Harapan Semu Eks-Napiter untuk HTS; Al-Jaulani Berkomplot dengan Zionis?

Ahmad Khairi

16/12/2024

6
Min Read
HTS Al-Jaulani Zionis

On This Post

Harakatuna.com – Ucapan selamat dan tahniah sejumlah mantan teroris di tanah air atas pendudukan Hay’ah Tahrir al-Syam (HTS) di Suriah menjadi menarik. Di satu sisi, itu bisa menjadi harapan seluruh Muslim di dunia sebagai langkah awal kemenangan Islam melawan zionis Yahudi. Namun, di sisi lain, ada teori konspirasi bahwa pemberontak itu tidak akan pernah melawan zionis dan justru berkomplot dengannya. Jadi, benarkah eks-napiter di Indonesia hanya menunggu harapan semu?

Penting dicatat, konflik di Suriah selama lebih dari satu dekade terakhir merupakan pertarungan geopolitik. Israel kerap luput dari perhatian, padahal perannya dalam konflik sangat signifikan. Bukti-bukti menunjukkan, bahwa Israel telah untung besar dengan runtuhnya rezim Assad, baik secara strategis proksi Timur Tengah maupun dalam konteks agenda zionisme itu sendiri.

Faktanya, sejak awal konflik, Israel memanfaatkan perang sipil Suriah untuk melemahkan musuh-musuh regionalnya, terutama Iran dan Hizbullah—pendukung utama Assad. Menurut laporan Suriah Observatory for Human Rights (SOHR), pada 2020 saja, Israel telah melancarkan 40 kali serangan udara menarget militer Iran dan sekutunya di Suriah. Pasukan Assad pun lemah karenanya. Pada saat yang sama, oposisi seperti HTS semakin kuat. Akhirnya Assad pun tumbang.

Jadi ada paradoks—atau juga ironi—di situ. Eks-napiter yakin bahwa HTS menang karena perjuangan mereka sendiri. Tampak heroik, namun naif karena mengabaikan aspek geopolitik. Sebab, kalau harus jujur, bukan orang Islam sedunia yang untung dengan runtuhnya Assad. Justru, Israellah yang ketiban durian runtuh: mereka secara tidak langsung berhasil memukul mundur Iran dan Hizbullah di Suriah, sekaligus akan segera berhasil mengokupasi Suriah itu sendiri.

Mari mulai dari perkara keamanan di perbatasan utara Israel. Rezim Assad selama ini jadi penghalang utama ambisi Israel di perbatasan utaranya, Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah yang memang telah diduduki Israel sejak 1967. Runtuhnya Assad semakin mengonsolidasikan kontrol Israel atas Golan dan semakin mendekatkan terwujudnya mimpi ‘Israel Raya’. Pencaplokan Golan akhirnya akan menjadi langkah strategis memulai okupasi atas wilayah Suriah secara keseluruhan.

Adapun ihwal lemahnya aliansi Iran-Hizbullah, runtuhnya rezim Assad memberikan Israel kesempatan untuk melemahkan kedua aktor tersebut dengan menyerang posisi mereka di Suriah tanpa harus berhadapan langsung di perbatasan Israel-Lebanon atau Israel-Iran. Semakin lemah Iran dan Hizbullah, semakin kecil ancaman terhadap Israel, baik di wilayah domestik maupun di perbatasan, juga semakin besar potensi realisasi ‘Israel Raya’ itu sendiri. Ironi.

Kelompok Teroris Itu Kawan Zionis!

Ambisi ‘Israel Raya’ bukan mitos belaka. Itu adalah bagian dari visi zionisme untuk mengekspansi wilayah hingga mencakup mayoritas Timur Tengah, termasuk wilayah Suriah. Kendati tak secara eksplisit dikemukakan pemerintah Israel, langkah-langkah strategis seperti pencaplokan Golan dan serangan terhadap Suriah mempertegas fakta bahwa selain demi mempertahankan status quo, Israel juga memanfaatkan chaos Suriah untuk memperluas pengaruh geopolitiknya di kawasan.

Ironisnya, sepanjang sejarah, kelompok teror selalu absen di hadapan Israel. HTS, ISIS, maupun Al-Qaeda impoten untuk melawan zionis, kendati mereka selalu mengklaim memperjuangkan Islam dan memerangi musuh-musuhnya. Bahkan, para teroris berada dalam taraf kemunafikan yang paling memuakkan, tatkala mereka malah lebih sibuk memerangi saudara semuslimnya sendiri, serta menghancurkan negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim.

Fakta tersebut adalah bukti bahwa kelompok teror itu boleh jadi berkomplot, secara langsung maupun tidak, dengan Israel, yang orientasinya adalah mendukung zionisasi Timur Tengah—menuju ‘Israel Raya’. Kemunafikan al-Jaulani, misalnya, mirip dengan kemunafikan rezim Arab Saudi. Maka lumrah sekali jika muncul pertanyaan kritis: apakah ada bentuk kolaborasi, sadar atau tidak, antara para dedengkot kelompok teror itu dengan kepentingan zionis Israel?

Baru-baru ini, al-Jaulani menegaskan bahwa HTS tidak punya agenda untuk menyerang Israel. Katanya, HTS akan fokus pada konflik sektarian dan agenda lokal, tanpa mempersoalkan keberadaan Israel. Namun itu hanya kedok licik murahan. Al-Jaulani tengah memainkan strategi diam-diam untuk membiarkan Israel berkembang tanpa perlawanan. Jika kongkalikong HTS atau al-Jaulani dengan zionis itu memang tak ada, lantas kenapa musuh utama Islam justru mereka biarkan? Naif.

Kisah serupa ditemukan pada ISIS dan Al-Qaeda. ISIS, kendati sempat punya kekuatan besar tidak pernah sekali pun meluncurkan serangan terhadap zionis Israel. Sebaliknya, ISIS memilih menargetkan negara Muslim seperti Suriah, Irak, Libya, bahkan menyerang masjid-masjid dengan barbar dan tak berperikemanusiaan. Al-Qaeda pun sama, hanya membenci zionis dalam wacana. Itu semua karena para teroris takut pada Israel, atau memang karena satu komplotan?

Satu hal yang pasti adalah, bahwa kelompok-kelompok teroris secara sadar ataupun tidak telah berkontribusi pada strategi zionisme untuk melemahkan dunia Islam. Kemungkinan hubungan tak langsung antara al-Jaulani dengan aktor-aktor zionis bukan kabar angin belaka, melainkan penerokaan historis yang ekstensif. Mau HTS menyanggah pun, Israel memang diuntungkan oleh al-Jaulani. Golan, Hizbullah, dan pendudukan Suriah akan selalu berjalan mulus ke depan.

Seseorang dapat berkilah bahwa diamnya HTS atas Israel hanya soal menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Namun perlu diingat, sepanjang sejarah, mereka berkomplot secara politis yang memperjelas bahwa al-Jaulani dan gengnya tidak pernah benar-benar musuh zionis: mereka pemicu kehancuran negara Muslim sekaligus pemicu kejayaan Israel. Jadi kalau mereka bilang tengah memperjuangkan Daulah, ketahuilah maksudnya adalah Daulah ala Minhajusshahyuniyyah!

Daulah ala Minhajusshahyuniyyah

Negara berdasarkan manhaj zionisme (Daulah ala Minhajusshahyuniyyah). Frasa tersebut saya buat dalam konteks kritik, menggambarkan bahwa negara atau sistem yang dicanangkan kelompok teror itu secara esensial mirip dengan zionisme. Sebagaimana zionis yang atas nama tugas suci Yahudi mencoba mencaplok sebuah negara, para teroris juga atas nama tugas suci Islam mencoba mencaplok negara-negara targetnya. Mereka, zionis dan teroris, sama-sama barbar.

Kembali pada sejumlah eks-napiter yang menganggap HTS akan jadi ujung tombak perlawanan terhadap Israel. Ekspektasi tersebut tak lebih dari mimpi kosong. Sejarah dan fakta lapangan menunjukkan bahwa HTS, di bawah al-Jaulani, sama sekali tidak pernah menargetkan Israel. HTS dan kelompok teroris lainnya justru mengarahkan senjatanya ke sesama Muslim. HTS telah gagal melawan zionisme dan bahkan jadi sekutu informal para zionis itu sendiri.

Secara umum, kelompok teror memang kerap menarasikan Khilafah ala Minhajunnubuwwah, sistem pemerintahan ala metode Nabi Saw. Namun, dalam praktiknya, cita-cita mereka lebih menyerupai Daulah ala Minhajusshahyuniyyah, yaitu negara berdasarkan metode zionisme: okupasi dan teror. Ada tiga kesamaan antara zionisme Israel dengan konsep khilafah yang dinarasikan kelompok teroris, yakni klaim tugas suci dan nubuat, caranya yang ekstrem dan barbar, serta membunuh warga sipil.

HTS dan zionisme itu dua wajah satu agenda. Artinya, harapan bahwa HTS akan menjadi perlawanan terhadap zionisme hanyalah ilusi nir-makna. Al-Jaulani dengan HTS justru telah jadi bagian dari strategi zionis untuk menciptakan chaos dan melemahkan dunia Islam di satu sisi, dan mendirikan ‘Israel Raya’ di sisi lainnya. Karena itulah, frasa Daulah ala Minhajusshahyuniyyah sangat tepat mendeskripsikan hakikat gerilya al-Jaulani dan HTS.

Kelompok teror dan zionis adalah cerminan framework yang sama: menghalalkan segala cara untuk tujuan yang mereka klaim sebagai nubuat. Di situlah eks-napiter atau siapa pun yang berharap HTS akan menyerang Israel sadar. HTS merupakan alat penguat posisi zionisme di Timur Tengah. Mereka adalah dua sisi dari koin yang sama: membawa kebrutalan bagi umat manusia atas nama agama. Alih-alih memperjuangkan Islam, mereka sebenarnya tengah menghancurkannya.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Rujukan

Mehr News Agency. 2024. “Al-Jolani Says His Group Won’t Engage in Fight with Israel,” https://en.mehrnews.com/news/225583/Al-Jolani-says-his-group-will-not-fight-occupying-Israel.

Leave a Comment

Related Post