Harakatuna.com – Kabar menyesakkan datang dari Palestina. Pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, dilaporkan tewas di Iran. Hamas menyebut dalam pernyataan resminya bahwa pemimpin politik mereka dibunuh di kediamannya di Iran. Kelompok yang menguasai Gaza itu mendeskripsikan bahwa Haniyeh “tewas dalam serangan mematikan Zionis”, dan mengumumkan dukacita atas nama bangsa Arab dan Islam.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menyampaikan belasungkawa dan mengatakan tengah menyelidiki penyebab dan seberapa parah dampak dari insiden tersebut. IRGC yang notabene kekuatan militer, politik, dan ekonomi utama di Iran yang berhubungan erat dengan pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, itu bahkan menyebut Haniyeh dan salah satu pengawalnya meninggal secara ‘syahid’.
Pembunuhan Haniyeh tentu bisa berdampak buruk, yakni memantik perang terbuka sebagaimana disampaikan Nader Hashemi, seorang profesor Studi Timur Tengah di Universitas Georgetown. IRGC Iran dan Hizbullah Lebanon, awalnya kata Hashemi, tidak akan terseret eskalasi konflik, namun tewasnya Haniyeh bisa mengubah geopolitik Timur Tengah. Artinya, ke depan, antara Hamas dan Zionis menentukan titik perang.
Kematian Haniyeh boleh jadi juga tidak hanya menunda upaya untuk mewujudkan gencatan senjata di Gaza. Bagaimana tidak, Hamas sudah mengatakan bahwa kematian Haniyeh akan “membawa pertempuran ke dimensi baru” dan mempunyai dampak besar ke depannya. Bersamaan, beberapa negara termasuk Irak, Turki, Rusia, dan Qatar ikut mengutuk serangan Zionis terhadap pimpinan Hamas tersebut.
Selain itu, Pemimpin Iran Ayatollah Khamenei juga bersumpah akan memberikan “hukuman berat” terhadap Israel, di samping mengumumkan tiga hari berkabung nasional. Lalu, apa sebenarnya yang akan terjadi ke depan? Apa yang perlu ditakutkan? Bagaimana menyikapinya, baik sebagai Muslim maupun sebagai masyarakat Indonesia secara umum? Ini menarik dan, tentu, masih beririsan dengan peta terorisme.
Ke depan, kata “terorisme” akan kembali sering terdengar, terutama dari pihak Zionis Israel maupun AS. Dalam konteks itu, terorisme merupakan label stigmatis untuk memojokkan Islam dan memantik islamofobia global. Dan sebagai konsekuensinya, beberapa umat Islam memang tidak akan diam, baik dari IRGC, Hizbullah, maupun lainnya. Dalam kacamata perang defensif, jelas itu bukan terorisme melainkan pertahanan diri.
Lantas, bagaimana membaca peta terorisme pasca-wafatnya Haniyeh? Sebagai tokoh sentral Hamas, Haniyeh memainkan peran penting dalam strategi dan operasi organisasi tersebut. Maka, kepergiannya menciptakan kekosongan kepemimpinan yang bahkan dapat mengubah peta terorisme global dan memiliki implikasi luas bagi konflik antara Hamas dan Zionis, serta stabilitas regional di Timur Tengah.
Hamas kini boleh jadi menghadapi tantangan besar dalam menentukan pengganti Haniyeh. Wafatnya Haniyeh dapat membuka peluang baru untuk rekonsiliasi, atau justru memperdalam persaingan. Kepemimpinan baru di Hamas mungkin akan melihat pentingnya bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat posisi Palestina secara keseluruhan di satu sisi, dan memperkeras sikap konfrontatif terhadap rival domestik: Zionis, di sisi lainnya.
Perubahan kepemimpinan dalam Hamas juga akan mempengaruhi hubungan dengan berbagai aktor regional. Iran, sebagai pendukung utama Hamas, mungkin meningkatkan bantuan untuk memastikan kelangsungan pengaruh mereka. Negara-negara lain seperti Qatar dan Turki juga mungkin menyesuaikan pendekatan mereka untuk mempertahankan atau meningkatkan pengaruh di Palestina.
Selain itu, komunitas internasional akan memantau perkembangan ini dengan cermat. Negara-negara Barat dan organisasi internasional mungkin mendorong reformasi dalam Hamas atau mendukung inisiatif damai baru. Pendekatan diplomatik tersebut akan sangat dipengaruhi kebijakan dan tindakan pengganti Haniyeh itu sendiri. Namun yang penting dicatat, Zionis Israel adalah pihak biadab yang paling layak disalahkan.
Bahwa wafatnya Haniyeh akan memengaruhi dinamika kelompok-kelompok teroris lain, itu pasti. ISIS, Al-Qaeda, dan kelompok-kelompok teror lainnya mungkin melihatnya sebagai kesempatan untuk memperluas pengaruh mereka atau merekrut anggota baru dari Hamas. Ketegangan atau aliansi baru bisa terbentuk di antara kelompok-kelompok teroris, tergantung pada bagaimana mereka melihat peluang dan ancaman dalam perubahan ini.
Di Indonesia, efeknya mungkin akan mewujud sebagai konflik antarumat beragama. Misalnya, akan ada aksi teror sebagai balas dendam. Maka, dengan terus mengamati dan menganalisis perkembangan tersebut, kita dapat memahami lebih baik bagaimana peta terorisme akan terbentuk ke depan dan mencari cara untuk mendorong stabilitas dan perdamaian di wilayah yang terus bergejolak dan dampaknya terasa hingga ke Indonesia.








Leave a Comment