Hadas Besar di Bulan Ramadhan: Sahur atau Mandi Dahulu?

Harakatuna

18/04/2023

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Puasa merupakan salah satu ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim. Dalam pelaksanaannya ada beberapa syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu salah satunya yaitu suci dari hadas besar. Pemahaman fiqh ibadah dalam praktik ibadah puasa pada orang yang berhadas besar masih belum sepenuhnya terakses dalam masyarakat. Segelintir orang berasumsi bahwa jika tidak melaksanakan mandi besar sampai waktu subuh tiba maka orang tersebut tidak boleh berpuasa.

Dalam hadis Nabi SAW. yang diriwayatkan oleh Aisyah dan Ummu Salamah mengatakan:

عن Ų¹Ų§Ų¦Ų“Ų© و Ų§Ł… سلمة زوجي Ų§Ł„Ł†ŲØŁŠ Ųµ.Ł… انهما قالتا : ŁƒŲ§Ł† Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله Ųµ.Ł… يصبح جنبا من جماع غير احتلام في رمضان Ų«Ł… ŁŠŲµŁˆŁ…ŲŒ ŁˆŁ…Ł† الحجة الاجماع على ان الاحتلام بالنهر لا يفسد Ų§ŲµŁˆŁ… (Ų±ŁˆŲ§Ł‡ مسلم)

ā€œDari Aisyah dan Ummu Salamah dua istri Nabi Saw. keduanya mengatakan ā€˜Rasulullah pernah berhadas besar (junub) pada waktu subuh pada bulan Ramadhan sebab malamnya bersetubuh, bukan karena mimpi kemudian beliau berpuasa (tanpa mandi sebelum fajar)ā€. (HR. Muslim)

Senada dengan hadis tersebut Imam Syafi’i dalam kitab al Umm menjelaskan tentang junub di bulan ramadhan pada waktu masuk fajar:

من احتلم فى رمضان اغتسل ŁˆŁ„Ł… ŁŠŁ‚Ų¶ŲŒ ŁˆŁƒŲ°Ł„Łƒ من Ų£ŲµŲ§ŲØ Ų£Ł‡Ł„Ł‡ŲŒ Ų«Ł… طلع الفجر ŁˆŁ„Ł… ŁŠŲŗŲŖŲ³Ł„ŲŒ اغتسل Ų«Ł… Ų§ŲŖŁ… ŲµŁˆŁ…Ł‡.

ā€œBarangsiapa keluar mani sebab mimpi pada bulan Ramadhan, maka hendaklah ia mandi dan tidak wajib meng-qadha puasanya. Demikian orang yang behubungan suami istri kemudian terbit fajar dan ia belum mandi besar, maka hendaklah ia mandi kemudian menyempurnakan puasanyaā€.

Dari kedua dalil tersebut dapat terlihat bahwa tidak ada larangan bagi orang berhadas besar yang belum mandi besar untuk melaksakan ibadah puasa sehingga mandi besar bisa dilaksanakan setelah subuh dengan catatan tetap wajib melaksanakan solat. Dalam pelaksanaan mandinya pun orang tersebut mendapat keringanan ketika ada air yang masuk ke telinganya maka puasanya tidak batal sebab merupakan mandi wajib.

Adapun jika berkaitan dengan keutamaan sahur atau mandi besar dahulu maka dianjurkan bagi orang junub tersebut untuk mandi terlebih dahulu jika rentang waktu antara sahur dan subuh masih panjang. Apabila waktu tidak memungkinkan untuk mandi besar terlebih dahulu maka dianjurkan untuk membasuh kemaluan dan berwudhu sebelum sahur dengan dalih bahwa makan dan minum bagi orang berjunub adalah makruh dengan mengutip kitab Fathul Mu’in karya Syekh Zainuddin al Malibari

ŁŠŲ³Ł† لجنب وحائض ŁˆŁ†ŁŲ³Ų§Ų” ŲØŲ¹ŲÆ انقطاع دمهما غسل فرج ووضوؔ Ł„Ł†ŁˆŁ… ŁˆŲ£ŁƒŁ„ وؓرب ŁˆŁŠŁƒŲ±Ł‡ فعل ؓيؔ من Ų°Ł„Łƒ بلا وضوؔ

ā€œDisunnahkan bagi orang junub, haid dan nifas setelah darahnya berhenti untuk membasuh kemaluan dan berwudhu untuk tidur, makan dan minum. Dimakruhkan melakukan hal-hal tersebut tanpa adanya wudhuā€.

Dari pemaparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ada kebolehan bagi orang berhadas besar untuk mandi wajib setelah waktu subuh dengan berdasar pada hadis yang diriwayatkan oleh kedua istri beliau yakni Siti Aisyah dan Ummu Salamah. Nabi Saw. pernah melakukan mandi wajib setelah fajar, lalu kemudian beliau berpuasa serta tidak mengqodho puasanya. Kemudian berkaitan dengan ibadah sahur orang berhadas besar adalah boleh untuk tidak mandi wajib dahulu jika waktu antara sahur dengan subuh sedikit dan disunnahkan untuk berwudhu serta membasuh kemaluannya terlebih dahulu sebelum santap sahur.

ā€œyurÄ«dullāhu bikum al-yusra wa lā yurÄ«du bikum al-ā€˜usraā€

(Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran).

Wallahu a’lam bi as-shawab

Linda Diningsih, PP. Al Munawwir Komplek R2 Krapyak Yogyakarta

 

 

Leave a Comment

Related Post