Harakatuna.com. Doha — Khaled Meshaal, Kepala Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) di luar negeri, menyatakan bahwa Israel ingin membalas dendam atas kekalahannya dalam perang yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023, dengan melancarkan serangan kembali ke Jalur Gaza meskipun tengah ada gencatan senjata. Serangan ini terjadi setelah jeda yang relatif singkat, sejak dimulainya kembali kampanye militer Israel pada Selasa, 18 Maret 2025.
Dalam pidatonya pada pertemuan “Koalisi Global untuk Yerusalem dan Palestina” yang digelar pada Kamis (20/3), Meshaal menegaskan bahwa agresi militer Israel ini merupakan upaya untuk memulihkan reputasi mereka setelah kekalahan yang mereka alami pada Oktober lalu. Pertemuan ini dihadiri oleh sekitar 400 peserta dari berbagai penjuru dunia secara daring melalui Zoom, dan fokus pada perkembangan terkini, termasuk kemajuan negosiasi gencatan senjata yang dimediasi oleh Qatar, motif di balik perang baru ini, serta dampaknya terhadap stabilitas kawasan.
“Israel mencoba untuk memulai kembali perang dan menghentikan negosiasi, bukan untuk mencapai hasil baru terkait pertukaran tahanan, melainkan untuk membalas dendam atas apa yang terjadi pada 7 Oktober 2023,” kata Meshaal dalam pidatonya. Ia juga menambahkan bahwa serangan ini adalah bagian dari agenda lebih besar yang digerakkan oleh Zionisme dan didukung oleh upaya Amerika Serikat untuk memastikan supremasi Israel di kawasan tersebut.
Meshaal menjelaskan bahwa dalam serangan ini, Israel menargetkan sejumlah kader dan pemimpin Hamas, serta keluarga mereka, termasuk anak-anak dan wanita. Serangan ini juga menargetkan rumah-rumah para pemimpin Hamas yang tidak berada di rumah pada saat serangan, menyebabkan kematian seluruh keluarga dari beberapa pemimpin tersebut.
“Kegagalan Israel untuk memulai negosiasi fase kedua gencatan senjata, yang seharusnya dilakukan pada hari ke-16 fase pertama, mengungkapkan niat mereka yang sebenarnya. Mereka hanya ingin fokus pada pemulihan tahanan, tanpa berniat menghentikan perang, dan malah mengubah Gaza menjadi zona yang tak bernyawa,” ungkap Meshaal.
Lebih lanjut, Meshaal mengingatkan bahwa ancaman perang baru ini tidak hanya akan terbatas pada Gaza, tetapi dapat meluas ke seluruh kawasan, termasuk negara-negara seperti Yordania, Lebanon, Suriah, Mesir, Irak, Yaman, Jazirah Arab, Iran, dan Turki.
Dalam kesempatan tersebut, Khaled Meshaal juga menyerukan pentingnya melanjutkan gerakan rakyat yang telah diikuti oleh jutaan orang untuk menunjukkan kemarahan mereka atas apa yang terjadi di Gaza. Ia mengajak masyarakat internasional untuk memberikan dukungan finansial, baik yang bersifat resmi maupun rakyat, guna memperkuat keteguhan hati rakyat Gaza dalam menghadapi serangan Israel.
Sementara itu, situasi di Gaza tetap tegang, dengan penduduk setempat menghadapi dampak besar dari konflik yang berkepanjangan. Meshaal menegaskan bahwa perjuangan rakyat Palestina untuk mempertahankan hak mereka dan melawan penjajahan Israel terus berlanjut.








Leave a Comment