HTI vs Tarbiyah: Pertempuran Senyap Kaum Radikal di Kampus-kampus Kita

Ahmad Khairi

19/11/2025

7
Min Read
HTI Tarbiyah

On This Post

Harakatuna.com – Kampus sering dilihat sebagai ruang pergulatan gagasan yang paling sehat: tempat debat, kritik, dan pembentukan nalar kolektif. Namun di balik keramaian seminar dan forum ilmiah, ada medan pertarungan ideologi yang bercampur dengan ambisi politik. Di Indonesia, pertarungan itu muncul dalam wujud strategis, yaitu melalui penguasaan organisasi mahasiswa, halakah rahasia, dan jaringan sosial yang tumbuh dari asrama ke fakultas. Inilah latar pertarungan Tarbiyah dan HTI.

Tarbiyah muncul sebagai kekuatan yang terorganisir, mewariskan metode kaderisasi yang rapi dan jaringan kelembagaan yang kuat. Mereka hadir lewat lembaga dakwah fakultas, pengurus BEM, dan struktur formal kampus yang memberi ruang gerak jelas. Sementara HTI, pada fase awal penetrasinya di kampus-kampus, memilih jalan berbeda, yakni jejaring personal, kajian intensif, dan taktik gerilya intelektual. Keduanya berhadapan soal siapa yang berhak menafsirkan agama dan mengartikulasikan kepentingan politik di publik kampus.

Bagi sebagian orang, frame-nya sederhana: HTI adalah ancaman dan Tarbiyah adalah moderasi. Kenyataannya lebih kompleks. Di banyak fakultas, Tarbiyah telah lama membentuk kultur organisasi yang efektif dan menguasai pengaruh. Namun dominasi struktural itu bukan akhir cerita. HTI, meski terhambat oleh dominasi tersebut, menyesuaikan metode: mereka menanamkan gagasan lewat pengajian kecil yang militan. Dengan begitu, HTI mereka menciptakan celah infiltrasi untuk para mahasiswa.

Yang menarik, atau justru berbahaya, adalah dimensi personalnya. Perpindahan identitas ideologis terjadi karena keterkaitan emosional dan pembentukan jaringan kepercayaan. Seorang mahasiswa yang aktif di pengajian kampus, yang dipercaya teman-temannya, jadi jembatan yang menghubungkan dua lingkungan berbeda. Begitu pula, asrama dan mushala menjadi ruang rekayasa sistemik: tempat di mana argumen intelektual dipertajam dan loyalitas diuji. Dari situlah pengaruh meluas dan mewabah.

Dalam konteks itulah penting membaca ulang narasi radikalisasi kampus. Fokus hanya pada aksi-aksi radikal-teror membuat kita buta pada dinamika hegemoni ideologis. Pertarungan Tarbiyah dan HTI adalah pertempuran tentang bentuk-bentuk kekuasaan non-kekerasan: siapa yang menata narasi dan siapa yang mampu menjual sebuah visi masyarakat sebagai solusi rasional. Jika tujuan penanggulangan radikalisme hanya mengincar struktur formal semata, upaya itu akan setengah jadi.

Tarbiyah membangun benteng kelembagaan yang menahan penetrasi HTI dan HTI merespons dengan strategi gerilya intelektual yang menembus ruang-ruang privat kampus. Memahami kedua sisi tersebut adalah merancang langkah pencegahan yang tepat, yaitu langkah soal kebijakan pendidikan, literasi ideologis, dan penguatan ruang publik yang sehat.

Dominasi Tarbiyah: Benteng Penetrasi HTI

Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, Tarbiyah adalah kekuatan dominan di kampus-kampus besar, terutama UI. Mereka hadir sebagai sistem sosial lengkap dengan struktur, metode, dan identitas yang mapan. Di UI, dominasi terlihat dari penguasaan organisasi mahasiswa kunci: Lembaga Dakwah Fakultas (LDF), Lembaga Dakwah Universitas, Senat Mahasiswa, BEM, hingga MPM/DPM. Dalam setiap lapisan ruang publik kampus, nama-nama kader Tarbiyah mengisi jabatan strategis.

Kekuatan Tarbiyah terletak pada kedisiplinan kaderisasi yang telah mengakar sejak SMA. Banyak aktivis Tarbiyah saat memasuki perguruan tinggi sudah membawa pengalaman halakah bertahun-tahun. Mereka bukan kader dasar saat kuliah. Ketika mahasiswa baru beradaptasi dengan kehidupan kampus, kader Tarbiyah sudah punya jaringan mentor, modul kajian, struktur pembinaan, dan kultur musyawarah yang membuat mereka bergerak bak organisasi profesional. Ketika struktur kampus memberikan ruang, Tarbiyah segera menguasainya dan membentuk kultur organisasi yang sulit digoyahkan.

Dominasi struktural tersebut menciptakan hambatan besar bagi HTI. HTI tidak memiliki akses langsung ke lembaga resmi kampus, tidak punya posisi kepengurusan, dan tidak memiliki legitimasi sosial sebagai bagian dari arus utama organisasi mahasiswa. Bahkan di ruang dakwah yang biasanya jadi pintu masuk gerakan Islam politik, Tarbiyah mengontrol kurikulum, pemateri, kajian mingguan, sampai program-program besar seperti Pesantren Kilat dan Daurah Kepemimpinan. HTI, meski kadernya cerdas-cerdas dan disiplin, datang sebagai minoritas ideologis dalam ekosistem yang sudah dikooptasi Tarbiyah.

Yang menarik, Tarbiyah juga menguasai persepsi publik kampus. Bagi banyak mahasiswa, Tarbiyah dianggap representasi Islam moderat. Sementara itu, HTI dipersepsikan sebagai kelompok politis, terlalu kaku, atau jauh dari arus utama dakwah kampus. Persepsi itu tidak tercipta secara kebetulan. Tarbiyah aktif menjaga citra publik mereka, memoderasi wacana, dan memastikan mereka tidak terlihat seperti ekstremis. Dengan citra tersebut, Tarbiyah memperoleh kepercayaan sosial yang tak dimiliki HTI.

Kondisi ini diperkuat oleh fakta bahwa banyak aktivis kampus berprestasi berasal dari lingkungan Tarbiyah. Mereka menggabungkan kesalehan dengan reputasi akademik. Kombinasi tersebut memberi mereka modal simbolik yang kuat: ketika jadi ketua BEM, ketua senat, atau pengurus lembaga dakwah, mereka dipandang sebagai figur ideal mahasiswa UI. HTI sulit menyainginya, karena sebagian besar kader senior mereka masuk kampus tanpa membawa basis massa dan beroperasi secara personal, bukan institusional.

Jadi di kampus, sejak dahulu, Tarbiyah jadi gatekeeper yang menentukan siapa yang bisa masuk ke ruang-ruang strategis. HTI menghadapi sistem sosial yang sudah mengunci ruang-ruang pengaruh. Dominasi Tarbiyah di masanya efektif jadi tembok besar yang membatasi penetrasi HTI, memaksa mereka mencari jalur-jalur alternatif yang kemudian akan jadi ciri khas gerakan HTI di kampus: gerilya intelektual di luar struktur formal.

Gerilya Intelektual HTI: Halaqah Masjid ke Infiltrasi Asrama

Jika Tarbiyah membangun hegemoni melalui struktur, HTI masuk kampus melalui lorong-lorong sunyi: percakapan privat, halakah kecil, dan jaringan personal yang sulit dibaca radar organisasi formal. Pada masa awal 1998-2001, HTI tidak memiliki posisi di LDF, tidak memimpin BEM, dan tidak hadir di struktur senat mahasiswa. Namun ketiadaan ruang formal itu tidak membuat mereka berhenti. Mereka memilih rute sisian, yakni masjid, selasar, kamar asrama, dan pertemanan dekat sebagai medan awal pergerakan. Dari situlah genealoginya dimulai.

Selasar Masjid UI jadi titik temu utama pergelaran halakah kecil oleh HTI Depok dan diikuti beberapa mahasiswa UI. Tokoh-tokoh seperti Ust. Ayyub, Zainal Ali Muslim, dan kader-kader awal seperti Sobron, Bimo, Usman, dan Robi jadi simpul penghubung antara jaringan HTI Depok dan mahasiswa UI yang baru mengenal pemikiran Hizbut Tahrir. Pada titik tersebut, HTI itu mirip lingkar intelektual para mahasiswa. Mereka mengajarkan argumen ideologis secara sistematis, menawarkan penjelasan rasional tentang politik global, sistem negara Islam, dan kritik terhadap demokrasi. Intelektualitas jadi pintu masuk HTI kepada mahasiswa.

Namun arena yang paling subur bagi gerilya HTI bukanlah masjid, melainkan asrama mahasiswa. Asrama UI pada akhir 1990-an adalah ruang sosial yang penuh interaksi antarfakultas dan relatif bebas dari kontrol organisasi. Banyak aktivis Tarbiyah jadi pengurus mushala asrama, tetapi ruang informal tetap jadi celah untuk HTI masuk.

Ketika itulah terjadi proses yang jarang terdokumentasi: kunjungan rutin kader HTI ke kamar mahasiswa, percakapan larut malam, diskusi tentang isu politik internasional, dan undangan ke kajian yang tidak diumumkan secara terbuka. Bagi sebagian mahasiswa, HTI memberi sesuatu yang berbeda, bukan sekadar pengajian, melainkan peta besar tentang idealisme dunia Islam.

Taktik paling efektif menggunakan aktivitas keagamaan umum sebagai titik infiltrasi. Misalnya acara Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di asrama yang bersifat umum dan tidak terlalu dijaga wacananya. Muncullah undangan tokoh HTI seperti almarhum Ahmad Junaidi dan Mujiyanto sebagai penceramah. Di permukaan, itu hanyalah acara keagamaan kampus. Namun secara strategis, itu memperkenalkan HTI kepada publik kampus tanpa bendera organisasi. Langkah tersebut memperlebar penerimaan sosial sebelum masuk ke tahap pembinaan tertutup.

Keunikan HTI terletak pada kekuatan individualisasi kader. Mereka membangun struktur dari relasi personal. Beberapa nama mahasiswa UI yang kemudian bergerak intens, seperti Ace (FTUI), Asep (FISIP), Harry (Fasilkom), Farid (FMIPA), Ardhi (FEB), dan lain-lain merupakan hasil pendekatan individual yang sangat terukur. HTI memilih target berdasarkan kapasitas intelektual dan potensi kepemimpinan, bukan jumlah. Bahkan perpindahan beberapa aktivis dengan latar belakang Tarbiyah ke HTI terjadi karena daya tarik intelektual HTI yang menjanjikan kerangka berpikir politik yang ekstensif; kaffah.

Gerilya intelektual HTI mencapai momentum ketika pada 2001-2003, muncul generasi mahasiswa yang tidak terafiliasi kuat pada Tarbiyah, tetapi mencari orientasi politik baru. Di titik itulah, HTI menemukan ceruknya. Dengan pembinaan intensif dan narasi politik global yang ilmiah, mereka mulai memikat mahasiswa yang kritis dan haus pengetahuan. Pada 2003, seorang eks-aktivis Tarbiyah bahkan mengucapkan qassam HTI dan langsung diangkat sebagai Ketua HTI UI. Peristiwa tersebut bukan anomali, tetapi hasil konsisten dari strategi yang dibangun bertahun-tahun. HTI menang di ruang yang tidak dijaga.

Dengan demikian, gerilya HTI merupakan akumulasi percakapan kecil, pertemuan tertutup, dan narasi intelektual secara perlahan. Berbeda dari Tarbiyah yang mengandalkan struktur massal, HTI membangun kekuatan dari kedalaman ideologis dan loyalitas personal.

Ketika dua model tersebut bertemu di satu kampus, yang terjadi adalah pertempuran senyap yang tidak pernah benar-benar selesai. Pertarungan antara organisasi mapan dan jaringan pemikiran itulah yang menjelaskan mengapa radikalisme kampus di Indonesia tidak pernah satu warna. Kaum radikal di kampus-kampus selalu menjadi arena perebutan, dan HTI telah lama bermain di jalur yang tidak banyak diperhatikan.

Dan menariknya, hari ini, medan tempur HTI bukan kampus, melainkan negara. Mereka tengah meracuni seluruh umat Muslim di negara ini dengan propaganda Islam kaffah dan one ummah. Sebagaimana HTI berhasil menyaingi dan, bahkan, mengalahkan kelmpok Tarbiyah, akankah HTI kali ini mengalahkan para pembela negara dan merebut NKRI lalu merombak sistem pemerintahannya jadi khilafah?

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post