Guru Besar IAIN Cirebon Peringatkan Bahaya Narasi Perang Akhir Zaman Terkait Konflik India–Pakistan

Ahmad Fairozi, M.Hum.

20/05/2025

3
Min Read
Guru Besar IAIN Cirebon Peringatkan Bahaya Narasi Perang Akhir Zaman Terkait Konflik India–Pakistan Ahmad Fairozi BNPT

On This Post

Harakatuna.com. Cirebon – Guru Besar Sejarah Peradaban Islam IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Prof. KH. Didin Nurul Rosidin, M.A., Ph.D., memperingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam narasi yang mengaitkan konflik antara India dan Pakistan dengan skenario “perang akhir zaman”. Ia menilai pendekatan semacam itu menyesatkan secara historis dan berbahaya dari segi sosial-politik. “Narasi ini tidak hanya keliru dari sisi sejarah, tetapi juga berisiko memperdalam polarisasi, memicu radikalisasi, dan menghambat proses perdamaian di Asia Selatan,” ujar Prof. Didin dalam keterangannya pada Rabu (14/5/2025).

Menurutnya, upaya sebagian pihak yang mengaitkan konflik geopolitik antarnegara seperti India dan Pakistan dengan pertarungan eskatologis antara “umat Islam dan orang kafir” merupakan bentuk penyederhanaan ekstrem yang bisa mengarah pada kekerasan. “Apocalyptic framing seperti ini menciptakan kesan seolah konflik regional adalah bagian dari skenario besar menjelang kiamat. Padahal, akar masalah India–Pakistan jauh lebih kompleks, melibatkan sejarah kolonialisme, batas wilayah, dan faktor politik dalam negeri masing-masing,” jelasnya.

Prof. Didin mengungkapkan bahwa narasi “perang akhir zaman” cenderung memperkuat “false moral clarity” atau keyakinan keliru bahwa kekerasan adalah jalan satu-satunya yang benar. Hal ini sering dimanfaatkan kelompok ekstremis untuk memobilisasi simpati dan merekrut anggota baru.

Ia juga menyoroti meningkatnya potensi aksi kekerasan individu (lone wolf) yang termotivasi oleh perasaan mendapat “panggilan ilahi” untuk bertindak. “Dalam konteks India–Pakistan, ini sangat berbahaya. Jika dibiarkan, narasi seperti ini bisa memicu kekacauan sosial bahkan konflik lintas negara yang lebih besar, termasuk keterlibatan senjata nuklir,” tegasnya.

Lebih lanjut, Prof. Didin mengkritik pihak-pihak yang mencoba membandingkan konflik India–Pakistan dengan kondisi sosial-politik Indonesia. Ia menilai pendekatan seperti ini mengabaikan realitas historis dan keragaman bangsa Indonesia. “Indonesia dibangun di atas keberagaman—suku, agama, ras, dan budaya. Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya semboyan, tapi fondasi sejarah kita sebagai bangsa,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia diperjuangkan oleh berbagai kelompok lintas iman. Peristiwa Sumpah Pemuda hingga perang kemerdekaan tidak didominasi satu golongan agama tertentu. “Kita mengenal tokoh-tokoh seperti Johannes Leimena yang bukan Muslim tapi sangat berjasa dalam membangun bangsa. Di sisi lain, ada juga tokoh Muslim seperti Sultan Hamid II yang justru berseberangan karena afiliasi kolonial. Ini menunjukkan bahwa agama bukan satu-satunya variabel penentu dalam perjuangan kemerdekaan,” jelasnya.

Dalam pandangannya, agama seharusnya dipahami secara rasional dan penuh cinta kasih. Ia mengutip kaidah klasik addīnu huwal ‘aqlu (agama adalah akal), yang menekankan pentingnya pendekatan kognitif dalam memahami teks-teks keagamaan. “Kalau agama dipahami dengan benar, hasil akhirnya adalah cinta, bukan kebencian. Kalau agama justru dijadikan alat untuk membenci sesama manusia, itu berarti kita sudah menyimpang dari misi sejatinya,” terang Prof. Didin.

Ia juga memperingatkan bahaya penafsiran agama secara hitam-putih yang cenderung menempatkan diri seolah-olah menjadi wakil Tuhan untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.

“Jangan sampai kita mengutip ayat-ayat Tuhan hanya untuk membenarkan tindakan sewenang-wenang. Itu bukan religiusitas, tapi egoisme yang dibungkus dalil,” pungkasnya.

Menutup pernyataannya, Prof. Didin mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi ekstremis dan mengedepankan pemahaman agama yang mencerminkan kasih sayang, akal sehat, serta penghormatan terhadap sesama manusia.

Leave a Comment

Related Post