Good Vibes ala Gen Z: Tren Alternatif Mencegah Radikalisasi di Kalangan Generasi Muda

Ahmad Khairi

06/08/2024

5
Min Read
good vibes Gen Z

On This Post

Harakatuna.com – Coba cari kata “Gen Z” di Google, apa yang muncul? Rata-rata adalah ulasan pesimistis tentang masa depan mereka. Term ‘pengangguran’ paling banyak ditemukan, yang semakin menunjukkan betapa suramnya generasi muda NKRI di masa depan—jika tidak segera dicarikan solusinya. Body dysmorphic disorder juga banyak disorot, di samping karakter pemalas, manja, dan lainnya. Seburuk apa keadaan mereka sebenarnya?

Perlu diketahui, di NKRI, ada 3,6 juta Gen Z usia 15-24 yang menganggur tahun ini, atau lima puluh persen dari total pengangguran terbuka. Jika ditambah mereka yang tergolong bukan angkatan kerja tetapi tidak sedang sekolah atau pelatihan, jumlahnya bahkan mencapai 9,9 juta. Banyak anak muda lahir pada 1997-2012 yang menganggur itu telah mengirim ratusan surat lamaran dalam hitungan bulan, tapi tak kunjung mendapat panggilan.

Padahal, Gen Z juga dikenal sebagai tech savvy, kreatif, dan melek finansial. Namun mengapa tak sedikit dari Gen Z yang gemar membaca kartu tarot untuk “meramal masa depan, nasib dan peruntungan” mereka? Apakah mereka cemas dan pesimis akan dirinya sendiri? Dan yang terpenting, apa yang sedang dan akan mereka lakukan untuk mencegah semua kemungkinan terburuk dari masa depannya?

Good vibes” pun muncul sebagai antitesis, sebagai tren alternatif di tengah pesimisme tersebut. Jadi di antara berbagai kekhawatiran tentang masa depan, sebagian Gen Z justru membangun sebuah benteng diri bernama “self care”. Menariknya, tren tersebut tak hanya bisa diterapkan dalam konteks pekerjaan dan segala kerumitan hidup, tetapi juga dalam upaya mencegah radikalisasi. Bagaimana bisa itu terjadi?

Gen Z dan Potensi Radikalisasi

Sebelum membahas bagaimana good vibes ala Gen Z menjadi tren alternatif untuk mencegah radikalisasi di kalangan generasi muda, penting untuk dicatat bagaimana mereka hari-hari ini menjadi target utama radikalisasi itu sendiri. Ini penting diuraikan agar masyarakat sadar bahwa kaum radikal atau teroris tidak sedang diam, melainkan diam-diam mengincar anak-anak muda untuk dijadikan teroris masa depan.

Radikalisasi yang dimaksud tentu tidak seperti dalam pemahaman konvensional yang terkesan frontal. Radikalisasi terhadap Gen Z berlangsung lebih smooth, lebih kreatif, bahkan bernuansa self-radicalization. Artinya, generasi muda tidak lagi diajak untuk menjadi kaum radikal atau teroris, melainkan dipengaruhi alam bawah sadarnya dan menjadi radikal bahkan tanpa mereka sendiri sadari. Mengerikan, bukan?

Potensi radikalisasi bagi Gen Z juga jauh lebih besar dari generasi lainnya, seperti Gen X dan milenial. Demikian karena adanya kondisi paradoksal, yaitu timpangnya ilmu pengetahuan Islam dengan ghirah keberislaman mereka. Mereka, sebagai contoh, gemar hadir dalam pengajian tanpa tahu siapa yang mengisi kajian tersebut dari segi latar belakang, ideologi, bahkan wawasan kebangsaannya. Tentu, ini merupakan sebuah ironi.

Gen Z ibarat ada dalam persimpangan krisis jati diri sebagai aset bangsa di satu sisi dan sebagai kaum beragama di sisi lainnya. Pada saat yang sama, kaum radikal dan simpatisan teroris memahami kondisi tersebut dan mencoba memanfaatkannya. Dakwah radikalisasi merupakan satu contoh bahwa Gen Z tengah ditargetkan menjadi agen-agen masa depan terorisme. Faktanya, radikalisasi kerap bertolak dari negative vibes, bukan?

Artinya, secara langsung atau tidak, pesimisme di kalangan Gen Z akan masa depan mereka memantik pikiran-pikiran liar untuk mengambil jalan pintas. Para radikalis pun menawarkan apa yang Gen Z inginkan. Akumulasi vibes negatif tersebut pun menjadi bom waktu yang tidak hanya memudahkan Gen Z terjerumus radikalisasi, tetapi juga mendorong mereka jadi agen teroris dengan jaminan pragmatis: kekayaan dan kemuliaan.

Good Vibes sebagai Solusi Alternatif

Dalam konteks itulah good vibes ala Gen Z menemukan momentumnya, sebagai cara positif menghadapi tekanan sosial dan emosional. Ada lima rahasia menjaga good vibes ala Gen Z yang dapat menjadi tren alternatif dalam mencegah radikalisasi. Pertama, memprioritaskan wellness, seperti meditasi, yoga, dan praktik mindfulness lainnya. Melalui itu, Gen Z bisa menyehatkan mental mereka agar tak terpengaruh propaganda para radikalis.

Kedua, berolahraga secara rutin. Tidak sekadar menjaga kebugaran fisik, olahraga merupakan cara efektif untuk mengelola stres dan meningkatkan mood. Aktivitas fisik yang rutin mampu meredakan kecemasan dan memberikan optimisme. Dengan begitu, Gen Z lebih mungkin untuk tetap berada dalam jalur positif, yakni moderasi keberagamaan, dan terhindar dari ajakan radikal yang memanfaatkan kondisi emosional.

Ketiga, menggunakan transportasi umum. Tujuannya tidak hanya untuk mengurangi jejak karbon, tetapi juga menciptakan kesempatan berinteraksi dengan berbagai kelompok masyarakat, memperkaya perspektif dan membangun rasa empati-toleransi Gen Z. Sebab, Gen Z wajib belajar menghargai keberagaman, yang merupakan penangkal efektif terhadap ideologi radikal yang bersifat eksklusif dan intoleran.

Keempat, memberikan self-reward. Ini dapat berupa hal-hal sederhana seperti menikmati makanan favorit, berbelanja, atau menghabiskan waktu untuk hobi. Melalui self-reward, Gen Z telah menciptakan rasa kebahagiaan dan kepuasan diri—menghilangan pesimisme. Hal tersebut mengurangi keinginan untuk mencari pengakuan atau validasi dari kelompok teroris yang kerap menawarkan tujuan semu, baik materi maupun kekuasaan.

Kelima, mengonsumsi konten media sosial berkualitas. Sebagai generasi tech havvy, Gen Z wajib sadar akan pentingnya konten berkualitas dan positif. Dengan mengikuti akun-akun yang memberikan inspirasi, edukasi, dan hiburan positif, mereka meminimalkan paparan terhadap konten yang merusak, destruktif atau provokatif. Kurasi dan filtrasi konten media sosial menjauhkan Gen Z dari ancaman narasi-narasi radikal-terorisme daring.

Intinya, good vibes ala Gen Z menawarkan solusi menarik dalam menghadapi tantangan radikalisasi, menjadi benteng kokoh dari segala propaganda kaum radikal-teroris baik daring maupun luring. Good vibes menawarkan pencegahan radikalisasi yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan generasi muda itu sendiri. Karenanya, semua Gen Z di tanah air tidak boleh hidup dalam negative vibes, agar tidak jadi target indoktrinasi dan radikalisasi.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post