Harakatuna.com – Ada yang menarik dari paparan KH. Ulil Abshar Abdalla, Ketua Lakpesdam PBNU, saat menjadi narasumber dalam diskusi publik yang digelar Pusat Studi Al-Qur’an di Masjid Istiqlal, Sabtu (1/6) kemarin, dengan tema “Peran Kita dalam Mendukung Palestina”.
Gus Ulil mengatakan, ia takjub karena hari-hari ini solidaritas untuk Palestina jauh lebih besar daripada sebelum-sebelumnya. Ia menuturkan, semua itu tidak lepas dari diseminasi konflik Palestina di media sosial.
Sebelumnya, moderator Najeela Shihab menanyakan Gus Ulil tentang apa dan bagaimana fakta konflik Palestina hari ini, bagaimana Gus Ulil melihat respons masyarakat Indonesia terhadap genosida yang terjadi di Palestina, dan apa peran yang sudah dilakukan oleh lembaga masyarakat di Indonesia untuk menyikapi konflik tersebut dan mendukung Palestina.
Dalam paparannya, Gus Ulil pertama-tama menyoroti dua mitos yang sering berkembang di masyarakat mengenai pendirian negara Israel dan sikap orang Arab terhadap perdamaian. Mitos pertama adalah anggapan bahwa tanah Palestina adalah tanah kosong sebelum pendirian Israel.
“Beberapa politisi penting menganggap Palestina sebagai tanah kosong. Ini yang dijadikan alasan bahwa negara Israel berdiri tanpa mengorbankan pendidikan. Padahal, berdirinya Israel mengusir 800.000 orang Arab. Jadi, Israel tidak berdiri di tanah kosong,” tegas Gus Ulil.

Mitos kedua yang dibahas adalah tuduhan bahwa orang Arab sejak awal tidak mau berdamai. Gus Ulil menjelaskan bahwa narasi ini sangat tidak adil dan memengaruhi regulasi yang dibuat setelahnya.
“Narasi bahwa Arab memilih perang daripada damai sangat tidak tepat. Bayangkan, Anda punya tanah, diserobot, lalu orang lain meminta gantian. Lalu Anda memilih bertengkar, tapi Anda kemudian disalahkan karena tidak mau berdamai. Itu benar-benar tidak adil. Perjanjian Balfour itu aneh, diberikan Inggris untuk mengambil negara lain yang sudah berpenduduk,” paparnya.
Gus Ulil juga mencatat adanya perubahan dalam respons masyarakat internasional terhadap isu Palestina. Ia menyebut bahwa reaksi atas Palestina kini lebih keras dibandingkan masa lalu, terutama di negara-negara Barat. Namun demikian, itu memang seharusnya terjadi.
“Saya melihat ini sebagai sesuatu yang normal, karena ini masalah domestik negara Barat. Sebab Palestina muncul karena deklarasi Balfour, permainan kolonial abad 20, yang mengorbankan Palestina. Jadi kalau orang Barat lebih banyak merespons daripada dunia Islam, maka karena ini dosa mereka di masa lalu. Jadi isu Palestina adalah isu politik domestik belaka,” jelasnya.
Menariknya, Gus Ulil mencatat perbedaan sikap antara lembaga resmi Barat dan masyarakatnya. “Lembaga resmi Barat hampir semuanya pro-Israel, tetapi masyarakatnya justru bersimpati dengan Palestina. Saya senang sekali isu Palestina banyak mendapat simpati berkat media sosial, jadi sekarang bergeser dari awalnya pro-Israel menjadi pro-Palestina,” ujar Gus Ulil.
Pandangan Gus Ulil ini menyoroti pentingnya media sosial sebagai platform yang memberikan suara bagi simpati global terhadap Palestina. Media sosial memungkinkan narasi alternatif yang lebih adil dan humanis untuk berkembang, melampaui propaganda resmi yang seringkali berpihak pada Israel.
Peran media sosial dalam membentuk opini publik internasional menunjukkan bahwa meski kebijakan resmi mungkin masih pro-Israel, simpati masyarakat dunia semakin condong kepada Palestina.
Dengan meningkatnya kesadaran dan simpati global ini, diharapkan akan ada lebih banyak tekanan pada lembaga resmi untuk mengambil langkah-langkah yang lebih adil dalam menyelesaikan konflik Palestina-Israel. Gus Ulil menegaskan pentingnya terus meningkatkan solidaritas dan dukungan terhadap Palestina melalui berbagai upaya, termasuk pemanfaatan media sosial. (Khr)








Leave a Comment