ISIS dan Al-Qaeda Bangkit Lagi, PBB Peringatkan Ancaman Global

Ahmad Fairozi, M.Hum.

02/08/2025

3
Min Read

Harakatuna.com. New York – Ancaman dari kelompok teroris ISIS dan al-Qaeda, termasuk jaringan afiliasinya, terus berkembang di sejumlah wilayah Afrika dan mengalami peningkatan di Suriah. Kedua kelompok ekstremis ini disebut masih memandang Suriah sebagai “basis strategis untuk operasi eksternal”, menurut laporan terbaru para ahli PBB kepada Dewan Keamanan.

Laporan setebal 27 halaman yang diedarkan pada Rabu itu menyoroti meningkatnya aktivitas terorisme, terutama di kawasan Sahel Afrika, Suriah, Asia Tengah, dan bahkan Eropa serta Amerika Serikat. Para ahli mengungkapkan bahwa kelompok Jama’at Nasr al-Islam wal-Muslimin (JNIM), yang berafiliasi dengan al-Qaeda di Afrika Barat, serta al-Shabab di Afrika Timur, terus memperluas pengaruhnya. Mereka menguasai lebih banyak wilayah dan memanfaatkan kelemahan pemerintahan lokal untuk memperkuat posisi mereka.

“JNIM telah mencapai tingkat kemampuan operasional baru,” tulis para ahli, “termasuk peluncuran serangan kompleks dengan penggunaan drone, alat peledak rakitan (IED), dan ratusan pejuang terhadap pos militer yang dijaga ketat.”

Sementara itu, ISIS disebut kembali aktif di kawasan Sahara Raya, khususnya di sepanjang perbatasan Niger-Nigeria. Kelompok ini disebut berupaya memperkuat kendalinya di wilayah tersebut.

Ancaman di Suriah dan Asia Tengah

Suriah tetap menjadi wilayah dengan tingkat ketidakstabilan tinggi, enam bulan setelah Presiden Bashar al-Assad digulingkan. Negara itu kini dipimpin oleh presiden sementara Ahmad Al-Sharaa, yang berjanji akan membawa Suriah ke arah pemerintahan yang inklusif melalui pemilu demokratis.

Namun, laporan memperingatkan bahwa lebih dari 5.000 pejuang teroris asing terlibat dalam perebutan Damaskus pada Desember 2024. “Ada risiko meningkat dari ISIS dan al-Qaeda yang melihat Suriah sebagai pangkalan penting untuk perencanaan dan pelaksanaan operasi eksternal,” jelas laporan tersebut.

Di Asia Tengah dan Afghanistan, para pakar juga menyoroti kekhawatiran akan kembalinya para pejuang teroris asing yang dapat mengganggu stabilitas kawasan.

Para ahli juga mencatat bahwa ISIS tetap menjadi ancaman paling signifikan bagi Eropa dan Amerika Serikat, dengan banyak aksi atau rencana teror dilakukan oleh individu yang telah diradikalisasi secara daring, termasuk lewat media sosial dan platform pesan terenkripsi. “Beberapa rencana serangan di Amerika Serikat sebagian besar dimotivasi oleh konflik Gaza-Israel, atau dilakukan oleh individu yang telah terpapar ideologi ISIS,” kata para ahli.

Mereka mencontohkan insiden tragis pada 1 Januari lalu di New Orleans, ketika seorang pria yang bersumpah setia pada ISIS menabrakkan mobilnya ke kerumunan, menewaskan 14 orang — serangan paling mematikan yang terkait ISIS atau al-Qaeda di AS sejak 2016. Selain itu, otoritas AS dilaporkan telah menggagalkan rencana penembakan massal yang terinspirasi oleh ISIS di sebuah pangkalan militer di Michigan.

Pendanaan dan Kelemahan Keuangan

Dari sisi pembiayaan, kelompok Hayat Tahrir al-Sham yang menguasai sebagian wilayah Suriah dilaporkan telah menimbulkan kesulitan finansial bagi ISIS. “Pendapatan mereka menurun dan gaji para pejuangnya kini hanya berkisar $50 hingga $70 per bulan, sementara bantuan keluarga sekitar $35,” tulis laporan tersebut. “Pembayaran juga sering tertunda, menunjukkan tekanan finansial yang signifikan.”

ISIS dan al-Qaeda tetap mengandalkan berbagai metode pengumpulan dana, termasuk pajak lokal, penculikan untuk tebusan, dan eksploitasi bisnis. Namun, mereka kini juga menggunakan metode yang lebih canggih dan sulit dilacak, seperti pengiriman uang lewat sistem hawala berbasis cloud dan penggunaan kurir perempuan. “ISIS menggunakan ‘kotak penyimpanan aman’ di kantor penukaran uang yang hanya bisa diakses dengan kata sandi atau kode,” ungkap para pakar.

Hubungan antara al-Shabab dan pemberontak Houthi di Yaman juga menjadi perhatian. Keduanya disebut telah saling bertukar senjata, dan Houthi dilaporkan memberikan pelatihan militer kepada pejuang al-Shabab, yang memperkuat jaringan ekstremis lintas negara.

Leave a Comment

Related Post