Harakatuna.com – Hari-hari ini, dinamika geopolitik, utamanya perang regional di Timur Tengah antara Iran, negara-negara Teluk, dan AS-Israel dibingkai sebagai pertarungan teologis. Retorika politik dan dukungan lintas negara memanfaatkan narasi religius untuk legitimasi moral terhadap perang. Armageddon dalam eskatologis Kristen dan Malhamah Kubra dalam terminologi Islam muncul beberapa kali. Timur Tengah dipandang sebagai panggung sejarah dunia menuju akhir zaman.
Pandangan semacam itu memiliki resonansi yang nyata dalam dinamika politik terkini. Dukungan kuat sebagian kelompok evangelis AS terhadap Israel dipengaruhi oleh keyakinan religius yang memandang eksistensi Israel sebagai nubuat eskatologis. Konflik di Timur Tengah diyakini sebagai episode penting dalam skenario besar sejarah akhir zaman. Narasi tersebut kemudian memperkuat dukungan politik terhadap kebijakan luar negeri AS yang penuh teror atas negara-negara lain.
Pada saat yang sama, kawasan Timur Tengah memang telah lama jadi ruang temu berbagai narasi keagamaan dengan realitas konflik politik yang kompleks. Iran, sebagai contoh, juga memiliki tradisi ideologis ihwal konsep eskatologi dalam teologi Syiah. Pengorbanan dan perlawanan dikaitkan dengan memori historis Karbala. Konflik pun tidak dipahami dalam kerangka strategi militer, melainkan pertarungan narasi eskatologis yang mengglorifikasi terorisme.
Sebenarnya, apa itu Armageddon? Ia merujuk pada situasi ketika keyakinan religius tentang akhir zaman memengaruhi cara negara dan masyarakat memandang konflik. Perang dipahami sebagai bagian dari agenda besar yang memiliki makna kosmis. Ketika dimensi teologis semacam itu masuk ke arena kebijakan luar negeri suatu negara, justifikasi terorisme menjadi tak terhindarkan. Kekerasan dan okupasi, juga perang barbar dianggap sah karena nubuat yang disalahartikan.
Geopolitik Armageddon dan glorifikasi terorisme boleh jadi tengah ada di titik paling kompleks. Istilah terorisme difungsikan sebagai kategori politik untuk mendefinisikan musuh, sekaligus membangun legitimasi moral bagi tindakan teror militer dengan dalih ‘keamanan’. Ketika konflik telah di-framing dalam kerangka moral yang mutlak, ruang untuk memahami kompleksitas politik dan sejarah yang melatarbelakanginya menyempit sama sekali.
Sebagai konsekuensi, media dan retorika ideologis menjadi arena pertempuran yang sama vitalnya dengan operasi militer itu sendiri. Emosi publik lantas mudah dimobilisasi, sementara pertimbangan rasional tersisih oleh semangat ideologis dan eskatologis yang bahkan membenarkan terorisme untuk pihak yang dianggap musuh. Yang menarik, narasi semacam itu memiliki dampak yang jauh melampaui batas negara.
Perang yang terjadi diubah menjadi simbol global yang memicu kemarahan dan radikalisasi di berbagai belahan dunia. Akibat perang yang dipahami melalui bahasa eskatologi dan glorifikasi terorisme, konflik modern benar-benar tidak sekadar soal keamanan dan kepentingan strategis suatu negara, namun juga berubah menjadi panggung narasi-narasi besar yang memadukan agama, kekuasaan, dan imajinasi tentang akhir zaman.
Artinya, perang diproduksi dan dipertahankan oleh narasi yang memberi makna sakral pada konflik itu sendiri. Dan di dalam ruang narasi itulah, fenomena yang lebih problematis mulai muncul, yakni kekerasan dan teror tidak dilawan, melainkan secara tidak langsung dimuliakan sebagai bagian dari legitimasi kenabian-keilahian. Bagaimana glorifikasi terorisme mampu terbentuk dalam dinamika geopolitik terkini? Ini pertanyaan yang menarik diulas.
Ada sebuah paradoks yang jarang dibicarakan secara jujur hari-hari ini. Perang yang diklaim bertujuan memberantas terorisme justru menciptakan kondisi yang memungkinkan lahirnya kelompok teror. Invasi asing, keruntuhan institusi negara, dan kekacauan sosial hampir selalu diisi oleh kelompok bersenjata dan jaringan radikal yang tumbuh dari frustrasi politik serta instabilitas ekonomi. Alih-alih mengakhiri terorisme, perang melawan teror malah mengubah bentuknya saja.
Sejarah dua dekade terakhir memberikan gambaran yang cukup jelas tentang pola tersebut. Intervensi militer AS di Afghanistan, invasi AS ke Irak, atau pemberontakan di Libya cukup jelas memantik munculnya kelompok teror yang kemudian berkembang jadi jaringan ekstremis transnasional sekelas ISIS. Dalam sejumlah kasus, chaos pasca-perang sering kali menyediakan kondisi ideal bagi radikalisasi yang sebelumnya tidak laku di masyarakat.
Itulah yang dimaksud glorifikasi terorisme. Glorifikasi dalam konteks ini tidak selalu berarti memuji atau mendukung terorisme secara terbuka. Ia berarti justifikasi aksi kekerasan ketika ancaman teror digunakan untuk membangun dukungan politik domestik, atau ketika musuh dipresentasikan sebagai ancaman eksistensial bagi peradaban. Terorisme dilihat sebagai masalah keamanan yang harus diatasi sekaligus simbol yang memberi legitimasi moral bagi tindakan militer yang barbar.
Glorifikasi terorisme semakin kompleks ketika narasi tersebut bertemu keyakinan ideologis yang kuat, yakni memperkuat persepsi bahwa perang bukan tindakan strategis semata, melainkan misi moral. Saat glorifikasi terorisme bersinggungan dengan dukungan geopolitik terhadap Israel serta konflik dengan Iran, dinamika politik kawasan semakin mudah direduksi jadi pertarungan antara dua kutub yang dipersepsikan ambivalen secara ideologis.
Akibatnya, perang hari-hari ini mereproduksi siklus konflik yang relatif luas. Negara yang melemah oleh perang jadi ladang subur bagi kelompok teror baru, sementara kekerasan yang terjadi kemudian dijadikan bukti bahwa ancaman terorisme masih ada dan memerlukan respons militer berkelanjutan. Di situlah perang dan terorisme menjadi dua fenomena yang saling memperkuat satu sama lain dalam sebuah siklus yang sulit diputus. Doktrin eskatologisnya mengakar.
Bagi dunia Muslim, situasi ini menghadirkan dilema yang sangat kompleks. Banyak negara di Timur Tengah menjadi arena perebutan pengaruh berbagai kekuatan global. Masyarakat pun terjebak di antara berbagai kepentingan yang tidak sepenuhnya mereka kendalikan. Saat itu, radikalisasi muncul bukan saja sebagai ekspresi ideologi teror, melainkan juga sebagai reaksi terhadap ketidakadilan politik, intervensi asing, dan kekecewaan sosial yang tak berkesudahan.
Dengan demikian, pembicaraan mengenai geopolitik Armageddon dan glorifikasi terorisme membawa pada satu kesadaran luas tentang bagaimana konflik modern dipahami dan diproduksi. Perang dibingkai sebagai pertarungan sakral atau misi moral, sehingga ruang bagi refleksi kritis menjadi semakin sempit. Musuh dipresentasikan sebagai ancaman total yang harus dihancurkan, sementara kompleksitas sejarah, politik, dan sosial kerap sekali diabaikan.
Di titik itulah pertanyaan paling mendasar muncul. Jika perang terus dipahami melalui narasi sakral dan ancaman eksistensial, apakah dunia benar-benar sedang bergerak menuju keamanan yang lebih stabil, atau justru menuju sebuah sistem konflik yang terus mereproduksi dirinya sendiri? Batas antara keamanan dan ideologi pun menjadi kabur.
Glorifikasi terorisme telah menciptakan banyak hal buruk, dan geopolitik Armageddon menambah sengkarut negara-negara berdaulat yang dijajah. Apakah Indonesia ingin terjebak? Jika tidak, maka semua upaya terkait merupakan keniscayaan. []









Leave a Comment