Serial Pengakuan Mantan Teroris (XX-IX): Haris Khadirin Korban Ideologi Jamaah Islamiyah (JI)

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.

30/10/2020

2
Min Read
Haris Khadirin

On This Post

Paham Islam radikal sampai detik ini masih tercium di manapun, tak terkecuali di Indonesia. Indonesia hendaknya lebih berhati-hati mengamputase paham ini supaya tidak menyebar begitu luas di negara merah putih ini. Termasuk juga di pesantren-pesantren sebagaimana yang menjangkit Haris Khadirin.

Haris Khadirin asal Indonesia juga pernah terpapar ideologi Jamaah Islamiyah (JI). Seperti pengakuannya pada acara talkshow ROSI Kompas. Haris Khadirin mengaku pernah nyantri di Pesantren Amrozi, pelaku teror di Bali dan mendapat hukuman mati.

Haris Khadirin menyangkal persepsi keliru yang dialamatkan banyak orang bahwa Pesantren Amrozi itu mengajarkan paham radikal. Pesantren itu diasumsikan mengajarkan perang melawan kepolisian yg dianggap dengan “thaghut”. Pesantren itu mengajarkan sesuatu persis banyak pesantren pada umumnya.

Paham radikal dan teroris kemungkinan didapatkan dari luar pesantren. Namun juga banyak berkembang di pesantrn. Sebagaimana yang menjangkit Haris di Pesantrnen Amrozi. Bisa jadi kelompok yang sering ngajak hijrah ke negara ISIS, Suriah. Bisa jadi pula teman pergaulan yang kurang sehat. Pesantren masih dapat dibilang kuat membentengi radikalisme.

Buktinya, pesantren-pesantren masih dipercaya oleh masyarakat menjadi media belajar yang menjunjung tinggi paham moderat dengan menegakkan ideologi Sunni. Bahkan, setiap tahun Indonesia masih mengapresiasi pesantren dengan perayaan hari santri nasional.

Tidak perlu khawatir belajar di pesantren. Justru dengan hadirnya pesantren masyarakat Indonesia harus banyak bersyukur. Karena, pesantren ini ibarat tameng budaya, taming pemahaman keagamaan yang benar dan tidak menyesatkan. Jika tidak ada tamengnya, ke mana lagi berlindung. Pesantren tetap moderat, sekalipun perkembangan pesantren terlihat lambat dibandingkan lembaga di luar pesantren.

Sebagai penutup, tidak perlu khawatir dengan kehadiran pesantren di era kontemporer sekarang di mana Indonesia sedang terpapar paham radikal. Paham berbahaya ini hanya menyerang orang yang keislamannya rendah, tentunya orang yang belum pernah nyantri. Orang ini hanya belajar Islam di google.[] Shallallah ala Muhammad.

Leave a Comment

Related Post