Hijrah Palsu: Ketika Anak Muda Tersesat di Jalan yang Dianggap Benar

Faisal Hadi

02/07/2025

5
Min Read
Hijrah

On This Post

Harakatuna.com – Hijrah, sebuah istilah yang dahulu lekat dengan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, kini menjelma menjadi tren yang membanjiri kehidupan anak muda. Media sosial dipenuhi dengan berbagai konten bertema “motivasi hijrah”, potongan-potongan ceramah yang viral, serta video transformasi gaya hidup dari yang dianggap “nakal” menjadi “saleh”.

Gambar perubahan penampilan—dari pakaian ketat menjadi gamis, dari gaya hidup bebas menjadi rajin menghadiri kajian—tersebar di mana-mana, seakan-akan menjadi standar baru bagi generasi muda yang ingin dianggap sedang berada di jalan kebaikan.

Namun, di balik gegap gempita tren ini, tersembunyi sebuah fenomena yang justru mengkhawatirkan: semangat hijrah yang melonjak tanpa arahan, dan malah berbelok ke jalan yang salah—fanatisme, pemikiran takfiri, bahkan penyebaran kebencian atas nama agama.

Banyak di antara anak muda yang memulai perjalanan hijrah dengan semangat yang membara, tetapi sayangnya mereka seringkali tidak memulai dari fondasi yang tepat. Mereka terjun begitu cepat ke ranah syariat, langsung membahas soal hukum ini haram, itu halal, tanpa lebih dahulu memahami dasar-dasar agama: akidah yang kokoh, adab yang mulia, serta maqashid syariah—tujuan agung dari ajaran Islam.

Mereka melangkah dengan langkah besar, namun di atas dasar yang rapuh. Tidak heran jika kemudian mereka mudah terbawa oleh arus kelompok tertentu yang lihai memanfaatkan semangat mereka, membisikkan agenda tersembunyi dengan kemasan dalil yang seolah-olah mutlak kebenarannya.

Ada yang baru dua minggu mengikuti kajian, sudah berani mengkafirkan teman-temannya yang berbeda pendapat. Dengan percaya diri mereka menolak tradisi seperti tahlilan, maulid, atau berziarah ke makam ulama, hanya karena di kanal-kanal YouTube mereka sering mendengar bahwa semua itu “bid’ah” yang sesat.

Mereka tidak menyadari bahwa yang perlahan-lahan menjauh dari mereka bukan hanya teman, bukan hanya lingkungan, tapi juga kearifan lokal Islam Nusantara yang selama berabad-abad menjadi wajah Islam yang damai, lembut, dan penuh toleransi. Mereka sedang kehilangan rumah spiritualnya sendiri, tanpa mereka sadari.

Fenomena ini seolah menggambarkan seseorang yang baru saja menemukan sebuah kompas, tetapi belum pernah memegang peta. Kompas itu menunjuk ke arah tertentu, namun tanpa pemahaman medan dan perjalanan, mereka bisa saja tersesat. Semangat hijrah sejatinya adalah anugerah, sebuah awal yang baik, tetapi tanpa bimbingan yang tepat, semangat itu justru bisa menyesatkan.

Hijrah bukan semata tentang perubahan penampilan luar—dari jeans ke gamis, dari rambut terurai ke cadar. Hijrah adalah perubahan cara berpikir, pendewasaan akhlak, serta pemahaman Islam yang menyeluruh dan menenangkan hati.

Lebih jauh, tak sedikit anak muda yang berhijrah bukan karena pemahaman yang matang atau kebutuhan spiritual yang hakiki, melainkan karena terbawa arus tren dan desakan sosial. Mereka melihat lingkungannya ramai-ramai berhijrah, lalu merasa harus ikut agar tidak tertinggal. Hijrah menjadi semacam panggung pembuktian diri di depan kamera, menjadi konten yang layak dibagikan, seakan-akan itu adalah tanda kesalehan yang baru.

Alih-alih menjadi proses yang jujur untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, hijrah perlahan berubah menjadi kompetisi rohani yang mengedepankan validasi sosial—berapa banyak komentar positif, berapa banyak likes, siapa yang memuji di kolom komentar. Mereka lebih sibuk membangun citra daripada melakukan muhasabah atas dosa-dosa masa lalu yang seharusnya menjadi titik refleksi terdalam.

Fenomena seperti ini melahirkan apa yang bisa kita sebut sebagai “hijrah performatif”. Hijrah yang lebih menonjolkan sisi luar—pakaian, gaya bicara, komunitas yang diikuti—tanpa disertai pendalaman spiritual yang memadai. Mereka yang terjebak dalam hijrah semacam ini cenderung mudah tergelincir ke dalam sikap eksklusif, merasa paling benar, bahkan mulai memandang rendah mereka yang belum berhijrah atau yang memilih jalan hijrah yang berbeda.

Padahal, dalam Islam, ukuran keimanan tidak diukur dari seberapa panjang jenggot seseorang atau seberapa sering ia mengucapkan “akhi” dan “ukhti”, tetapi dari kemuliaan akhlak, kerendahan hati, dan keluasan pemahaman.

Yang lebih mengkhawatirkan, tren hijrah yang tanpa peta ini menjadi lahan subur bagi kelompok tertentu yang punya kepentingan ideologi sempit atau agenda politik yang membelah umat. Mereka membungkus ceramah-ceramah provokatif dengan narasi hijrah, menawarkan rasa eksklusivitas, membagi manusia menjadi “kami yang sudah hijrah” dan “mereka yang masih sesat”. Ceramah yang seharusnya menyejukkan justru menjadi bahan bakar perpecahan, menumbuhkan kecurigaan dan kebencian terhadap sesama muslim yang memiliki sedikit perbedaan.

Di titik inilah kita memahami betapa pentingnya kehadiran ulama yang moderat, yang memiliki keluasan ilmu sekaligus kebijaksanaan dalam membimbing generasi muda. Hijrah tidak seharusnya dipahami sebagai perubahan instan, melainkan proses panjang yang memerlukan kesabaran, ketekunan, dan keterbukaan dalam belajar. Anak muda membutuhkan ruang yang aman untuk bertanya, untuk belajar agama secara perlahan, tanpa tergesa-gesa menghakimi, tanpa merasa sudah paling suci hanya karena tampilan luar mereka telah berubah.

Tugas kita semua—orang tua, guru, ulama, dan masyarakat luas—adalah mendampingi perjalanan hijrah ini dengan penuh kasih sayang. Kita perlu hadir tidak untuk memaksa, tidak untuk menakut-nakuti, apalagi untuk menanamkan persaingan rohani. Kita hadir untuk menjadi sahabat, untuk menjadi rujukan, agar anak muda memahami bahwa hijrah sejati adalah perjalanan menuju kedalaman ilmu, keluasan hati, dan kedekatan yang tulus kepada Allah SWT.

Jangan biarkan semangat hijrah yang seharusnya membawa cahaya justru dimanfaatkan oleh mereka yang ingin memecah-belah umat. Jangan sampai semangat hijrah hanya menjadi kendaraan bagi kelompok yang senang mengklaim kebenaran untuk dirinya sendiri dan menyesatkan orang lain. Karena pada akhirnya, di hari penghitungan amal, yang akan Allah tanyakan bukanlah “siapa ustaz yang kamu ikuti”, tetapi “apakah kamu sungguh-sungguh belajar, memahami, dan mengamalkan Islam dengan ikhlas?”.

Mari kita hijrah dengan peta. Karena agama bukan sekadar tentang semangat yang menggebu, tapi tentang ilmu yang membimbing dan kasih sayang yang mempersatukan.

Leave a Comment

Related Post