Hipokrisi Politik Radikal-Teroris Pengasong Daulah

Harakatuna

22/05/2025

4
Min Read
Pengasong Daulah

On This Post

Harakatuna.com – Fase pembantaian dan pendudukan pasukan Israel di Gaza terus berlangsung. Setelah serangan udara tanpa henti yang menewaskan ratusan warga Palestina, Operation Gideon’s Chariots terjadi bahkan ketika Israel dan Hamas baru saja menyelesaikan hari kedua pembicaraan gencatan senjata di Doha. Pola penuh kebohongan dari IDF dan rezim Zionis Netanyahu pun semakin terang-benderang.

Pola tersebut datang bertahap dan menjijikkan. Para Zionis, dengan dusta dan tak berperikemanusiaan, mengatakan: kelaparan tidak terjadi, setiap bantuan untuk Gaza dijarah Hamas, warga sipil tak jadi sasaran apalagi dibantai, pekerja kemanusiaan tak dibunuh kecuali bersekongkol dengan Hamas, dan tak ada pembersihan etnis maupun genosida. Dunia tahu Israel berbohong, tapi semua diam termasuk para pengasong Daulah.

Ada satu wajah yang nyaris tak pernah terbedah dalam narasi besar Timur Tengah: wajah hipokrit dari mereka yang berteriak ‘Daulah Islam’, tapi diam-diam menukarnya dengan kekuasaan, komplotan geopolitik, dan kenikmatan diplomatik bersama musuh-musuh umat. Wajah itu diwakili Hay’at Tahrir al-Syam (HTS), sempalan Al-Qaeda, yang memilih kongkalikong dengan AS, Turki, dan sekutu Teluk.

Yang dulunya dielu-elukan sebagian kalangan—termasuk oleh para Ikhwan Jamaah Islamiyah (JI) di Indonesia—sebagai harapan terakhir jihad Bumi Syam, kini HTS mengulurkan tangan dalam pelacuran geopolitik. Al-Jaulani, eks-buronan AS dengan harga $10 juta, malah berjebat tangan dan duduk bersama Presiden AS Donald Trump di Riyadh, dalam pertemuan tertutup yang membahas kesempatan baru bagi Suriah pasca-Assad.

Tak berhenti di sana, Trump bahkan mencabut sanksi atas Suriah, menyebutnya kesempatan untuk kebesaran dan menyatakan bahwa Al-Jaulani berjanji akan bergabung dalam Abraham Accords—kesepakatan kontroversial normalisasi dengan Israel. Momen kemarin mengonfirmasi keterlibatan HTS dalam jejaring kompromi dengan kekuatan Zionis di satu sisi, dan kepalsuan Daulah yang selama ini mereka gaungkan.

Apakah kemunafikan itulah Daulah yang mereka janjikan? Apakah itu jihad yang dijual dalam propaganda mereka? Nyatanya, slogan-slogan agung tentang khilafah, hukum syariat, dan perjuangan menegakkan Islam kafah tak lebih dari bungkus busuk ambisi politik kekuasaan. Mereka yang mengaku hendak menegakkan hukum Allah justru jadi pion konstelasi kekuasaan sekuler global, bersekutu dengan musuh-musuh sejati Islam.

Ironi semakin menusuk ketika melihat fakta bahwa dalam waktu yang sama, Israel melanjutkan genosidanya di Gaza. Lebih dari 53.500 warga sipil terbunuh, termasuk 28.000 perempuan dan anak perempuan, menurut UN Women. Satu perempuan tewas setiap jam. Dan di tengah tragedi itu, para pengasong Daulah justru sibuk menjalin aliansi dengan mereka yang membiayai, melindungi, dan mempersenjatai Zionis.

Trump bahkan membanggakan bahwa kunjungannya ke Timur Tengah berhasil mengalihkan loyalitas Arab Saudi, Qatar, dan UEA dari China kembali ke pangkuan Washington. “Mereka mencintai kita, dan kita mencintai mereka,” katanya, dilansir Middle East Monitor. Di balik kata ‘kita’, tentu saja ada uang, minyak, pangkalan militer, dan kesepakatan pertahanan senilai triliunan dolar—dan para pengasong Daulah telah jadi bagian dari permainan.

HTS bukan pengecualian. Mereka hanyalah puncak gunung es dari pola yang sama: semua kelompok teror, baik ISIS, AQAP, Boko Haram, JI, atau JAD, mengusung nama Tuhan, kendati pada dasarnya membajak Islam untuk ambisi politik. Apa yang mereka sebut ‘Daulah’ adalah Daulah palsu yang dijual untuk merebut hati umat, lalu dijadikan tiket tawar-menawar kepada negara adidaya demi posisi, pengampunan, atau sekadar pengaruh regional.

Editorial Harakatuna ini dimaksudkan tidak untuk mengulang retorika anti-terorisme murahan. Ini merupakan seruan intelektual guna membongkar hipokrisi mendalam dari mereka yang mengaku pejuang Daulah, tetapi sesungguhnya adalah agen kekuasaan. Merekalah benalu dalam tubuh umat, yang ketika Muslim Gaza digenosida, mereka justru menandatangani perjanjian dengan Zionis demi kursi dan pengakuan.

Apakah artinya Harakatuna hendak menyetuji gagasan Daulah HTS yang dulu? Tentu saja tidak. Ada dua hal yang hendak digaris tebal di sini. Pertama, kemunafikan para teroris. Semua kelompok teror, baik yang ada di Indonesia maupun luar negeri, tidak pernah berjihad untuk Islam, melainkan untuk kekuasaannya sendiri. Dan ketika kekuasaan itu didapat, kekuatan mereka tidak akan pernah digunakan untuk membela Islam dan Muslim.

Kedua, kepalsuan Daulah. Negara Islam ala kelompok teror itu dusta dan tidak memiliki basis historis yang jelas. Namun kelompok teror harus punya jualan kepada umat, dan Daulah pun dipakai untuk kebutuhan tersebut. Khilafah juga demikian. Sebenarnya, Indonesia sendiri sudah menerapkan khilafah dalam arti pemerintahan yang islami, namun Daulah terus dijual oleh kelompok teror. Tujuannya satu, simpati umat sebagai jalan menuju kekuasaan.

Hipokrisi politik radikal-teroris pengasong Daulah telah terang-benderang dan tak dapat disangkal siapa pun. Karena itu, ke depan, segala propaganda tentang Daulah harus dilawan. Kelompok teror di negara ini tidak boleh diberi tempat sebagaimana di Suriah. Kendati janji mereka manis, seperti kesejahteraan umat dan lainnya, catat satu pelajaran penting dari HTS: radikal-teroris sekadar ingin kekuasaan dan Daulah tak lebih dari tumpangan belaka.

Leave a Comment

Related Post