia, dan sebagian kecil berada di Malaysia dan Filipina. Sejak tahun 2002, ratusan anggotanya telah ditangkap oleh pihak berwenang Indonesia dan Filipina. Tapi mereka terbukti berhasil menyesuaikan strategi perjuangannya setelah dihantam rangkaian penangkapan ratusan anggotanya.
Bahkan kalau bisa dibilang, JI ini malah membentuk jaringan regional dalam tingkat bawah yang lebih mantap. JI membuat jaringan sekolah agama yang berafiliasi. Sekolah-sekolah JI ini terus menanamkan penafsiran ekstremis terhadap Islam dan legitimasi kekerasan kepada generasi muda Indonesia, dan kemudian digunakan oleh JI sebagai sumber perekrutan militan untuk kegiatan teroris di masa depan. JI juga membuat infrastruktur yang cukup kuat berupa lembaga sosial dan yayasan-yayasan dakwah yang tersebar di seluruh Indonesia.
Lapisan Strategi JI
Berlapis-lapis strategi JI telah didaratkan untuk gerakan mereka. Tebukti mereka bukan tambah meredup tetapi justru semakin berkembang dalam senyap membuat banyak pihak berpikir keras bagaimana cara menghentikan pergerakan mereka. Penangkapan yang masif pada anggota JI di berbagai wilayah tak membuat surut. Dia hanya mundur satu langkah demi membuat langkah yang lebih mematikan berkali-kali. JI kini ‘menyerahkan diri’ kepada negara dalam rangka ingin melakukan islah atau rekonsiliasi.
Apakah islah JI ini adalah kesempatan terbaik bagi negara? Tentu saja iya. Asalkan negara mampu menampung keluh-kesah anggota JI tersebut, sebagaimana bisa menampung keluh-kesah anggota teroris yang pernah ditangkap kemudian menjadi duta deradikalisasi di Indonesia. Perhitungan membubarkan diri JI jelas sudah detail. Prosesnya jelas panjang. Karena itulah negara harus bisa menyingkap motif sebenarnya dari proses pembubaran ini.
Menurut saya, JI bubar secara organisasi iya, tetapi secara pemikiran masih memerlukan pembinaan dan kontrol dalam jangka panjang. Komitmen mereka masih perlu dibuktikan. Dan ini menjadi tugas semua pemangku kebijakan untuk proaktif menindaklanjuti itikad baik mereka bersedia ikrar setia NKRI.
Islah JI Disambut Baik?
Saya melihat, sekali lagi, JI sebagai organisasi bubar memang iya. Tapi secara pemikiran, ideologi dan jihad mungkin tidak. Dalam sejarah manusia, tidak ada ideologi yang bisa dibunuh, dihancurkan dan dihanguskan dari otak manusia. Ia hanya bisa ditukar-tambah oleh ideologi yang lain dengan catatan bisa menguntungkan si manusia itu sendiri.
Oleh karena itu, saya khawatir kalau pemerintah Indonesia tidak benar-benar serius dalam membina pentolan JI ini. Sebab, anggota JI setelah ikrar setia NKRI atau pembubaran JI, mereka masih buta arah dan membutuhkan pembinaan lanjutan dari pemerintah. Saya melihat, pembinaan lanjutan itulah yang penting, kendati bisa mengubah arah politik dan ideologi JI, yang sebelumnya dalam jihad kekerasan menjadi jihad total jalan moderat Islam.
Pembinaan keberlanjutan itulah yang akan memperkuat komitmen mereka untuk setia kepada NKRI. Jika tidak bisa mengubah anggota senior atau yang liar plus fanatik, setidaknya bisa mengubah anggota JI yang masih muda, yang bergerak di bawah dan belum tahu tentang dinamika yang sebenarnya di atas. Minimal anggota JI ini bisa melihat pembubaran JI bukan semata manuver dari kelompok JI.
Pembinaan keberlanjutan itulah yang akan melihat sepak terjang dan pembuktian anggota JI sebagai orang yang berikrar setia kepada NKRI. Bagi banyak alumni teroris, pembuktian ini sangat diperlukan. Karena selain mereka harus belajar banyak, mereka terkadang harus menerima pil pahit akibat kecewa terhadap lingkungan (masyarakat dan pemerintah) yang tak kunjung percaya akan perubahan yang mereka lakukan.
Maka itu, proses ini penting dan butuh dukungan pihak pemerintah. Saya setuju dengan orang yang mengatakan bahwa setia pasca bubarnya dan islahnya JI pada NKRI, bukan hanya dari faktor JI-nya sendiri, melainkan pada lingkungan yang bisa memperlemah atau memperkuat komitmen para anggota JI? Mari kita tunggu pembuktian itu!








Leave a Comment