Harmoni Tanpa Tragedi di Tengah Masyarakat Multikultural

Ali Yazid Hamdani

29/09/2024

6
Min Read
Harmoni

On This Post

Judul Buku: Assalamualaikum Saudara-saudaraku, Penulis: Edi Ah Iyubenu, Penerbit: DIVA Press, Tebal: 108 Halaman, Tahun Terbit: Juni 2020, ISBN: 978-602-391986-4, Peresensi: Ali Yazid Hamdani.

Harakatuna.com – Islam yang dihadirkan dalam buku ini memberikan respons terhadap berbagai problema keberagaman dan keberagamaan di Indonesia. Edi Ah Iyubenu berhasil memberikan pandangan Islam yang dinamis, luwes, damai, dan tidak jumawa dengan terlalu fanatis terhadap satu mazhab semata dengan mengganggap yang berlselisih paham dengannya tidak segan-segan membid’ahkan dan men-judge-nya sesat bahkan kafir.

Polemik kebangsaan, kebudayaan, dan keberagamaan dibenturkan seolah bertentangan, padahal jika kita mau jeli, sejauh itu tidak menyekutukan Tuhan dan tidak memunggungi akidah dan syariat itu sah-sah saja. Karena sejatinya Islam hadir sebagai agama kemanusiaan. Tidak hanya tentang ritual keagamaan dengan Tuhan semata. Jauh dari itu terdapat pesan sosial yang terkandung dan ingin disampaikan kepada manusia.

Awalnya saya mengira buku ini adalah rangkaian petuah motivasi dari penulis melihat judulnya “Assalamualaikum Saudara-saudaraku”. Ternyata memang benar demikian adanya, tapi berbeda dengan buku motivasi lain. Jika yang lain menyuguhkan kata bijak dan dorongan yang meledak-ledak, justru buku ini menyuguhkan khazanah pemikiran tokoh-tokoh tersohor yang dikemas begitu luwes sehingga mudah dipahami. Dan ini merupakan sebuah motivasi untuk lebih gigih menebarkan Islam ramah yang tidak mudah marah.

Buku ini memang lebih bersifat personal mengenai rekam jejak perjalanan intelektual hingga spiritualnya. Namun tidak hanya itu, beberapa bagian lagi membahas tentang ketakwaan, keimanan hingga puncaknya akhlak mulia. Dari gaya tutur tulisnya membuat diri terkesima dengan berbagai gagasan dan argumennya yang begitu argumentatif-logis dengan menebarkan Islam sebagai risalah damai yang menjunjung tinggi kesamaan (musawah), kesepahaman (kalimatun sawa’), moderasi (wasathiyah), toleransi (tasamuh), dan keselarasan dalam kehidupan bersama dimana semua dipandang berasal dari Allah dan akan kembali pada-Nya.

Dari sketsa-setting historinya yang cukup singkat memberikan banyak pelajaran yang cukup dalam. Mulai dari kegigihan dan semangat perjalanan intelektual dan spritual menyemburat seolah mengajak pembaca ikut serta dalam skenario dramanya. Para tokoh besar seperti halnya, Imam Ghazali, Imam Syatibi, Muhammad Thaha bin Asyur, dan Quraish Shihab yang memiliki pemikiran progresif, toleran dan pandangan yang mutawasith turut serta dihadirkan dalam mewarnai khazanah kekayaan buku ini.

“Sungguh saya heran karena tak pernah berhasil menalar dengan cara apa pun, apa gerangan yang ada dalam pikiran dan ilmu rasional seseorang atau sekelompok Muslim yang begitu memaksakan diri untuk menyeragamkan mazhab, paham, aliran, dan amaliah umat Islam se-Indonesia ini? Bahkan sebagiannya terseret pada tebaran ucapan dan perbuatan yang mafsadah, berpunggungan dengan akhlak karimah, dan nilai-nilai etis kemanusiaan, seperti tudingan sesat dan kafir” (hlm. 23-24).

Khazanah ilmu dan fatwa sejak zaman salafusshalih pun telah sedemikian berbeda dan beragamnya. Apalagi di zaman kita saat ini yang makin membeludak umatnya serta semesta realitas dan kebudayaannya, sehingga otomatis pula kebutuhan atas fatwa-fatwa hukum pun makin tak terbendung jalarannya.

Lanjut Edi mempertanyakan, lantas apa logika sehatnya untuk terus menuntut umat seluasnya untuk menganut satu mazhab dan amaliah? Padahal tujuan esensial Al-Qur’an dan hadis adalah semata kemaslahatan dan mencegah keburukan, lantas apa logika sehatnya bagi siapa pun yang mengesahkan ucapan-ucapan dan tindakan tak bermoral kepada orang lain yang berbeda anutan; bukankah itu serupa dengan menyatakan membela dan menegakkan syariat Islam dan menginjaknya sekaligus? (hlm. 24).

Setidaknya dalam berdakwah kita tidak lepas dari yang ajaran Al-Qur’an dan sunah Nabi. Al-Qur’an mengajarkan tiga pola metode dakwah; 1) bil hikmah, yakni melakukan dakwah secara bijak, dapat mengetahui situasi dan kondisi yang dapat diterima oleh setiap lapisan masyarakat. Paling tidak tetap menjunjung tinggi nilai toleransi dan saling menghargai, menebar kedamaian untuk kemaslahatan sosial; 2) al-mau’idhoh hasanah, memberikan nasihat-nasihat yang baik, santun, tidak serta merta menghakimi pihak yang selisih paham, atau lebih ekstrem lagi menudingnya bid’ah, sesat, bahkan kafir; 3) wa jaadilhum billatii hiya ahsan. Dakwah berupa dialog atau tukar pikiran dalam rangka menjernihkan pemahaman tanpa ada ketegangan. Hal itu selaras dengan ungkapan Imam Syafi’i.

Bahkan dalam beberapa ayat lainnya menyatakan tidak ada paksaan dalam beragama (laa ikraaha fi ad-din). Terkadang kita sering lupa bahwa kita hanya diberi tugas untuk mengajak dan menyeru kebaikan bukan memaksa. Bahkan Rasulullah pun begitu menghormati keragamanan, mengutamakan kemanusiaan daripada keberagamaan. Sekali lagi kemaslahatan untuk kemanusiaan sangatlah tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Lantas apa yang yang menjadikannya suatu paksaan untuk menganut dan menggegap-gempitakan ajakan teologi kebenaran tunggal yang disokong?

Allah pun menghendaki keberagaman manusia dengan berbagai macam suku dan budayanya tidak lain hanya untuk saling mengenal (QS. Al-Hujarat: 13). Bukan hal yang musykil bagi-Nya menghendaki dan menjadikan manusia umat yang satu (ummah wahidah) (QS. Hud: 18). Mengajak kepada kebaikan sangat boleh dan dianjurkan sejauh tidak memunggungi akidah dan syariat, memaksa jangan, apalagi sampai menghakimi yang liyan sesat, bid’ah, atau kafir.

Dari saking cinta dan sayangnya Allah kepada kita (manusia) diciptakan dalam keadaan fitrah, yakni cenderung kepada keimanan tauhid dan perbuatan baik. Hal ini digariskan-Nya sejak terjadinya ikrar manusia saat pertama kali ditiupkan ruh pertama kali di rahim ibunya (QS. Al-A’raf: 172).

Semungkar-mungkarnya manusia, semursal-mursalnya dan betapa pun maksiatnya sekalipun dalam bertindak. Tetaplah memiliki hati nurani bahwa apa yang dilakukannya salah atau buruk, yang diiringi desir hasrat di dalam hatinya untuk suatu waktu kembali kepada-Nya menjadi selaras dengan fitrah itu.

Silakan cek, mau di belahan bumi mana pun, dengan khazanah kebudayaan apa pun, serta di masa apa pun, pastilah segala perbuatan baik yang selaras dengan etika kemanusiaan akan dirayakan, dan segala yang bertentangan dengannya akan dinistakan. Termasuk orang-orang yang tak membenarkan adanya Tuhan dan agama sekalipun, bisa saja memperlihatkan sikap dan perbuatan yang selaras dengan nilai-nilai saleh agama.

Meski demikian, tentu saja berbeda antara orang yang berbuat baik selaras dengan nilai etis kemanusiaan universal yang berasaskan iman dan tauhid. Ulama kita pun dengan jelas dan terang mengajarkan kita bahwa perbuatan baik dikatakan kaffah jika berlandaskan iman dan kemudian patuh terhadap syariat-Nya. Pun sebaliknya, umpama ada sekelompok orang yang telah beriman kepadaNya dan kokoh menjalankan syariat-Nya, tetapi menghamburkan ucapan dan perbuatan yang tidak selaras dengan nilai-nilai etika kemanusiaan, itu pun bukanlah perilaku fitrah yang kaffah. Ini pun bermasalah (hlm. 47).

Di sinilah letak gradual iman, syariat, dan ihsan berpadu saling menguatkan, betapa pun kuat pengakuan imannya, kokoh pengamalan syariat-Nya, sefasih apa pun menukil ayat, hadis, dan khazanah kutub at-turats dari ulama, jika ucapan dan perbuatannya mengakibatkan ketidakadilan, penjustifikasian iman (takfir), membid’ahkan yang berselisih pandang, dan sebagainya.

Selain menggunakan bahasa yang luwes, ringan, dan mengalir, kerangka konsep berpikir yang disuguhkan pun luwes, dinamis dan tidak rigid. Buku ini menebarkan Islam damai yang menjunjung tinggi kesamaan (musawah), moderasi (wasathiyah), toleransi (tasamuh) yang harus disebar-luaskan ke khalayak ramai. Masa depan Islam seperti itulah yang harus tetap ada dan dipertahankan, kata Azyumardi Azra Islam wasatiah yang rahmatan lil ‘alamin, yang bukan hanya menjadi rahmat untuk umat Islam, tetapi juga bagi umat beragama lain dan bahkan untuk alam semesta dengan segala makhluk.

Leave a Comment

Related Post