Harakatuna.com. Yerusalem – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa (29/7) mengecam keras rencana Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang berniat mengakui negara Palestina dalam dua bulan ke depan. Netanyahu menilai langkah tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap kelompok Hamas dan berbahaya bagi keamanan global.
“Starmer memberi hadiah atas terorisme Hamas dan menghukum para korbannya,” ujar Netanyahu melalui unggahan di platform X, yang dikutip dari laman Newsmax, Rabu, 30 Juli 2025.
Ia juga memperingatkan bahwa pengakuan terhadap negara Palestina saat ini berpotensi membawa ancaman lebih luas. “Negara teror di perbatasan Israel HARI INI akan mengancam Inggris BESOK,” tambahnya.
Pernyataan tegas Netanyahu ini menyusul laporan media Politico yang menyebut bahwa Keir Starmer telah menyampaikan niat pemerintahannya untuk mengakui negara Palestina kepada kabinetnya pada hari Selasa. Rencana itu disebut akan direalisasikan sebelum Sidang Umum PBB yang dijadwalkan berlangsung September mendatang, kecuali Israel menunjukkan komitmen konkret dalam mengakhiri konflik di Gaza.
Langkah pengakuan ini, menurut laporan tersebut, akan dipertimbangkan dengan syarat-syarat tertentu. Di antaranya, komitmen Israel terhadap proses perdamaian jangka panjang menuju solusi dua negara, serta perubahan signifikan di pihak Palestina. Dalam hal ini, Starmer menekankan bahwa Hamas harus meletakkan senjata, membebaskan seluruh sandera yang ditahan sejak serangan 7 Oktober 2023, dan menerima kenyataan bahwa mereka tidak akan menjadi bagian dari pemerintahan Gaza di masa depan.
Kantor Perdana Menteri Inggris di No. 10 Downing Street menyatakan bahwa keputusan ini didorong oleh memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza dan semakin menipisnya peluang penyelesaian konflik secara diplomatik.
“Ini adalah waktu yang genting. Kami percaya tekanan internasional yang konsisten bisa membuka jalan menuju perdamaian jangka panjang,” demikian pernyataan resmi dari kantor Starmer, sebagaimana dilansir Politico.
Sebelum mengumumkan rencana ini kepada kabinetnya, Starmer dilaporkan sempat berbicara langsung dengan Netanyahu. Dalam ringkasan percakapan yang dirilis oleh pemerintah Inggris, disebutkan bahwa London tetap mengecam keras tindakan kekerasan yang dilakukan Hamas, namun pada saat yang sama juga mendesak Israel untuk segera mencabut pembatasan bantuan kemanusiaan ke Gaza.
“Warga Gaza membutuhkan makanan, obat-obatan, dan bantuan dasar lainnya. Israel harus memastikan akses bagi semua bantuan itu,” ujar Starmer dalam pernyataan tertulis.
Rencana Inggris untuk mengakui negara Palestina juga mendapat dorongan dari tekanan internal Partai Buruh, yang saat ini dipimpin Starmer. Selain itu, sinyal serupa telah datang dari negara lain. Beberapa hari sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa Paris juga berencana untuk mengakui negara Palestina pada bulan September.
Langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam pendekatan diplomatik beberapa negara Barat terhadap konflik Israel-Palestina, di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Jalur Gaza sejak dimulainya konflik terbaru pada Oktober 2023.








Leave a Comment