Hidup (Benar-benar) Sebuah Pilihan: Refleksi Tafsir Surat Asy-Syams

Harakatuna

17/07/2025

6
Min Read

On This Post

Harakatuna.com -Menjalankan hidup atas dasar-dasar perintah agama adalah salah satu corak dari muslim sejati yang taat. Karena pada hakikatnya masalah-masalah yang kita hadapi di setiap fase tarikan nafas itu dijawab oleh agama secara mendasar lalu dikembangkan dengan ilmu-ilmu yang ada. Dasar-dasar masalah yang terjadi secara umum sudah termaktub dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an berisi mengenai hukum, ekonomi, sosial, wa’ad wa’id (janji dan ancaman), petunjuk, aqidah, mu’amalah, ilmu pengetahuan. Ada salah satu yang menjadi part terpenting dalam Al-Qur’an, itu dia sejarah. Di sana tertulis semenjak penciptaan manusia (bahkan sebelum penciptaan itu seperti alam semesta) sampai nanti manusia dikembalikan serta proses hancurnya apa yang telah diciptakan kemudian sampai ke dalam pembahasan eskatologi. Sifat sejarah sendiri adalah spiral. Maksudnya, kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu akan kembali terjadi di masa mendatang namun dengan tokoh, tempat, dan zaman yang berbeda. Hakikatnya peristiwa tersebut Allah datangkan agar senantiasa manusia selalu “Iqro” ayat-ayat Al-Qur’an serta mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.

Terdapat dalam Al-Qur’an sebuah surat yang menjadi salah satu dari corak ayat dan surat sejarah. Surat ke-91, memiliki ayat sebanyak 15 ayat, terdapat pada Juz 30, yakni Surat Asy-Syams.

Sebelum masuk ke bagian teks sejarah, pada ayat 1-6, Allah menyatakan bahwa Dia bersumpah atas 6 perkara bukti kekuasaannya. Asy-Syams (Matahari), Al-Qomar (Bulan), An-Nahr (Siang), Al-Lail (Malam), As-Sama’ (Langit), dan Al-Ardh (Bumi). Enam hal yang saat pembaca sedang membaca artikel ini semuanya masih menjalankan tugasnya masing-masing secara teratur. Maka karena enam hal inilah yang mewajibkan setiap muslim untuk mengonfirmasi keimanan mereka terhadap keberadaan Tuhan. Sebagaimana sebuah kutipan dalam buku “Islam, Sains, dan Muslim” karya Seyyed Hossein Nasr. Di sana dijelaskan mengenai perbedaan antara seorang skeptis modern dan seorang muslim. Para skeptis modern berpendapat bahwa keteraturan fenomena alam adalah bukti bahwa kosmos (jagat raya/alam) tidak membutuhkan Tuhan. Sebaliknya, justru Islam memandang bahwa keteraturan ini merupakan tanda Kebijaksanaan dan Kehendak-Nya atas alam semesta sebagai bukti keberadaan-Nya. Sebagai contoh, orang skeptis akan menunggu matahari terbit dari barat untuk mengakui adanya Tuhan. Kenapa demikian? Karena terjadi ketidakteraturan dalam tatanan alam ini. Sementara bagi seorang muslim, matahari terbit setiap pagi pun itu menjadi sebuah bukti dari Keagungan Tuhan. Maka adanya keteraturan dalam peredaran benda-benda langit tersebut merupakan alasan kita mengakui keberadaan Tuhan sang pemiliki alam semesta.

Namun pesan yang terkandung dalam enam ayat tersebut adalah ketika kita mencoba membagi enam ayat itu menjadi tiga kelompok. Matahari dengan bulan, siang dengan malam, langit dengan bumi. Kita lihat enam hal tersebut berhubungan ketika dikelompokkan. Matahari sering dikaitkan menjadi lawan dari bulan. Begitu juga siang yang berlawanan dengan malam. Pun langit dan bumi. Sang Pencipta ingin menunjukkan bahwa dua hal tersebut adalah dwitunggal yang selalu dikaitkan atas perbedaannya. Perbedaan yang sangat jelas. Allah menyiratkan suatu hal pastinya selain hanya dari pada teks tersebut.

Ketika kita melanjutkan ke ayat 7, “dan demi jiwa (nafs) serta penyempurnaan (ciptaan)-nya”. Ternyata Allah ingin menyampaikan satu pesan kepada kita bahwa manusia ini terdiri atas penciptaan jiwa yang telah Allah sempurnakan. Hubungan antara konteks benda-benda langit dengan jiwa manusia ternyata dikaitkan kepada dua potensi yang Allah berikan pada jiwa manusia. Potensi yang sangat jelas perbedaannya sebagaimana jelasnya perbedaan enam benda langit tersebut tetapi selalu saling berkaitan. Apa potensi tersebut? Allah sempurnakan penciptaan jiwa manusia dengan memberikan dua potensi yaitu Fujur dan Taqwa. Kejahatan dan Ketakwaan. Dua potensi inilah yang senantiasa akan mewarnai jiwa seorang insan. Taqwa adalah cara seorang hamba menyucikan jiwanya dari kotoran-kotoran. Sedangkan fujur justru kejahatan yang mana menyebabkan kotornya jiwa. Taqwa diposisikan sebagai tingkatan yang tinggi untuk dilakukan seorang hamba dengan derajat yang begitu memuaskan. Sampai-sampai Allah sudah mempersiapkan surga bagi mereka yang bertaqwa[1]. Ada istilah ‘banyak jalan menuju roma’, begitu juga banyak jalan menuju taqwa. Karena Al-Qur’an sendiri yang menerangkan begitu banyak cara-cara agar kita bisa berada ditingkatan taqwa[2].

Sebagaimana baju yang bersih, ketika tidak dipakai sama sekali, dibiarkan, bahkan hanya sebatas disimpan di lemari (tentu dengan waktu yang lama), maka baju tersebut akan berdebu bahkan mungkin bisa kotor. Allah terangkan bahwa hakikatnya jiwa (nafsu) itu selalu mendorong kepada kejahatan/kejelekan[3]. Jiwa yang tidak di-manage untuk melatih ketaqwaan akan selalu memerintahkan otak kita untuk melakukan hal-hal yang dilarang atau tadi kita sebut fujur dalam konteks ini. Fujur ini sifat yang harus dihindari. Bahkan karena sangat harus dihindarinya, sifat fujur juga berpengaruh terhadap cara manusia memandang dan berpikir akan sesuatu hal.

Kaum Tsamud, kaum yang disinggung dalam surat ini karena telah menolak ajakan rasul pada zamannya yaitu Nabi Shaleh. Kaum Tsamud terkenal dengan gaya hidup mereka yang hedonis. Selain itu mereka terkenal dengan perilaku maksiat seperti zina, mabuk-mabukan, dsb. Bangunan-bangunan tinggi yang menjulang tidak juga meninggikan nilai moral mereka. Ajakan demi ajakan dilakukan oleh Nabi Shaleh agar umatnya taat kepada tali agama Allah, namun tolakan demi tolakan dilontarkan kepada Nabi Shaleh sebagai bukti mereka tidak mau ikut serta dalam jalan kebenaran Tuhan.

Akhirnya, pada suatu masa mereka Kaum Tsamud membuat sebuah kesepakatan dengan Nabi Shaleh bahwa mereka menantang Nabi Shaleh untuk mengeluarkan seekor unta dari sebuah batu. Sebuah tantangan yang tidak masuk akal. Hal yang tidak bisa diterima secara akal manusia yang terbatas. Sebuah ide gila. Namun tidak ada yang tidak mungkin jika bersama dengan pemilik segalanya. Api menjadi dingin bagi Ibrahim, laut terbelah bagi Musa, banjir bandang tidak membuat Nuh dan kaumnya terbawa arus. Semua atas izin Allah. Akhirnya Allah memerintahkan Nabi Shaleh untuk memukul sebuah batu besar dan keluarlah seekor unta betina yang gemuk dan besar.

Kembali ke sifat fujur. Fujur telah merasuki sebagian dari Kaum Tsamud. Kebenaran yang Allah tampakkan secara nyata mereka dustakan dengan sangat. Mereka tidak terima. Jiwa mereka yang asing dengan kebaikan (taqwa) membuat unta betina yang keluar dari batu itu dibunuh. Kalau dilihat dari ayatnya, “Namun, mereka kemudian mendustakannya (Shaleh) dan menyembelih (unta betina) itu”. Ada pula yang menyebutkan bahwa alasan unta tersebut dibunuh dikarenakan terlalu banyak meminum air sehingga dikhawatirkan menghabiskan cadangan air warga. Apa pun alasannya, jiwa yang tidak dibina menuju ketaqwaan akan usang menjadi kejelekan. Sehingga ketika hidayah dan kebenaran datang pun ia akan menganggap hal tersebut kebohongan. Akhirnya Allah mendatangkan azab bagi Kaum Tsamud dengan menghancurkan negerinya. Gedung-gedung yang mereka bangun secara menjulang itu akhirnya hancur oleh kejelekan yang mereka bangun secara sadar.

Sebuah refleksi bagi umat zaman now. Hidup adalah pilihan. Hidup benar-benar sebuah pilihan. Sejatinya peristiwa-peristiwa yang tercantum dalam Al-Qur’an bisa menjadi renungan bagi kita. Kita mau masuk kepada golongan yang mana. Tinggal kita yang memilih. Bagi mereka yang ingin berjuang menempuh jalan taqwa, “aflaha”, mereka sangat beruntung dan berbahagia. Tapi bagi mereka yang merelakan jiwanya kosong tak berpenghuni sehingga dicaplok oleh fujur, “khooba”, mereka mengotori jiwanya sehingga tergolong orang-orang yang rugi. Mari memilih. Di sini tidak bisa bersikap netral atau fair di tengah, karena netral artinya rela jiwanya rusak dan kotor. Taqwa artinya surga. Fujur ujungnya neraka.


[1] Lihat QS. Ali Imron: 133

[2] Lihat QS. Al-Baqoroh: 1-5, 183, QS. Ali Imron: 134-135, QS. Al-Anfal: 2-4, dan masih banyak lagi

[3] Lihat QS. Yusuf: 53

Oleh Imam Qori Miftahul Haq

Leave a Comment

Related Post