HUT BNPT RI: Perjuangan Melawan Terorisme yang Tidak Kunjung Surut

Muallifah

16/07/2024

4
Min Read
BNPT

On This Post

Harakatuna.com – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) kini berusia 14 tahun. Jika diibaratkan dengan manusia, usia 14 tahun berarti usia seseorang yang menginjak remaja. Artinya, dalam jangka usia tersebut menjadi bukti bahwa perang melawan terorisme yang terjadi di Indonesia adalah sebuah perjalanan yang panjang, sejak 14 tahun silam. Meski begitu, jika ditanyakan kepada masyarakat, sudahkah masyarakat mengenal apa itu BNPT?

Seperti yang kita ketahui bahwa, masalah terorisme bukanlah masalah yang diketahui oleh semua kelompok masyarakat. Sebagian masyarakat justru denial dengan keberadaan para teroris, bahkan menuduh bahwa terorisme ini buatan pemerintah bahkan bentuk kebencian terhadap Islam. Hal ini bisa dilihat dari beberapa komentar netizen ketika ada postingan soal terorisme melalui media. Padahal, jika ditelisik lebih jauh, korban dari aksi terorisme adalah masyarakat itu sendiri. Artinya, edukasi tentang terorisme hingga kalangan masyarakat bawah, menjadi PR tersendiri bagi BNPT, dan seluruh elemen masyarakat agar lebih sadar tentang bahaya terorisme itu sendiri.

Selain itu, gerakan terorisme di Indonesia juga mengalami pasang-surut dengan berbagai perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin berubah. Pembubaran organisasi radikal seperti HTI, FPI dan JI, di satu sisi bisa dikatakan sebagai pencapaian bagi BNPT sendiri karena secara kelembagaan, organisasi radikal/teror ini bisa dikatakan tidak ada lagi. Akan tetapi, di sisi lain justru memunculkan tantangan besar karena akan hadir organisasi-organisasi serupa, yang bergerak di bawah tanah, di mana pergerakannya hampir tidak terprediksi oleh pemerintah, termasuk BNPT sendiri. Inilah fase pasang surut masalah teroris di Indonesia.

Fase pasang-surut akan pergerakan terorisme di Indonesia tersebut, bukan berarti memiliki arti bahwa kelompok teroris diam saja. Mereka justru memiliki strategi baru untuk melakukan gebrakan dalam proses ideologisasi, kaderisasi serta pergerakan terorisme. Tentu, generasi masa kini adalah sasaran utama dalam rekrutmen kelompok tersebut. Makanya tidak heran bahwa strategi yang mereka miliki dalam proses rekrutmen menyasar seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia digital.

Berbagai aplikasi digital dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk menyebarkan ideologi. Jika awal-awal perkembangan media sosial, mereka menggunakan Facebook untuk menyebarkan ideologi, hari ini modusnya berubah. Game online menjadi ruang baru bagi kelompok teroris untuk melakukan proses rekrutmen. Sasaran mereka adalah penggunanya yang notabene adalah anak muda, generasi di masa yang akan datang. Artinya pasang-surut masalah terorisme di Indonesia, disertai oleh perkembangan dunia digital yang dimanfaatkan oleh para kelompok teroris untuk penyebaran ideologi ataupun kaderisasi.

Perjuangan Keberlanjutan dalam Melawan Terorisme

Pada HUT ke-14 ini, BNPT mengambil tema “Gelorakan Anti-Kekerasan, Indonesia Damai Menuju Indonesia Emas” sebagai diseminasi komitmen anti-kekerasan di Indonesia hari ini dan yang akan datang. Beberapa tagar dipakai, seperti #GelorakanAntiKekerasan, #IndonesiaDamai, #IndonesiaEmas2045, #IndonesiaHarmoni, dan #IndonesiaTanpaKekerasan. Sejumlah lomba pun digelar untuk memeriahkannya. Dalam usia 14 tahun, perjuangan melawan terorisme akan terus dilakukan.

Melihat berbagai tantangan yang sudah dikemukakan di atas, maka optimalisasi penggunaan media sosial dalam upaya pencegahan penyebaran teroris adalah hal yang harus dilakukan. Berbagai ruang yang disediakan untuk anak muda untuk menyuarakan pendapat di platform media sosial dalam rangka HUT BNPT, tentu tidak cukup. Artinya, upaya tersebut harus menjadi kebiasaan dari BNPT untuk terus menggelorakan edukasi terorisme di media sosial agar anak muda bisa belajar dari media sosial.

Pelibatan anak muda dalam proses pencegahan radikalisme/terorisme di berbagai aspek, mulai dari teknologi, sosial, pendidikan perlu terus dimasifkan agar anak muda menjadi garda terdepan dalam pencegahan terorisme itu sendiri. Upaya ini dilakukan juga dalam rangka agar informasi tentang terorisme bisa diakses oleh seluruh kelompok masyarakat. Perjuangan melawan terorisme bisa dikatakan sebagai perjuangan yang sangat panjang karena, selain pencegahan, ada upaya lain dalam pendampingan kepada orang yang sudah terlibat dalam kelompok teror dan pendampingan bagi orang yang sudah keluar dari kelompok teror.

Selama 14 tahun berdiri, kinerja BNPT perlu kita apresiasi baik sebab mendapatkan tantangan yang tidak mudah dalam perlawanan tersebut. Dukungan dari kita sebagai masyarakat harus terus diberikan kepada BNPT agar terus melakukan kinerja-kinerja perlawanan terhadap masalah teroris. Meski begitu, sebagai bagian dari masyarakat kita perlu mengawal, memberi masukan, saran, dan kritik agar bisa menjadi perbaikan terhadap lembaga dan untuk kebaikan bangsa dan negara. Wallahu A’lam.

Leave a Comment

Related Post