Harakatuna.com – Ada banyak penulis yang terus menulis, tanpa peduli jika tulisannya tidak berkembang ke arah yang lebih baik dan lebih profesional. Karena pada dasarnya, seorang penulis yang menghasilkan sebuah karya tulis, sama halnya ia sedang berhadapan dan berinteraksi dengan pembaca.
Apa penyebabnya? Kegagalan yang tidak disadari akan membuat penulis lupa untuk melakukan refleksi dan perenungan. Stigma yang mengatakan bahwa “kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda” telah mempersempit sudut pandangnya. Kegagalan yang dialami tentu ada alasan yang logis. Bukan untuk membenarkan stigma di atas.
Berkali-kali kita bersepakat, bahwa menulis itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan literasi. Tetapi apakah kegiatan literasi itu sudah cukup hanya dengan menulis? Seorang penulis yang baik, ia akan menemukan hal-hal yang baru dalam melakukan kegiatan kepenulisan. Harus ada keseimbangan, antara menulis, membaca, dan menganalisis sumber referensi yang dibutuhkan dalam kegiatan tersebut.
Dalam sebuah kasus, mengapa seorang penulis tergolong begitu produktif, tetapi apa yang dihasilkannya hanya seputar tema yang hampir mirip dan dilakukan berulang kali? Meski secara teoretis, seorang yang sudah terbiasa dengan pekerjaan menulis, tidak akan kehilangan ide. Tapi ini tidak berlaku bagi penulis yang selalu beralibi “lagi badmood”. Sebab ada kalanya kondisi kesehatan, terutama faktor emosional turut menentukan untuk menginventarisasi ide-ide yang ada.
Seorang penulis yang baik, seyogianya ia harus juga mencari tahu tentang sejauh mana minat baca dari pasar pembaca. Apakah kondisi sosial kini akibat makin derasnya arus teknologi informasi yang berbasis jaringan internet, telah membawa dampak pada penurunan minat baca (tekstual buku) yang dianggap kurang efisien, terutama dari segi kecepatan informasi?
Sehingga, buku-buku cetak yang menjadi bahan bacaan dianggap tidak praktis untuk memenuhi kebutuhan zaman. Ditambah persaingan yang begitu ketat bagi penerbit, sehingga bahan bacaan terkesan hanya untuk memanipulasi persepsi sosial. Bahwa, dengan menerbitkan buku, seolah-olah seorang penulis/pengarang menjadi lebih dikenal.
Problem kini yang terus-menerus kita hadapi adalah daya minat baca masyarakat yang masih sangat rendah. Pelbagai cara dilakukan, baik secara individu maupun kelompok, belum mampu mendongkrak minat baca. Kegiatan membaca dalam bacaan panjang, secara konvensional dan tradisional, menjadi tantangan terberat di era digitalisasi. Meski dalam program-program kemasyarakatan begitu gencar untuk tetap menjaga keseimbangan ilmu pengetahuan, tetapi pola ini tidak terstruktur dengan baik.
Bagaimana sistem pendidikan nasional untuk menunjang kegiatan ini? Masih ada polarisasi yang secara umum kita lihat, terlalu terbebani dengan sistem kurikulum pendidikan. Bayangkan seorang pendidik, waktunya tersita banyak dengan instrumen pendidikan yang berbasis administrasi. Seyogianya seorang pendidik bisa membagi waktu secara proporsional antara kegiatan penguasaan materi, termasuk membaca, dengan pengajaran yang membangkitkan imajinasi anak untuk berpikir kritis.
Sama halnya dengan penulis/pengarang. Harus bisa menjaga keseimbangan antara menulis, membaca dan menganalisis sumber-sumber referensi yang dibutuhkan dalam kegiatan penulisan. Di sini pentingnya bagi seorang pengarang/penulis menjaga keseimbangan antara membaca dan menganalisis sumber-sumber referensi atau informasi, untuk mengolah kemampuan imajinasi dalam menghasilkan tulisan yang bagus.
Pertanyaan yang kerap muncul di dunia penulisan adalah kenapa minat dan daya baca seseorang, secara umum, masih saja rendah. Ada asumsi, bahwa membaca melalui komponen digital, sama halnya telah melakukan kegiatan literasi. Tidak dapat dipungkiri, membaca melalui layar digital (ponsel dan laptop), juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan wawasan seseorang dalam menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena ini dianggap lebih efisien. Tetapi, tidak serta-merta juga menjadi efektif. Kenapa demikian?
Tanpa menafikan peran pendidikan, bahwa kegiatan penulisan berbasis literasi, tentu ada substansi yang memengaruhi beberapa kegagalan yang dialami oleh penulis. Sebagaimana yang telah disampaikan di atas, meski tidak bersifat absolut, jika kegagalan itu karena narasi yang dipaparkan dalam naskah dari waktu ke waktu, selalu terkesan monoton, artinya ada sesuatu yang salah.
Beberapa faktor yang menyebabkan hal ini, tentu dapat dianalisis secepatnya. Meski hasil analisis dan hipotesa tidak menjamin kondisi tersebut bisa segera diperbaiki. Analisis ini bisa dimulai dengan beberapa pertanyaan sederhana.
- Apakah kecakapan dan kemampuan teori dasar sudah dikuasai dengan baik?
- Apakah kegiatan penulisan tersebut dilakukan secara kontinu dan konsisten?
- Apakah dalam kegiatan penulisan tersebut didasarkan pada sumber-sumber referensi yang relevan?
- Apakah dalam kegiatan penulisan tersebut, hasilnya selalu diadakan evaluasi?
- Apakah dalam kegiatan penulisan, juga diimbangi dengan kegiatan membaca, atau hanya mengandalkan kekuatan imajinasi?
- Apakah dalam kegiatan penulisan tersebut, penulis menguasai seni berbahasa termasuk dalam penggunaan kaidah bahasa?
Dan masih banyak hal lain yang perlu disempurnakan secara simultan, termasuk aspek emosional seorang penulis. Jika kita berpijak pada teori-teori penulisan, maka langkah yang paling tepat untuk segera melakukan perbaikan, adalah dengan jalan introspeksi diri dan perenungan.
Sayangnya, kita cukup prihatin dengan beberapa pendapat dari penulis yang mengambil simpulan, karena ada faktor eksternal yang menyebabkan kegagalan tersebut. Alibi semacam ini tentu menjadi fenomena umum. Apalagi dampak kemajuan teknologi digital telah memberi efek domino yang begitu dahsyat terhadap opini-opini liar. Seseorang terkadang dianggap benar, meski dengan alibi yang salah.
Terlepas dari persoalan-persoalan yang acapkali dihadapi oleh sebagian besar penulis, seyogianya dalam dunia penulisan adalah ruang belajar bersama untuk menghasilkan karya-karya bagus dan menarik. Kenapa saya minat baca tidak bisa tumbuh secara pesat, karena mungkin karya-karya tulis, fiksi dan ilmiah, sedang mengalami fenomena zaman yang terkesan abstrak.
Pasar pembaca yang berkurang karena budaya membaca tidak digalakkan secara frontal, bahwa membaca harus menjadi budaya yang sangat penting. Penguasaan dan pemahaman literasi menjadi komponen penting dalam sendi-sendi kehidupan, termasuk untuk peningkatan nilai-nilai ekonomis.
Dalam pemetaan literasi, bangsa yang kehilangan bahasa sama halnya kehilangan budaya. Sementara bangsa ini, setelah kemerdekaan mengalami lompatan budaya yang begitu besar, tanpa diimbangi dengan peningkatan kualitas literasi. Fenomena yang terjadi, anak-anak didik dipaksakan dengan jenjang pendidikan kritis, tetapi sangat rendah dorongan untuk membiasakan budaya ‘membaca teks panjang’.
Konsep dasar literasi meletakkan perimbangan antara membaca, menulis dan berhitung. Sementara sistem pendidikan kita kurang proporsional, dan terlalu berorientasi pada cara berhitung dengan harapan bisa menghasilkan pemikiran kritis. Lantas, bagaimana dengan penulis? Ini tidak mudah, jika lompatan itu tidak berproses dalam melewati beberapa fase pembelajaran. Tidak sekadar menulis dengan tujuan identifikasi sosial belaka. Maka, perlunya seorang penulis melakukan refleksi diri dan perenungan.
Dari penulis yang menghasilkan tulisan ke publik, kita berharap budaya membaca semakin meningkat. Tidak hanya dengan simbolitas semangat semata. Sebab kegiatan membaca itu tidak dapat digantikan dengan cara pembelajaran melalui tontonan audio visual yakni TikTok, YouTube, dan sejenisnya. Ada kalanya seorang penulis harus bisa menganalisis, bacaan dengan ilustrasi dan topik apa yang bisa membangkitkan selera dan minat pasar pembaca tumbuh kembali. Bukan sekadar memuaskan kebutuhan semangat menulis.
Maka, perlunya penulis sesekali melakukan perenungan. Membuka ruang sunyi. Membaca metafisik di luar jangkauan pembaca. Mengaktifkan kembali memori internal untuk melepaskan diri dari rasa kejenuhan. Bahkan, bisa jadi perenungan itu melahirkan semesta cinta yang membuat olah rasa, olah pikir terbuka kembali untuk menghasilkan karya-karya tulis yang lebih ekspresif.







Leave a Comment