Harakatuna.com – Indonesia diam-diam menjadi ladang gema paling berisik dari konflik India-Pakistan. Sebagian anak bangsa dengan gegabah mengadopsi konflik itu sebagai perang identitas. Sayang sekali, solidaritas mereka bukan solidaritas sejati berbasis kemanusiaan universal, melainkan simpati sempit yang dilandasi keyakinan sektarian, romantisme kekhilafahan akhir zaman, hingga nubuat eskatologis yang menyesatkan.
Dua pekan terakhir, medsos dibanjiri konten-konten yang mengagungkan Pakistan sebagai benteng terakhir Islam. Sementara India, sebagai rival politik Pakistan, dianggap musuh Islam semata-mata karena mayoritas penduduknya non-Muslim. Jelas itu salah kaprah. Berdasarkan data World Population Review, per 2021, ada sekitar 200 juta Muslim di India, yang setara hampir 15 persen dari total penduduk.
Karena itu, kesalahkaprahan pro-Pakistan berbahaya karena mensimplifikasi kompleksitas geopolitik dan menyeret publik Indonesia ke perang yang bukan miliknya. Apalagi, perang India-Pakistan tidak dilihat sebagai konflik dua negara melainkan doktrin perang suci yang mengancam nalar keagamaan dan keamanan nasional. Solidaritas seperti itu datang dari provokasi, dan tak ada kepentingan selain menyemarakkan radikal-terorisme.
Persoalannya semakin kompleks ketika sang provokator bukan lagi akun-akun anonim, tapi pria pemimpi dari Pakistan yang mengklaim diri menerima mimpi ilahiah. Muhammad Qasim bin Abdul Karim namanya. Ia menyebarkan ratusan mimpi eskatologis ihwal Pakistan yang akan bangkit dari kehancuran politik-ekonomi dan menjadi pemimpin dunia Islam setelah memenangkan Ghazwatul Hind, perang akhir zaman melawan India.
Adalah mengerikan bahwa mimpi-mimpi Qasim tak berdiri sendiri. Ia linier dengan arus ideologi global yang menganggap India sebagai musuh Islam, mulai dari Al-Qaeda hingga Lashkar-e-Taiba. Solidaritas pro-Pakistan pun, di Indonesia, jadi kanal terbuka bagi reaktivasi ingatan ideologis radikal-teroris yang sudah berakar. Generasi muda Muslim banyak yang tiba-tiba merasa terpanggil atas Pakistan dan mulai permisif terhadap ekstremisme. Ironi.
Editorial ini bukan bermaksud mengintervensi keyakinan spiritual seseorang. Setiap Muslim dipersilakan percaya mimpi, nubuat Ilahi, ataupun datangnya kebangkitan Islam yang memang diharapkan. Tapi ketika keyakinan tersebut digunakan untuk membenarkan kekerasan atas nama agama, dan memobilisasi publik menuju jihadisme global, maka negara tidak boleh diam atau akan kecolongan para radikal-teroris.
Masyarakat mesti menyadari bahwa Pakistan bukan negeri malaikat. Selama dua dekade terakhir, negara itu telah terbukti jadi sarang berbagai kelompok radikal-teror. Hingga hari ini, Taliban Pakistan masih aktif merepresi warga dan aparat negara atas nama syariat, misalnya pada kelompok Ahmadiyah dan Syiah. Pakistan adalah negeri dengan sejarah panjang kekerasan ideologis yang menginfeksi dunia Islam global, termasuk Indonesia.
Indonesia tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama seperti ketika sebagian warga tergiur narasi Suriah sebagai medan hijrah, atau tergoda romantisme khilafah ala ISIS. Negara ini sudah membayar mahal dengan ratusan korban teror, ribuan simpatisan yang dideportasi, dan ribuan napiter yang terus dibina di dalam dan luar penjara. Kini, Pakistan datang membawa versi baru propaganda radikal-terorisme: mimpi Qasim soal Ghazwatul Hind.
Pemerintah harus bergerak cepat. Ini bukan semata wacana keagamaan, melainkan instrumen agitasi ideologis yang bisa melahirkan simpatisan, kombatan, bahkan lone wolf radikal-teroris di masa depan. Ulama dan lembaga pendidikan Islam mesti turun tangan menjelaskan bahwa Islam tidak mengajarkan perang ofensif, bahwa mimpi nubuat Qasim itu tidak benar, dan bahwa solidaritas mesti berbasis nilai, bukan nafsu politik identitas.
Tentu, kita tidak sedang membela India. Kita sedang membela kewarasan umat Islam Indonesia. Jangan sampai, hanya karena satu negeri jauh yang dilabeli Islam, kita menggadaikan masa depan anak bangsa pada mimpi-mimpi yang justru membawa mereka ke dalam neraka radikal-terorisme.
Ghazwat Hind dan propaganda mimpi radikal-teroris dari Pakistan tidak boleh dibiarkan. Atas nama Islam dan kebangsaan, mimpi provokatif para radikal-teroris itu perlu dilawan.








Leave a Comment