Ini Sumber Kebahagiaan Manusia Menurut Rasulullah

Ahmad Khalwani, M.Hum

19/09/2024

2
Min Read
sumber kebahagiaan menurut Rasulullah

On This Post

Harakatuna.com – Dalam kehidupan ini, sumber kebahagiaan ini terus diulik dan diteliti oleh para cendekia dan para ahli filsafat. Sejak zaman Plato dan sampai kapan pun tema kebahagiaan akan terus relevan bagi kehidupan manusia. Sebagai seorang yang beriman kepada Allah dan Rasulullah, salah satu tanda keimanan kita adalah mempercayai apa yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Di antara hal tersebut adalah menyangkut sumber kebahagiaan.

Nabi Muhammad dalam hadisnya pernah menjelaskan di antara sumber kebahagiaan adalah ridha terhadap takdir Allah. Dan di antara sumber kesengsaraan manusia adalah tidak berdamai dengan takdir yang telah ditentukan oleh Allah.

ومن سعادة ابن آدم رضاه بما قضاه الله ومن شقوة ابن آدم سخطه بما قضى الله عز وجل

Artinya: “Di antara kebahagiaan anak Adam adalah ridha terhadap takdir Allah, dan di antara kesengsaraannya adalah benci terhadap takdir Allah”.

Menerima takdir yang telah ditetapkan oleh Allah merupakan hal yang sangat urgen bagi umat Islam. Menerima takdir selain menjadi sumber kebahagiaan juga menjadi salah satu dari enam rukun iman dalam agama Islam. Salah satu rukun iman yang wajib dipercayai adalah percaya adanya takdir Allah (qada dan qadar).

Perlu diketahui bahwa takdir Allah itu pasti yang terbaik bagi manusia, oleh karenanya berusahalah berdamai dengan takdir yang telah ditentukan oleh Allah.

عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya: “Aku begitu takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Ahmad)

Oleh karenanya terhadap takdir yang telah terjadi kita tidak boleh menyesali dengan berkata seandainya. Seandainya dulu aku melakukan ini maka musibah ini tidak terjadi. Karena perkataan demikian malah menghadirkan setan dan menjauhkan dari kebahagiaan.

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ: قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh daripada mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, “Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu”. Tetapi katakanlah, “Qadarullah wa ma sya-a fa’al” (hal ini telah ditakdirkan Allah dan Allah berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya). Karena ucapan “seandainya” akan membuka pintu perbuatan srtan”. [HR. Muslim].

Walhasil dari keterangan ini kita menjadi paham bahwa sumber kebahagiaan adalah ridha terhadap takdir yang telah terjadi seperti yang dijelaskan Rasulullah. Dan berusaha dan berdoa sebaik mungkin agar takdirnya ke depan sesuai dengan yang disangkakan. Wallahu A’lam Bishowab.

Leave a Comment

Related Post