Harakatuna.com – Di antara pertanyaan yang sering muncul adalah, mengapa Indonesia sebagai negara dengan tanah air yang makmur, tetapi hingga kini termasuk negara tertinggal, bahkan kesan sebagian warga negara lain sebagai negara miskin? Jawabannya antara lain adalah karena sedikit bahkan sulitnya mencari elite yang secara mental terbebaskan dari apa pun selain Allah, baik harta, takhta, dan cinta, sesuatu yang ditekankan dalam Idul Adha, meski dirayakan dalam setiap tahunnya. Termasuk di tahun ini yang jatuh pada 6 Juni 2025. Karenanya, tulisan ini ingin membahasnya.
Menjadi Hamba Allah
Di antara tujuan atau nilai yang sangat tampak dan ditekankan dalam Idul Adha adalah upaya Islam yang menjadikan manusia sebagai hamba Allah semata, bukan hamba selain-Nya, sebagaimana nanti akan diuraikan. Itu artinya Idul Adha identik dengan penanaman kecerdasan spiritual, yang dalam wacana kontemporer dimunculkan oleh Danah Zohar dan Ian Marshal. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan dalam menjalani hidup sebagai panggilan spiritual, di mana jiwanyalah yang memimpin badannya, bukan sebaliknya.
Secara sederhana, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan menjalani hidup dengan menjadi “anak-anak” Allah dalam arti spiritual, bukan fisik, yang dalam Islam dikenal dengan istilah menjadi “hamba-hamba”-Nya, bukan menjadi hamba selain-Nya seperti harta, takhta, dan cinta. Maka, mereka pun terbebas dari ketiganya, terutama nafsu dirinya (tidak menjadikan nafsunya sebagai Tuhannya).
Hidup pun bagi mereka sebagai pengabdian kepada Allah. Saat harus memilih, mereka mendahulukan kebahagiaan spiritual ketimbang material, bahkan acapkali mengambil jalan terjal yang ideal/inovatif (menjadi seorang idealis), demi tuntutan spiritualnya yang kuat yang menguasai hatinya. Mereka pun bekerja di luar batas-batas formal, jauh dari kata pragmatis, sekedar memperoleh gaji/uang, jauh dari kata korupsi, yang karenanya menjadi berprestasi dan punya karya-karya besar.
Di saat tutup usia, mereka pun punya nama besar dan hidupnya menjadi lebih bermakna dengan meninggalkan banyak warisan kemanusiaan yang bermanfaat bagi banyak orang. Mereka tetap berintegritas, di saat terancam secara ekonomi, bahkan nyawa sekalipun. Bila mereka mendapat cibiran/hinaan yang tak berdasar, mereka mengabaikannya.
Menjadi Kekasih Allah
Di antara contoh manusia yang mengalami pembebasan diri dari hal-hal selain Allah dengan hanya menjadi hamba Allah dan hidup hanya untuk mengabdi kepada-Nya di atas adalah Nabi Ibrahim, kakek moyang tiga Nabi pembawa agama besar yang sering disebut Abrahamic Religion. Tiga Nabi itu adalah Nabi Musa, pembawa agama Yahudi, Nabi Isa, pembawa agama Kristiani (keduanya dari jalur keturunan Nabi Ishaq dan Ya’qub), dan Nabi Muhammad sebagai pembawa agama Islam dari jalur keturunan Nabi Ismail.
Nabi Ibrahim pun disebut Al-Qur’an sebagai khalîlullâh (kekasih Allah [QS. 4: 124]) dan juga sebagai seorang yang halîm. Halîm berarti santun/lembut, tidak temperamental [bersikap ihsan, memaafkan/berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat) sebagaimana QS. Hud/11: 75. Halîm merupakan kebalikan dari kata jâhil (jâhiliyah), tidak halîm, sebagai ciri masyarakat Arab pra Islam.
Gelar khalîlullâh itu didapatkan Ibrahim karena ia telah menjadi hamba Allah. Apa pun yang diminta/diperintahkan Allah dilaksanakan. Saat diuji-Nya agar anak kesayangannya, Ismail disembelih sebagai persembahan (kurban) kepada Allah sekalipun, asal usul ibadah kurban saat ini. Ia sebagaimana para Nabi yang lain, tidak takut kepada selain Allah, apa dan siapa pun, termasuk kehilangan harta atau bahkan anak sekalipun (lihat QS. 37: 102-108, 33: 39). Ibrahim pun adalah role model bagi umat manusia hingga kini.
Dalam kehidupan manusia, sebagaimana tampak dalam berbagai film action kontemporer, anak dipandang manusia lebih tinggi ketimbang kekayaan atau bahkan kekuasaan. Maka, seorang yang iman/integritasnya tinggi, saat orang yang dicintainya: istri/suami dan anaknya diancam akan dibunuh orang zalim/pendosa, ia terpaksa luluh, melakukan apa yang diminta. Umumnya orang saat diuji kehilangan harta atau takhta, mungkin saja tidak terlampau bersedih. Namun, saat kehilangan anak/cucunya, ia akan sangat bersedih, bahkan kufur nikmat (tidak mensyukuri nikmat lain).
Maka, sebagai ujian, di mana Allah tak mungkin memberi ujian di luar kemampuan manusia (QS. 2: 286). Maka, Allah pun mengganti keharusan mempersembahkan putra pertama Ibrahim itu dengan kambing atau sapi, sebagaimana tampak dari QS. 37: 106: “Kami telah menebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami mengabadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian”.
Anjuran/keharusan berkurban juga terkait juga dengan Qabil yang berprofesi sebagai petani dan Habil yang berprofesi sebagai peternak (lihat QS. 5: 27). Suatu waktu, dua anak Nabi Adam itu diperintahkan Allah untuk berkurban sebagai bukti ucapan syukur mereka atas nikmat yang Allah berikan. Tujuannya untuk menguji siapa di antara mereka yang terbelenggu dengan harta kekayaan, tak mengakui peran Allah dan makhluk/manusia lain, siapa yang menjadi hamba Allah dengan terbebas dari apa pun selain-Nya.
Ternyata, yang diterima Allah adalah kurban Habil. Ia pun menjadi role model bagi umat manusia hingga saat ini, di mana ia sebagaimana Ibrahim lebih mencintai Allah daripada selain-Nya. Ia telah menyerahkan kambing terbaiknya sebagai persembahan/kurban. Sementara Qabil mempersembahkan hasil pertanian terburuknya. Kambing Habil itulah yang menggantikan Ismail, putra Ibrahim, sebagai bentuk kurban yang diabadikan hingga hari ini.
Namun, kenyataan itu tak membuat Qabil introspeksi diri, malah terjerembab pada dosa berikutnya. Ia dengki, julid (hiqd) dan membunuhnya, karena hasud (tak suka dengan nikmat yang didapat orang lain yang dikenalnya dan berusaha melenyapkannya). Apalagi, Habil sebelumnya memperoleh istri yang lebih cantik darinya juga. Ini adalah dosa kedua yang lahir di bumi setelah kesombongan yang dilakukan Iblis. Idul Adha karenanya, bertujuan agar manusia terhindar dari 3 dosa itu.
Tauhid/Ikhlas vs Mental Binatang
Untuk bisa mengalami pembebasan diri dari belenggu/berhala selain Allah, termasuk dari hawa nafsu, dalam Idul Adha dan haji—yang dilaksanakan secara bersamaan, 9-13 Zulhijjah—terdapat penguatan tauhid dan sikap ikhlas juga. Terutama tauhid maqshûdiyyah, keyakinan dan sikap dengan menjadikan Allah sebagai sumber motivasi/tujuan, bukan pamrih kepada selain-Nya. Itu berarti bersikap ikhlas, menjaga kebeningan hati karena Allah, yang membuat Iblis tak bisa menggoda pemiliknya, sebagaimana para Nabi (QS. 15: 39-40).
Dalam Idul Adha, seorang yang ikhlas mesti tak mempermasalahkan tiadanya pengakuan manusia, termasuk motif peningkatan elektabilitas saat memberi dalam pemilu. Hal ini karena ikhlas berarti tidak adanya riyâ, pamrih lain, apalagi riyâ dalam Islam merupakan syirik khafi (kemusyrikan samar). Yang dipentingkan orang yang ikhlas adalah pengakuan Allah (catatan amal baik malaikat-Nya), dan itu sudah cukup. Andai memperoleh pengakuan manusia lain, itu hanya dilihat sebagai akibat ikhlas saja. Haji membebaskan manusia dari belenggu seperti ingin memperoleh pengakuan sosial melalui medsos misalnya.
Maka, dalam Al-Qur’an pun, saat seorang berkurban, baik dengan kambing maupun sapi, yang sampai kepada Allah hanyalah ketakwaan pelakunya (QS. 22: 37), bukan dagingnya. Itu artinya keikhlasan pelakunya, sebagaimana sikap Nabi Ibrahim dan Habil di atas, mengingat ketakwaan adalah sikap utama para Nabi, sebagaimana tampak dalam QS. 33: 39. Sebab itu, mereka diberikan anugerah keikhlasan karena usahanya (QS. 15: 39-40).
Dalam haji motif karena Allah (tauhid dan keikhlasan) lebih ditekankan lagi, di mana ayat kewajiban haji dimulai dengan kata: Walillâhi (Dan karena Allah-lah), diwajibkan haji kepada manusia (QS. 3: 97). Tentu saja tauhid dan keikhlasan itu terdapat juga dalam takbir selama 9-13 Zulhijjah, bacaan talbiyah haji; ritual melempar tiga kali jumrah agar terbebas dari setan dan nafsu berbuat zalim; dan bacaan saat tawaf (tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, dan hauqalah).
Kebalikan dari tauhid/ikhlas adalah mental binatang. Maka, anjuran berkurban Idul Adha sesungguhnya juga dimaksudkan agar manusia terbebas dari kecenderungan binatang, di mana ciri utama kebinatangan adalah mental menyerangnya, tak terikat hukum, dan itu menurut Al-Ghazali dalam Kîmîyâ as-Sa’âdah adalah mental anjing. Puncak mental ini adalah membunuh. Juga terbebas dari mental babi, mental malas dan ingin hidup enak tanpa usaha. Puncak mental babi ini adalah mencuri dan berzina, tanpa ikatan pernikahan. Baik mental anjing maupun babi, dalam batas tertentu dimiliki juga oleh kambing dan sapi, antara lain tampak dari bahasa kumpul kebo, sapi jenis lain. Wallâh a’lam bisshawâb.









Leave a Comment