Hikmah Kasih Sayang Nabi: Menangkal Radikalisme dan Menggenggam Moderasi

Thoha Abil Qasim

04/10/2024

4
Min Read
Nabi Muhammad

On This Post

Harakatuna.com – Radikalisme, ekstremisme, dan sikap berlebihan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Namun, beliau selalu menentang segala bentuk sikap radikal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang mengajarkan keseimbangan, moderasi, dan kasih sayang. Karena prinsip Islam secara keseluruhan mendorong moderasi, toleransi, dan kelembutan dalam praktik agama.

Salah satu kelompok yang sering dikaitkan dengan radikalisme adalah Khawarij. Meskipun Khawarij secara resmi muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw., bibit-bibit radikalisme dari kelompok ini sudah ada pada masa hidup Rasulullah.

Khawarij terkenal dengan sikap mereka yang sangat keras dan tidak mau menerima kompromi dalam hal agama. Mereka memiliki pandangan yang ekstrem tentang Islam, di mana mereka menganggap bahwa siapa pun yang berbuat dosa besar tidak lagi dianggap sebagai seorang Muslim. Kejadian yang terkenal adalah ketika seseorang dari golongan yang akan menjadi Khawarij mendekati Nabi Muhammad Saw. dan berkata dengan penuh kesombongan, “Berlaku adillah, wahai Muhammad!”

Ini adalah bentuk sikap radikal, di mana orang tersebut merasa lebih tahu tentang keadilan daripada Nabi sendiri. Nabi Muhammad Saw. memperingatkan umatnya bahwa akan muncul kelompok orang-orang yang sangat taat secara ritual, tetapi perilakunya jauh dari semangat Islam yang sebenarnya, yaitu kasih sayang, kelembutan, dan toleransi.

Kisah tentang Abdullah bin Dzul Khuwaishirah adalah contoh lain yang menunjukkan radikalisme pada zaman Nabi Muhammad Saw. Dalam suatu peristiwa, ketika Nabi sedang membagikan harta rampasan perang, Abdullah bin Dzul Khuwaishirah berkata kepada Nabi, “Wahai Muhammad, berlaku adillah!”

Perkataan ini adalah bentuk radikalisme, di mana seseorang merasa berhak untuk menuduh Nabi yang mulia tidak adil hanya karena tidak setuju dengan kebijakannya. Nabi Muhammad Saw. menjawab dengan tenang,

 فَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ؟ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ

Siapakah yang akan berlaku adil jika aku tidak berlaku adil? Sungguh, celakalah engkau jika aku tidak berlaku adil.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi kemudian bersabda bahwa dari orang ini dan orang-orang yang memiliki pemikiran serupa akan muncul generasi yang sangat keras dalam beragama dan akan keluar dari agama seperti lepasnya anak panah dari busurnya. Kelompok ini nantinya dikenal sebagai Khawarij.

Nabi Muhammad Saw. juga menentang bentuk radikalisme yang terlihat dalam praktik ibadah yang berlebihan atau ekstrem. Misalnya, ada sekelompok sahabat yang datang kepada Nabi dan menyatakan keinginan mereka untuk beribadah dengan cara yang ekstrem: satu orang ingin berpuasa setiap hari tanpa henti, yang lain ingin salat sepanjang malam tanpa tidur, dan yang lain lagi tidak mau menikah karena ingin sepenuhnya fokus beribadah.

Nabi menegur mereka dengan mengatakan,

 إِنِّي أَخْشَى اللَّهَ أَعْلَمُكُمْ، وَلَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَن رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku salat malam dan aku tidur, dan aku menikah. Barang siapa yang tidak mengikuti sunnahku, dia bukan bagian dari umatku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw. mengajarkan keseimbangan dalam beribadah dan menolak segala bentuk sikap berlebihan atau radikal yang melampaui batas.

Nabi Muhammad Saw. selalu menekankan sikap moderat dan kelembutan dalam menjalankan agama. Misalnya, ketika seorang badui datang ke masjid dan buang air kecil di dalamnya, para sahabat marah dan hendak memukulnya. Namun, Nabi Muhammad Saw. dengan penuh kelembutan meminta mereka membiarkan si badui menyelesaikan urusannya. Setelah itu, Nabi dengan tenang membersihkan tempat tersebut dan menjelaskan kepada si badui tentang adab di masjid.

Kejadian ini menunjukkan bagaimana Nabi Muhammad Saw. menangani sikap keras dan radikal dengan kelembutan dan kasih sayang, sehingga memberikan pelajaran yang mendalam bagi umatnya tentang cara menghadapi ketidaktahuan atau sikap ekstrem dengan cara yang bijaksana.

Nabi Muhammad Saw. juga memberikan peringatan khusus terhadap sikap berlebihan dalam agama. Beliau bersabda:


 إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

Jauhkanlah dirimu dari sikap berlebihan dalam agama. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebihan dalam agama.” (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Hadis tersebut adalah peringatan yang tegas bahwa radikalisme, yang sering kali muncul dari sikap berlebihan dalam menjalankan agama, bisa membawa pada kehancuran dan perpecahan di dalam masyarakat.

Radikalisme dalam bentuk sikap ekstrem dan berlebihan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Meskipun demikian, Nabi selalu menentang dan memberikan solusi atas masalah tersebut dengan cara yang penuh hikmah, kelembutan, dan kasih sayang. Beliau menekankan pentingnya keseimbangan dan moderasi dalam beragama, serta menjaga agar ajaran Islam dijalankan dengan penuh kebijaksanaan dan tidak merugikan orang lain.

Jadi radikalisme dalam bentuk apa pun, baik dalam aspek ibadah maupun interaksi sosial, selalu dikecam oleh Nabi. Ajaran Islam yang beliau sampaikan adalah ajaran yang penuh dengan kasih sayang, kelembutan, dan keseimbangan, bukan kekerasan atau ekstremisme. Wallahu A’lam Bisshawab.

Leave a Comment

Related Post