Harakatuna.com. Gaza — Komite Palang Merah Internasional (ICRC) menyampaikan peringatan serius mengenai kondisi sistem layanan kesehatan di Jalur Gaza yang disebut berada di ambang kehancuran. Peringatan ini muncul di tengah berlanjutnya blokade dan agresi militer oleh Israel, yang memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Minggu (8/6), ICRC mengungkapkan bahwa Rumah Sakit Lapangan Palang Merah di Rafah telah menerapkan prosedur penanganan korban massal sebanyak 12 kali dalam dua pekan terakhir.
“Dalam dua pekan terakhir, Rumah Sakit Lapangan Palang Merah di Rafah telah mengaktifkan prosedur penanganan korban massal sebanyak 12 kali karena menerima banyak pasien dengan luka tembak dan serpihan ledakan,” ungkap pernyataan tersebut.
ICRC mencatat bahwa sebagian besar korban luka tertembak saat mencoba mendekati lokasi distribusi bantuan yang kini dioperasikan oleh yayasan kemanusiaan AS-Israel, menggantikan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam mendistribusikan bantuan. Mereka mengingatkan bahwa situasi ini memperburuk kondisi kesehatan masyarakat Gaza yang sebelumnya sudah genting.
Kekhawatiran ini diperkuat oleh laporan terbaru dari Kantor Media Pemerintah Gaza yang menyebutkan bahwa jumlah korban tewas akibat penembakan di sekitar lokasi distribusi bantuan sejak 27 Mei telah mencapai 125 orang, dengan 736 lainnya terluka dan 9 orang dilaporkan hilang. Hanya pada hari Minggu lalu, 13 warga tewas dan 153 lainnya terluka dalam dua insiden terpisah.
“Banyak pasien tidak bisa menerima perawatan intensif atau khusus yang mereka butuhkan,” tulis ICRC dalam pernyataannya, menyoroti keterbatasan fasilitas medis di tengah meningkatnya serangan.
ICRC juga menyuarakan keprihatinan atas serangan yang terjadi di sekitar sedikit rumah sakit yang masih berfungsi di Gaza. Menurut lembaga itu, serangan tersebut tidak hanya menghambat proses evakuasi pasien, tetapi juga menempatkan tim medis dalam bahaya nyata akibat tembakan peluru nyasar.
“Tanpa langkah cepat dan nyata, jumlah korban jiwa akan terus bertambah,” tegas ICRC, yang menyerukan perlindungan penuh terhadap fasilitas dan tenaga medis, serta penguatan sumber daya vital agar layanan kesehatan dapat tetap berjalan.
Sejak dimulainya serangan besar-besaran oleh Israel pada Oktober 2023, hampir 54.900 warga Palestina dilaporkan tewas—mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Organisasi-organisasi bantuan internasional juga memperingatkan bahwa lebih dari 2 juta penduduk Gaza kini menghadapi ancaman kelaparan akut akibat terhambatnya distribusi bantuan pangan dan medis.
Kondisi ini memperjelas kebutuhan mendesak akan gencatan senjata dan akses kemanusiaan tanpa hambatan bagi warga sipil yang terjebak di zona konflik.








Leave a Comment