Harakatuna.com. Bern – Kepala Badan Intelijen Federal Swiss, Christian Dussey, memperingatkan bahwa ancaman terorisme Islam di Swiss semakin meningkat. Bahkan banyak anak di bawah umur bergabung dalam kelompok radikal yang terafiliasi dengan politik Islam.
Dalam sebuah wawancara untuk warta harian Tages-Anzeiger yang diterbitkan pada hari Kamis Dussey menegaskan bahwa kalangan anak muda di negaranya gampang terprovokasi. Pihaknya menerangkan bahwa bublic awareness pada kalangan mudah sangat lemah.
Kampanye propaganda yang dilakukan oleh organisasi jihad Negara Islam (IS, sebelumnya ISIS) di Swiss telah berhasil membuat anak muda teradikalisasi secara signifikan. “Kami menyadari bahwa masalah ini menjadi lebih parah dalam beberapa bulan terakhir,” ujarnya.
“Di Swiss, kami mempunyai jumlah kasus radikalisasi generasi muda di atas rata-rata dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya,” sambung Dussey kepada media.
Dia mencatat bahwa dalam enam bulan pertama tahun ini, sekitar 30 orang ditangkap di Eropa karena dicurigai merencanakan serangan teror. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan tahun 2023. “Ada beberapa penangkapan terkait terorisme selama beberapa minggu terakhir,” Dussey menambahkan.
Pihaknya menulai potensi serangan yang paling mungkin terjadi adalah di Swiss. “Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh individu terisolasi yang terinspirasi oleh jihadisme,” kata Kepala Intelijen.
Keterangan tersebut dikaitkan dengan kasus penikaman seorang Yahudi Ortodoks oleh tersangka berusia 15 tahun di Zurich pada bulan Maret yang mengakibatkan korban mengalami luka serius. Sebelum serangan ini, remaja tersebut muncul dalam sebuah video yang mengungkapkan solidaritasnya dengan ISIS.
“Awal bulan ini, tiga konser megabintang pop Amerika Taylor Swift di negara tetangga Austria dibatalkan setelah polisi menangkap dua tersangka karena diduga merencanakan serangan teroris di konser tersebut,” terang Dussey.
Pejabat keamanan Austria mengatakan bahwa pihaknya telah mengamankan remaja Swiss berusia 19 tahun yang merencakan pembunuhan di kerumunan banyak orang menggunakan bahan peledak dan pisau. Sebelumnya insiden itu, tersangka tela berbait setia kepada ISIS.
Juga pada bulan Agustus, dua tokoh agama ditahan di Rusia karena dugaan keterlibatan mereka dalam merekrut pejuang ISIS. Kementerian Dalam Negeri Rusia melaporkan peningkatan yang mengkhawatirkan dalam kejahatan terkait terorisme dan ekstremisme pada paruh pertama tahun ini.








Leave a Comment