Hari Guru Nasional dan PR Kontra-Radikalisasi untuk Generasi Masa Depan Bangsa

Ahmad Khairi

25/11/2025

6
Min Read
Hari Guru Nasional

On This Post

Harakatuna.com – Hari ini adalah Hari Guru Nasional. Sebagai seorang guru, saya menyadari satu hal, bahwa Hari Guru Nasional bukan merupakan pengingat keras tentang betapa beratnya beban baru yang harus guru pikul di era digital yang penuh risiko tersembunyi. Jika dulu ancaman bagi siswa berupa tawuran, narkoba, atau pergaulan bebas, hari ini ancamannya tersembunyi namun tak kalah mematikan: radikalisasi digital. Tentu, di sini tidak hendak menegasikan bahaya narkotika. Semuanya sama-sama perlu dilawan.

Beberapa waktu terakhir, ada penemuan bahwa Roblox dan Discord telah jadi lahan subur diseminasi kebencian, kekerasan, dan ideologi ekstrem. Anak-anak dijadikan target paling empuk karena rentan secara emosional, rapuh secara sosial, dan sangat bergantung pada internet sebagai ruang bermain, ruang belajar, sekaligus ruang pelarian. Mereka bersosialisasi di tempat-tempat yang guru dan orang tua bahkan tidak tahu cara mengaksesnya.

Temuan lebih dari 110 anak terpapar radikalisme sepanjang 2025, sebagaimana diungkap Densus 88, jelas merupakan ironi yang meresahkan. Itu jadi cerminan betapa jauhnya jarak antara dunia digital anak dan pemahaman generasi dewasa. Anak-anak hidup dalam ekosistem algoritma, meme, thread negatif, obrolan privat, role-play yang bercampur dengan kekerasan, dan geng virtual yang memvalidasi rasa alienasi mereka. Radikalisasi bekerja dengan senyap, repetitif, dan berkamuflase sebagai hiburan.

Para guru hari ini berada di garis depan pertempuran yang tidak pernah mereka minta tapi juga tak mungkin mereka hindari. Bayangkan, mereka harus membaca tanda-tanda perubahan perilaku, memetakan kerentanan psikologis siswa, memahami dinamika digital tempat anak-anak berinteraksi, hingga jadi penyangga terakhir agar narasi ekstrem tidak menemukan pijakan di ruang kelas. Beban tersebut jelas terlalu berat. Ironisnya, beberapa orang tua malah suka mempolisikan guru.

Apakah guru sudah terbekali dengan kapasitas untuk menghadapi ancaman baru itu? Apakah mereka memiliki literasi digital yang memadai? Apakah mereka dapat dukungan psikososial, pelatihan keamanan digital, dan pemahaman tentang pola-pola radikalisasi baru? Atau justru mereka dibiarkan berhadapan sendirian dengan ancaman yang tumbuh cepat, masif, dan sudah menyusup ke gawai para siswa sejak lama? Hari Guru Nasional mesti merefleksikan tantangan tersebut.

Siswa-Siswi Rentan Diradikalisasi

Penting dicatat bahwa, ruang kelas hari ini merupakan titik silang berbagai pengaruh yang tidak mungkin dibayangkan satu dekade lalu. Anak-anak hidup dalam ekosistem digital yang tak lagi dibatasi otoritas apa pun. Mereka disetir algoritma. Mereka selalu belajar dari potongan video yang tak pernah diverifikasi, dari kelompok virtual yang tidak selalu mereka pahami, dan dari figur anonim yang terus membisikkan narasi ekstrem secara halus tetapi konsisten. Dan itu riskan.

Maka tidak heran ketika lebih dari 110 anak di 23 provinsi pada tahun ini terpapar radikalisme lewat internet. Sebagian besar mereka berasal dari keluarga broken home, korban bullying, atau anak yang kurang dapat perhatian emosional. Anak yang sedang mencari validasi dan identitas dengan mudah dibawa masuk ke ruang gelap yang mereka sendiri tidak tahu bagaimana cara keluar. Mereka mencari tempat diterima, bahkan di ruangan ekstremis sekalipun.

Bahkan yang lebih menggelisahkan adalah modus radikalisasi yang kini bertransformasi jadi lebih tersembunyi dan subtil. Perekrut tidak lagi tampil sebagai sosok otoritatif yang memberikan doktrin ideologis secara frontal. Mereka masuk melalui friend request, undangan grup, permainan daring, hingga meme humor gelap yang memancing rasa penasaran. Anak-anak disuguhi narasi visual yang ringan, mudah dicerna, dan dekat dengan dunia mereka.

Di titik itulah narasi ideologis disisipkan. Awalnya, hanya berupa pertanyaan-pertanyaan pemicu yang membuat anak berpikir bahwa mereka sedang diskusi biasa. Lalu konten ekstrem mulai muncul sedikit demi sedikit, lewat potongan video glorifikasi aksi teror, atau narasi akselerasionis yang meminta anak untuk andil dalam perubahan besar. Anak tidak menyadari bahwa grooming ideologis telah berlangsung, mereka tidak juga menyadari bahwa mereka tengah teradikalisasi.

Situasi tersebut membuat saya menyadari, kerentanan siswa adalah soal psikologi generasi. Generasi bangsa jadi sasaran empuk karena sistem digital tempat mereka tumbuh tidak pernah dirancang untuk melindungi. Radikalisasi, dalam bentuk apa pun, hanya memerlukan ruang aman, kelompok yang menerima, dan narasi yang memancing emosi. Platform yang mereka gunakan setiap hari menyediakan ketiganya sekaligus.

Itulah alasan mengapa persoalan radikalisasi anak harus dipahami sebagai isu psikososial, isu pendidikan, dan isu generasi. Anak-anak hari ini sedang dibentuk oleh kekuatan yang tidak pernah disentuh kurikulum, tidak pernah dikuasai guru, dan tidak pernah benar-benar dipahami orang tua. Ekstremisme menemukan jalannya, karena itu seiring waktu, tugas guru semakin besar.

Tugas Guru Semakin Besar!

Setiap tahun, peran guru bertambah luas, tetapi hari ini tantangannya terasa jauh lebih berat daripada satu dekade lalu. Guru menjadi penyampai ilmu dan pembentuk karakter, dan berada di garis depan medan perang informasi, propagasi digital, dan radikalisasi algoritmik. Ruang kelas kini dipenuhi bayang-bayang baru, yaitu persaingan antara pendidikan formal dan narasi ekstrem yang beredar 24 jam lewat gadget-gadget mereka.

Guru hari ini menghadapi generasi yang hidup bersama internet sejak lahir, generasi yang literasi digitalnya sering dianggap tinggi, padahal kenyataannya mereka hanya lihai mengoperasikan perangkat, bukan memahami risikonya. Anak-anak bisa menelusuri ribuan konten per hari, tetapi tidak mampu melakukan filtrasi. Guru harus mampu membaca gejala itu lebih cepat daripada algoritma. Ini bukan tugas yang mudah, terutama ketika sebagian besar konten radikal tidak terlihat.

Mereka juga harus berhadapan dengan fenomena radikalisasi anak yang bertolak dari kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi. Para ekstremis kini hadir sebelum guru sempat menyadarinya. Mereka menawarkan validasi instan, kelompok palsu, dan narasi heroik yang terasa lebih menggigit ketimbang nasihat moral di kelas. Guru jelas perlu memahami dinamika psikososial semacam itu, bukan mengajarkan Pancasila atau pendidikan agama semata.

Dalam banyak kasus, sinyal awal radikalisasi tampak samar dan sering lewat begitu saja. Murid yang semakin menyendiri, minat pada konten kekerasan, atau ketertarikan berlebih pada grup digital tertentu butuh kepekaan pendidik. Namun tidak semua guru dibekali pelatihan untuk membaca pola-pola seperti itu. Mereka tidak mendapatkan modul untuk mengenali propaganda kekerasan yang dibungkus humor gelap, atau bagaimana mendeteksi tanda awal rekrutmen digital di Discord, Roblox, atau grup tertutup di Instagram.

Karena itu, tugas guru semakin besar baik secara moral maupun secara struktural. Negara harus memfasilitasi pelatihan kontra-radikalisasi untuk tenaga pendidik, menyediakan kanal komunikasi cepat antara guru dan lembaga keamanan, serta memperbaiki kurikulum yang mampu menjangkau sisi literasi digital dan ketahanan psikologis siswa. Tidak adil bila guru dibiarkan bekerja sendirian menghadapi ancaman yang bahkan aparat keamanan pun sulit mengendalikan.

Guru merupakan figur dewasa yang perlu hadir sepenuhnya untuk murid. Di tengah derasnya arus radikalisasi di dunia digital, guru adalah benteng terakhir yang memberi anak ruang aman untuk bertanya dan mencari makna tanpa harus jatuh ke tangan kelompok yang memanipulasi kerentanan mereka. Tantangan yang mereka hadapi hari ini memang besar, tetapi dampak dari keberanian mereka untuk tetap hadir bagi murid akan jauh lebih besar bagi masa depan bangsa.

Selamat Hari Guru Nasional!

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post