Hadapi Tantangan Zaman, Gen Z Perlu Perkuat Moderasi dan Spiritualitas

Ahmad Fairozi, M.Hum.

26/05/2025

3
Min Read
Hadapi Tantangan Zaman, Gen Z Perlu Perkuat Moderasi dan Spiritualitas

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta – Di tengah dunia yang terus berubah, tidak semua mampu menjaga keseimbangan antara tuntutan zaman dan nilai-nilai spiritual. Namun, Habib Husein Ja’far Al Hadar, dai muda dan alumnus Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tampil sebagai figur yang mampu menjembatani keduanya. Dalam wawancara singkat di sela-sela acara wisuda UIN Jakarta, Ahad (25/5), ia membagikan pandangannya tentang tantangan beragama di era digital serta pentingnya moderasi dan spiritualitas dalam dakwah.

Sebagai sosok yang aktif berdakwah melalui media sosial dan platform digital, Habib Ja’far menilai generasi milenial dan Gen Z saat ini menghadapi dua kutub ekstrem dalam keberagamaan: pendekatan yang terlalu rasional di satu sisi, dan terlalu dogmatis di sisi lain. “Sebagian orang memilih hijrah total dan meninggalkan semua yang mereka anggap tidak religius. Sementara yang lain, lebih memilih pendekatan rasional dan logis dalam memahami agama,” jelasnya.

Fenomena ini, menurutnya, wajar dalam era informasi yang terbuka dan serba cepat. Namun justru di sinilah pentingnya nilai moderasi beragama yang ia pelajari semasa kuliah di kampus Ciputat.

Sebagai alumni Fakultas Ushuluddin, Habib Ja’far menegaskan bahwa UIN Jakarta membentuk dirinya bukan hanya sebagai intelektual, tetapi juga sebagai sosok yang memegang teguh nilai-nilai keberagamaan yang seimbang. “Di UIN saya diajarkan untuk berpikir di tengah, tidak ekstrem ke kanan maupun ke kiri. Saya juga dididik untuk memperkuat sisi spiritualitas,” tuturnya.

Ia menyebutkan bahwa keberagamaan tidak semata diukur dari jumlah hafalan atau kepatuhan terhadap doktrin, tetapi juga dari kedewasaan dalam memahami konteks sosial, budaya, dan realitas kehidupan. “Islam itu agama yang kuat pada esensinya, bukan pada bentuknya. Maka ia akan selalu relevan di zaman mana pun, asal dipahami dan disampaikan dengan cara yang tepat,” jelasnya lagi.

Bagi Habib Ja’far, Islam adalah agama yang lentur namun kokoh dalam nilai. Ia menegaskan bahwa dakwah tidak harus menggurui, tetapi harus menjadi ruang dialog yang menyentuh dan membimbing. “Generasi muda perlu memahami bahwa Islam adalah rahmat, bukan sekadar aturan. Jika dakwah dilakukan dengan pendekatan yang bijak, maka pesan agama akan lebih mudah diterima,” ungkapnya.

Pendekatan dakwah Habib Ja’far yang santai namun sarat makna menjadikannya salah satu sosok dai muda yang diterima luas oleh publik, khususnya kalangan muda. Dalam kesempatan tersebut, Habib Ja’far juga memberikan pesan khusus bagi generasi muda terkait tantangan spiritual di tengah era digital yang penuh distraksi. Ia menekankan pentingnya menjaga fokus dalam ibadah di tengah derasnya arus informasi.

“Fokus adalah kunci kekhusyukan dalam ibadah. Media sosial, informasi instan, dan budaya cepat bisa menjadi penghalang bila tidak disikapi dengan bijak,” ujarnya.

Ia mengajak generasi muda untuk pandai memilah informasi dan mengelola atensi, agar tetap mampu menjaga nilai-nilai fitrah sebagai manusia berilmu dan beriman. Menurutnya, keistiqamahan spiritual menjadi tantangan terbesar saat ini—bukan hanya soal keahlian, tetapi juga soal menjaga hati di tengah kebisingan zaman.

Habib Husein Ja’far kini dikenal bukan hanya sebagai dai muda yang cerdas dan relevan, tetapi juga sebagai representasi alumni UIN Jakarta yang membawa semangat toleransi, moderasi, dan spiritualitas ke ruang-ruang publik—menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda dalam menemukan jalan beragama yang damai dan bermakna.

Leave a Comment

Related Post