Ini yang Harus Anda Tahu tentang Pembuka Cerita yang Baik

Risen Dhawuh Abdullah

05/04/2025

4
Min Read
Pembuka Cerita

On This Post

Harakatuna.com – Dalam pelatihan-pelatihan menulis (cerita pendek), kita sering disuguhi pertanyaan dari pemateri atau narasumber; bagaimana membuat pembuka cerita yang baik? Tentu yang dimaksud di sini sebagai pembuka bukan “awal paragraf”, tapi bagaimana mengawali sebuah cerita yang baik—paling tidak pada paragraf pertama sebuah cerita. Pemateri atau narasumber juga sering mengatakan, dengan pembuka yang baik, pembaca akan penasaran dengan kelanjutan cerita yang ditulis oleh seorang pengarang.

Pembuka yang baik itu seperti apa, sih? Meskipun hal ini juga tidak dapat terlepas dari subjektivitas—apalagi menyangkut pertanyaan yang kedua. Pada dasarnya, apabila pembaca sudah berniat membaca sebuah cerita, berarti ia sudah meluangkan waktunya. Asumsinya, ia akan membaca sebuah karya sastra, dalam hal ini cerita pendek, sampai selesai. Sekalipun pembuka ceritanya biasa-biasa saja.

Namun, pelatihan-pelatihan itu berada di bawah wacana, “menghasilkan cerita pendek yang baik”. Sehingga cenderung ditujukan untuk pengarang, bukan pembaca. Sehingga pula aspek pembuka cerita menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan untuk menghasilkan cerita yang baik. Bagi seorang redaktur, pembuka cerita yang baik akan menjadi salah satu aspek yang patut diperhatikan. Redaktur harus membaca “ratusan” bahkan “ribuan” cerita. Apabila dituruti dibaca semuanya hingga tuntas, akan memakan waktu. Maka salah satu hal yang dilakukan, membaca pembuka cerita.

Tulisan ini akan mencoba menjawab pertanyaan yang sudah disajikan di atas. Sesempit pengetahuan saya, setidaknya ada tiga hal yang dapat ditempuh untuk dapat menyajikan pembuka yang baik.

Pertama, pembuka cerita dapat diawali dengan sebuah pertanyaan, yang jawabannya berupa isi atau permasalahan dari cerita yang ditulis. Maksudnya, pertanyaan juga bukan pertanyaan klise semacam, “bagaimana kabarmu?”, “kamu sedang di mana?”, tapi pertanyaan besar yang sekiranya mewakili isi cerita secara utuh.

Kedua, pembuka cerita yang diawali dengan adegan-adegan kecil yang memantik masalah atau menimbulkan konflik. Maksud dari adegan kecil bisa seperti tindakan ataupun perilaku sehari-hari yang mungkin sering dilakukan. Ketiga, pembuka cerita yang menekankan pada keindahan kata-kata. Pada jenis yang ketiga ini maksudnya adalah kalimat-kalimat yang mengandung rima, majas tertentu, hingga berbagai kata yang memberikan kesan keindahan.

Karya-karya Indra Tranggono menjadi salah satu contoh yang baik, bagaimana pembuka cerita yang baik itu disajikan. Karya-karya yang dimaksud dapat ditilik dalam buku kumpulan cerpen yang berjudul Menebang Pohon Silsilah yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada tahun 2017. Kumpulan cerpen tersebut berisi lima belas cerita pendek yang sudah dipublikasikan di berbagai media nasional di Indonesia.

Kumpulan cerpen tersebut paling tidak mewakili poin kedua dan ketiga mengenai pembuka cerita yang baik, sebagaimana sudah disebutkan. Dalam kumpulan cerpen tersebut, bisa dilihat pada cerita pendek yang berjudul “Mbah Mahdi dan Cerita Pagi Itu”. Pada pembuka cerita, narator aku mempermasalahkan tokoh Mbah Mahdi yang membakar sampah setiap pagi di belakang rumahnya, ia sangat mendambakan udara bersih. Narator merasa terganggu dengan tindakan tersebut. Adegan-adegan kecil yang dimaksud dalam contoh ini adalah “membakar sampah”.

Dari fenomena seperti ini akan menimbulkan pertanyaan, “mengapa Mbah Mahdi membakar sampah, sehingga narator meluapkan kejengkelannya?” Peristiwa kecil tersebut membawa pada wacana yang lebih besar, yaitu wacana mengenai agama. Apa yang dilakukan Mbah Mahdi tidak lain adalah sebagai simbol melenyapkan dosa-dosa manusia.

Cerita pendek “Wajah Itu Membayang di Piring Bubur” juga menjadi contoh lain pada poin kedua yang baik. Pada pembuka cerita, disajikan adegan kecil berupa tokoh Sumbi yang sedang menyiapkan bubur gula jawa kesukaan Murwad, suaminya. Sumbi selalu mengucap doa untuk keselamatan suaminya yang pada pembuka cerita tersebut dikatakan tidak kunjung kembali. Maka dengan pembuka seperti ini pembaca akan bertanya-tanya, apa yang sesungguhnya terjadi pada Murwad hingga Sumbi terus menyajikan bubur gula jawa dan berdoa?

Jawaban atas pertanyaan itu adalah Murwad dituduh telah membakar pasar dan dipenjara. Pembakaran pasar ternyata berhubungan dengan ambisi kapitalis—yang sekaligus ingin diwacanakan cerita pendek tersebut—yang ingin mengubah pasar tradisional menjadi pasar modern yang pada cerita pendek tersebut diwakili oleh sosok hitam Genderuwo yang menyelimuti pasar.

Contoh lain yaitu cerita pendek yang berjudul “Sonya Rury”. Cerita pendek ini setidak menjadi contoh poin ketiga, pembuka yang menekankan pada keindahan kata-kata. Indra Tranggono berhasil membuka cerita dengan begitu ciamik. Adapun pembuka itu adalah, “Mendengar isak tangisnya, aku terhisap memasuki lorong panjang, penuh kelokan. Pada setiap tikungan, aku menemukan jejak luka yang dalam. Aku tak ingin mencari sebab di balik matanya yang sembab. Aku sangat menghormati keputusannya untuk menangis, di antara detak jarum jam yang menikam dan mengiris”.

Keindahan kata-kata itu terletak pada rima pada kata, “panjang”, “kelokan”, “tikungan”, “dalam”, “sebab”, “sembab”, “menangis”, dan “mengiris”. Kata-kata yang mempunyai rima yang (hampir) sama tersebut membentuk kesan keseruangan, yaitu bahwa tokoh yang dibahas sedang mengalami kesedihan yang begitu dalam. Sehingga kemudian keinginan pembaca untuk segera mengetahui apa yang sedang terjadi pada tokoh yang dibahas menjadi lebih kuat.

Tentu masih ada contoh lain dalam kumpulan cerpen Menebang Pohon Silsilah karya Indra Tranggono. Dari lima belas cerpen yang ada, jenis pembuka didominasi poin kedua daripada ketiga. Namun, terlepas dari itu, saya kira cukup penting menyajikan pembuka yang baik nan memikat. Ini dapat digunakan untuk membangun rasa penasaran pembaca.

Leave a Comment

Related Post