FKPT Kaltara Ingatkan Sel Terorisme Masih Ada

Harakatuna

30/10/2024

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Tarakan – Meski aksi terorisme secara terbuka sudah tidak terjadi lagi, namun selnya diperkirakan masih ada di Indonesia. Hal itu disampaikan Ketua Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Utara (Kaltara), Datu Iskandar Zulkarnaen pada kegiatan bertajuk Gembira Beragama di Kantor FKUB Tarakan, Rabu (30/10/2024). 

Pernyataan tersebut berdasarkan data yang ada dengan banyaknya terduga teroris yang diamankan Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror. Data yang diperoleh FKPT Kaltara, sepanjang tahun 2023 ada 148 terduga teroris telah ditangkap dari bebeberapa kelompok terorisme. 

Selain itu, hasil riset BNPT tahun 2023 menunjukkan pergerakan paham terorisme dan radikalisme dengan berbungkus pemahaman keagamaan ini merambah pada kelompok perempuan, anak dan remaja. “Di data 2023 itu penurunan serangan terbuka terorisme di Indonesia zero. Tetapi jangan lupa penangkapan kasus seperti ada berapa ratus orang yang ditangkap. Kemudian penghimpunan dana untuk kegiatan bantuan ke luar yang ditujukan untuk bantuan terorisme masih ada. Artinya secara sel tetap hidup,” ujar Datu Iskandar kepada awak media di sela kegiatan. 

Dengan gambaran ini, lanjut Datu Iskandar, ia mengingatkan jika paham terorisme masih harus diwaspadai di Indonesia. BNPT melalui FKPT Kaltara terus berupaya untuk melakukan pencegahan. Di antaranya melalui kegiatan Gembira Beragama ini. 

FKPT berkolaborasi dengan berbagai pihak yang tergabung dalam unsur pentahelix. Meliputi pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat seperti organisasi kepemudaan dan organisasi agama hingga media. Ia mengakui, FKPT tidak bisa bekerja sendiri dalam pencegahan aksi terorisme. Perlu dukungan semua pihak yang tergabung dalam pentahelix.

Datu Iskandar Zulkarnain menambahkan bahwa sikap kewaspadaan terhadap ancaman paham terorisme di Kaltara perlu ditingkatkan. Pasalnya selain menjadi pintu gerbang Indonesia, Kaltara juga merupakan daerah yang berdekatan dengan Ibu Kota Negara (IKN). “Kita kan penyanggah IKN. Artinya ke depan harus kita waspadai, termasuk sebagai daerah perbatasan,” tutur Datu Iskandar.

Menurut Datu Iskandar, paham terorisme sangat berbahaya jika masuk di suatu negara. Ini bisa menghancurkan negara itu sendiri. Ia mencontohkan seperti yang terjadi di Suriah. Dahulunya menjadi pusat wisata Islam, kini kotanya hancur karena tersusupi paham terorisme.

Leave a Comment

Related Post