Judul Buku: Wasathiyah Islam (Anatomi, Narasi, dan Kontestasi Gerakan Islam), Penulis: M. Kholid Syeirazi, Penerbit: Alif.id, Tahun Terbit: Oktober 2020, ISBN: 978-23-9491-0-4, Peresensi: Muhammad Nur Faizi.
Radikalisme menjadi virus yang sangat sulit dikalahkan. Banyak studi secara gamblang menunjukkan jika generasi milenial rentan terkena serangan radikal. Pun dalam pengajaran agama sekalipun, tidak menutup kemungkinan jika ajaran yang dianut jauh dari nalar rahmah agama itu sendiri. Apalagi dengan emosi yang sering bergejolak dan belum stabil, akan sangat mudah dimasuki paham ekstrem-radikal.
Secara garis besar, Islam sebagai agama agung telah menyediakan wacana Islam Wasathiyah; proses menuju pemikiran yang lebih moderat dan terbuka. Digambarkan bahwa Islam Wasathiyah dapat dicapai menggunakan tiga cara (hal. 34). Ketiganya saling berkaitan sehingga harus dilakukan secara serentak dan bersamaan.
(1) Kognitif-saintifik, yaitu para pendahulu telah memberikan sejumlah pesan pada pengelolaan bangsa dengan penyesuaian agama. Wejangan-wejangan dari para pahlawan ataupun tokoh ulama tertuang dalam buku, ritual, ataupun ritus yang terus dijaga oleh warga.
(2) Ekspresif-estetik, yaitu amanat dari tokoh yang tertuang dalam laku tindakan. Setiap perjalanan tokoh, pasti mengandung moral moderasi yang dapat dicontoh darinya. Jejak luhur ini sengaja ditinggalkan, agar bisa diteruskan oleh generasi muda yang bertanggung jawab atas kemajuan bangsa berikutnya.
(3) Praktis-moral, yaitu bagaimana generasi milenial mampu menginovasi berbagai metode yang telah ditelurkan oleh generasi sebelumnya. Konsumsi teknologi bisa dimanfaatkan sebagai peluang untuk menghasilkan karya terbaru dalam penyebaran moderasi. Konsep-konsep inovatif milenial akan sangat mendukung dalam gerakan moderasi.
Permasalahan yang selama ini terjadi adalah moderasi beragama hanya menjadi wacana terbatas (segmented discourse) (hal. 43). Di mana hanya menjadi perbincangan-perbincangan virtual yang membosankan dan jauh dari keadaan lingkungan.
Kemudian Islam konservatif muncul, yang melandaskan dirinya sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapi masyarakat sekarang. Keterkaitan ajaran dengan solusi yang dimunculkan, secara langsung berdampak besar pada ketertarikan masyarakat.
Apabila solusi yang dimunculkan, condong ke arah egoisme dan abai akan rasa kemanusiaan, maka Islam beraliran radikal menjadi dominan. Sebaliknya, apabila solusi tersebut beraliran toleran dan mudah diterima semua golongan, maka prinsip tawassuth menjadi kemungkinan terbesar atas kecemerlangan Islam.
Penyebaran Virus Radikalisme
Selebaran postingan di media sosial ataupun selingan ajaran yang menyeru pada radikalisme sering terdengar di tengah-tengah kita. Tidak bisa dibendung, ajaran radikalisme terus merayap dan menyerbu benak siapa saja. Konflik sosial terus ditanggapi dan diselewengkan agar masyarakat bergeser sedikit demi sedikit dari ajaran toleran (hal.13). Apalagi ditambah kerja universal dari media sosial, tentu materi yang disampaikan akan tersebar sangat luas dalam waktu singkat.
Media selain menjadi alat canggih komunikasi, juga menjadi alat paling berpengaruh dalam menyerbarkan program radikalisme. Kelompok radikal yang selama ini bergerak menggunakan sistem konvensional, kini teradaptasi menuju digital.
Hal paling mungkin dari adaptasi yang digunakan adalah memaksimalkan media untuk kepentingan penyebaran ajaran terorisme. Sehingga media yang hidup berdampingan dengan manusia, harus menggunakan prinsip selektif dalam penggunaannya.
Selain itu, pendekatan formalistik dalam ajaran moderasi akan menimbulkan tumbukan ganda dalam proses penyebaran. Pertama, kurang optimalnya materi yang disampaikan. Kebanyakan yang mendengarkan hanya menangkap sebagian kecil dari materi.
Selanjutnya, hanya beberapa saja yang melakukan praktik atas materi tersebut. Kedua, efek bosan dari pemaparan yang dilakukan. Kebosanan yang ada dalam benak masyarakat dapat menjadi efek balik yang menguntungkan pihak intoleran (hal.52).
Hal ini selaras dengan survei yang dilakukan oleh UIN Syarif Hidayatullah dan UNDIP (2017) yang dirillis oleh CSIS Commentaries (2019), jika 85,5% dari 1859 responden menyatakan sikap setuju terhadap pelarangan kelompok-kelompok minoritas. Kemudian ada juga 10% dari responden yang menyatakan setuju atas pendirian negara khilafah dan menyetujui penggunaan kekerasan dalam upaya pembelaan agama.
Oleh karena itu, sangat penting memahami seperti apa konstruksi-spiritual yang harus dijalankan dalam pemenuhan Islam Wasathiyah. Menemukan sebuah konsepsi yang sesuai dan bersifat efektif dalam mengalahkan program radikalisasi dari kelompok intoleran. Sehingga ajaran yang disampaikan kelompok radikal tidak berefek pada kesetabilan bangsa.
Kerjasama Moderasi dan Islam Wasathiyah
Setidaknya ada dua faktor yang perlu diperbaiki untuk memaksimalkan kerja moderasi dari Islam Wasathiyah, yaitu tata ulang metode pengemasan dan konsepsi pendekatan (hal. 56). Metode pengemasan bisa dirancang kaum milenial menggunakan media desain dan tata kalimat yang baik. Apabila konten dibuat dengan desain dan kalimat yang menarik, maka penonton akan lebih fokus dan gampang menerima ajakan yang disampaikan.
Kemudian konsepsi pendekatan bisa dirancang dengan pendekatan psikologis. Misalnya bahaya konten radikal terhadap perilaku sosial masyarakat. Konten radikal bisa membunuh karakter manusia yang bijaksana dan terbuka pada perbedaan yang ada. Pendekatan-pendekatan seperti itu bisa dilakukan untuk mencegah masyarakat mengakses ataupun menyerap ajaran radikal.
Sebuah gerakan substansial bisa dibentuk dari gerakan-gerakan kecil yang disebut sebagai hijrah. Dimana hijrah bisa diartikan sebagai proses perpindahan dari hal buruk menuju sesuatu yang lebih baik. Substansi hijrah bisa digunakan untuk membangun penyemaian Islam Wasathiyah. Dimana hijrah menjadi ghirah atau semangat bagi semua orang untuk bersama-sama menegakkan Islam Wasathiyah.
Menuju ke arah yang lebih baik, itulah arti umum dari gerakan hijrah. Maka perpindahan gerakan radikal menuju Islam toleran, menjadi suatu bentuk hijrah terbaik pada umat Islam. Islam Wasathiyah akan menjadi kunci atas gerakan hijrah yang dilakukan. Menstabilkan keadaan dan mendudukkan Islam ke jenjang yang lebih stabil dengan mengutamakan kemanusiaan.








Leave a Comment