Harakatuna.com – Al-Qur’an sering kali memulai ayat-ayatnya dengan panggilan yang khas dan penuh makna: “Ya ayyuhal-ladzina amanu” (Hai orang-orang yang beriman). Panggilan ini terdengar sederhana, namun ia menyimpan kedalaman luar biasa. Siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “orang-orang beriman”? Apakah panggilan ini hanya untuk umat Islam secara eksklusif, atau ada makna yang lebih luas? Dan bagaimana relevansi panggilan ini dalam konteks modern yang penuh tantangan global?
Panggilan yang Memanggil Kesadaran
Dalam tafsir klasik seperti Tafsir Al-Jalalayn dan Tafsir Ibnu Katsir, frasa ini diartikan sebagai seruan Allah kepada orang-orang yang benar-benar beriman kepada-Nya, mengikuti Rasul-Nya, dan meyakini hari akhir. Namun, Al-Qur’an tidak pernah sekadar memanggil; ia mengundang refleksi, introspeksi, dan tindakan.
Menurut Imam Fakhruddin Al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib, panggilan “Ya ayyuhal-ladzina amanu” adalah ajakan Allah untuk merenungkan hakikat iman itu sendiri. Ia bukan sekadar label, tetapi sebuah proses dinamis yang menuntut bukti dalam sikap, perilaku, dan amal.
وَإِنَّ هَذَا النِّدَاءَ هُوَ تَكْرِيمٌ لِلْمُؤْمِنِينَ، وَتَشْرِيفٌ لَهُمْ بِإِضْفَاءِ صِفَةِ الْإِيمَانِ عَلَيْهِمْ. وَالْإِيمَانُ لَيْسَ مُجَرَّدَ قَوْلٍ بَلْ هُوَ عَقِيدَةٌ، وَعَمَلٌ بِالْقَلْبِ وَالْجَوَارِحِ، فَهُوَ تَكْلِيفٌ وَتَشْرِيفٌ فِي آنٍ وَاحِدٍ.
Terjemahan: “Sesungguhnya panggilan ini adalah bentuk penghormatan kepada orang-orang beriman, dengan melabelkan sifat iman kepada mereka. Namun, iman bukan sekadar ucapan, melainkan keyakinan serta amal hati dan anggota tubuh. Maka, panggilan ini adalah tanggung jawab sekaligus penghormatan.”
Hal ini sejalan dengan firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2-3)
Ayat ini dengan tegas menunjukkan bahwa iman bukan hanya ucapan, tetapi harus dibuktikan dalam perbuatan.
Iman dalam Dunia yang Tercerai-Burai
Di zaman modern, identitas keimanan sering kali direduksi menjadi klaim semata. Media sosial, misalnya, menjadi ladang subur untuk menunjukkan “keimanan” lewat retorika tanpa substansi. Namun, apakah iman berhenti pada unggahan status atau hastag?
Studi dari Pew Research Center pada 2021 menunjukkan bahwa meskipun 84% populasi dunia mengidentifikasi diri dengan agama tertentu, tingkat kejahatan, ketidakadilan, dan ketidakpedulian terhadap sesama justru terus meningkat. Ini adalah paradoks besar: umat beragama ada di mana-mana, tetapi praktik keimanan yang sejati sering kali tidak terlihat.
Islam mengingatkan kita akan bahaya iman yang hanya sebatas pengakuan. Allah berfirman:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-Ankabut: 2)
Iman yang sejati, menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin, adalah iman yang melibatkan hati, lisan, dan perbuatan secara harmonis. Jika salah satunya hilang, maka keimanan itu belum sempurna. Sang Imam menuliskan ini dalam master peacenya:
الْإِيمَانُ قَوْلٌ بِاللِّسَانِ، وَتَصْدِيقٌ بِالْقَلْبِ، وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ. فَإِذَا اجْتَمَعَتْ هَذِهِ الثَّلَاثَةُ فَقَدْ كَمَلَ الْإِيمَانُ. وَإِذَا نَقَصَ وَاحِدٌ مِنْهَا كَانَ فِي الدِّينِ خَلَلٌ وَضَعْفٌ. وَعَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَعْمَلَ عَلَى إِتْمَامِهَا كُلَّهَا
“Iman adalah ucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati, dan amal dengan anggota tubuh. Ketika ketiganya terpenuhi, maka sempurnalah iman itu. Namun, jika salah satunya berkurang, maka ada kekurangan dan kelemahan dalam agama seseorang. Seorang mukmin harus berusaha untuk menyempurnakan ketiganya.”
Siapa yang Dipanggil?
Ketika Allah memulai ayat-ayatnya dengan “Ya ayyuhal-ladzina amanu”, apakah ini eksklusif untuk umat Islam? Tafsir Al-Maraghi menjelaskan bahwa panggilan ini bersifat universal. Siapa pun yang memiliki iman kepada Tuhan, kebenaran, dan nilai-nilai luhur dalam hidupnya, termasuk dalam panggilan ini.
Namun, panggilan ini juga bersifat kondisional. Dalam bahasa sosiologi agama, iman adalah sebuah identitas performatif. Artinya, iman tidak cukup hanya menjadi label; ia harus terbukti dalam perilaku sehari-hari.
Sebagai contoh, dalam QS. Al-Maidah: 8, Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu orang-orang yang menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu.”
Ayat ini menegaskan bahwa orang beriman adalah mereka yang memperjuangkan keadilan, bahkan ketika itu bertentangan dengan kepentingan pribadi. Ini adalah tantangan besar dalam dunia yang penuh bias dan konflik kepentingan.
Relevansi Panggilan dalam Krisis Global
Hari ini, dunia menghadapi berbagai krisis: lingkungan, ketimpangan ekonomi, konflik sosial, hingga informasi palsu yang mengancam tatanan masyarakat. Dalam situasi ini, panggilan “Ya ayyuhal-ladzina amanu” adalah ajakan untuk menjadi solusi, bukan bagian dari masalah.
Kerusakan lingkungan adalah bukti nyata bahwa manusia telah mengabaikan amanah keimanan. Dalam Islam, iman tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan ciptaan-Nya. Orang beriman adalah mereka yang menjaga bumi sebagai bentuk ibadah.
Pelajaran dari Para Ulama dan Ilmuwan
Sheikh Yusuf Al-Qaradawi, dalam bukunya Fiqh al-Muwazanat, menekankan pentingnya keseimbangan dalam memahami iman. Iman tidak hanya vertikal (hubungan dengan Allah), tetapi juga horizontal (hubungan dengan sesama manusia dan alam).
Di sisi lain, ilmuwan barat seperti Karen Armstrong dalam bukunya The Case for God, mengungkapkan bahwa agama, termasuk Islam, menawarkan visi keimanan yang mengutamakan kasih sayang dan keadilan. Panggilan iman, menurut Armstrong, adalah panggilan untuk melampaui egoisme individu dan bekerja demi kebaikan bersama.
Menjawab Panggilan dengan Tindakan
Panggilan “Ya ayyuhal-ladzina amanu” bukan sekadar seruan, tetapi undangan untuk bertindak. Di tengah hiruk-pikuk modernitas, ia mengingatkan kita untuk kembali kepada inti keimanan: ketaatan kepada Allah, keadilan kepada sesama, dan kepedulian terhadap alam.
Sebagai penutup, mari kita renungkan ayat ini:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, ia memperoleh kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)
Iman adalah cahaya yang harus menerangi dunia, bukan hanya di bibir, tetapi juga dalam setiap langkah hidup kita. Pertanyaannya kini, sudahkah kita menjadi bagian dari orang-orang beriman yang dipanggil oleh Allah? Atau, kita hanya mendengar panggilan itu, tanpa pernah benar-benar menjawabnya?
Oleh: Khoirul Ibad, Lc, M.Ag. (Alumni Institut Imam Malik, Maroko 2021 dan Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) IIQ Jakarta 2024. Sedang aktif belajar mengajar di Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido-Bogor.)









Leave a Comment