Fenomena Teror Pager: Ancaman Terorisme Masa Depan yang Harus Diantisipasi

Ahmad Khairi

23/09/2024

4
Min Read
pager terorisme

On This Post

Harakatuna.com – Ledakan pager yang mengguncang Lebanon, Selasa (17/9) kemarin, menorehkan luka mendalam bagi masyarakat dunia, khususnya umat Muslim. Ledakan dahsyat yang menghancurkan ketenangan di Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut, serta lembah Bekaa timur, telah merenggut sejumlah nyawa tak berdosa, termasuk seorang anak berusia delapan tahun. Selain itu, lebih dari 2.800 orang terluka, dengan 200 di antaranya dalam kondisi kritis.

Tragedi tersebut menjadi sorotan dunia internasional dan menimbulkan pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya yang bertanggung jawab di balik berbagai kekejaman di dunia ini. Dari sejumlah laporan, ledakan tersebut terkait dengan pager genggam Hizbullah yang telah ditanam bahan peledak intelijen oleh Israel; Mossad. Lebanon berkabung dan dunia pun menyimpan rasa takut: seperti itukah masa depan terorisme?

Operasi intelijen Israel untuk menyabotase pager menjadi teror nasional Lebanon tentu saja tidak dapat dipandang sebagai proxy war zionisme belaka. Lebih dari itu, apa yang Israel memperjelas identitas mereka sebagai teroris sejati, yang jelas akan ditiru strateginya oleh teroris-teroris lain ke depan. Fenomena teror pager, dengan demikian, bisa menjadi titik tolak malapetaka global yang mesti diantisipasi bersama.

Misalnya, bagaimana kalau teroris Israel melakukan operasi serupa namun mengambinghitamkan Islam? Tidak ada yang mustahil. Hal itu sama memungkinkannya juga dengan bagaimana misalnya strategi serupa malah diadopsi juga oleh kelompok jihadi teroris? Karena itulah, fenomena teror pager mesti dilihat dari kacamata kontra-terorisme. Artinya, jangan sampai ke depan teror semakin marak dan membuat chaos global.

Israel; Dedengkot Teroris

Penting dicatat, Israel memiliki sejarah panjang dalam menggunakan berbagai taktik licik dan mematikan yang dikemas sebagai ‘upaya pertahanan diri’. Ledakan demi ledakan yang mengguncang wilayah Lebanon dan berbagai tragedi kemanusiaan global menjadi bukti nyata bahwa terorisme yang sebenarnya justru datang dari pihak yang mengaku sebagai korban. Singkatnya, Israel adalah dedengkot teroris.

Faktanya, serangan bertubi-tubi yang dilancarkan ke Lebanon dan genosida Gaza yang terus berlangsung sama sekali bukan tindakan pertahanan diri, melainkan aksi teror yang sengaja didesain untuk menekan dan mendehumanisasi rakyat. Penargetan fasilitas sipil, pembunuhan warga tak bersenjata, dan penyalahgunaan senjata adalah wujud riil dari kejahatan perang. Itu terorisme. Israel tidak bisa membantah.

Bukankah mengebom pemukiman sipil, sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur vital lainnya adalah aksi teror yang tak beralasan? Bukankah menghancurkan keluarga, merenggut nyawa anak-anak tak berdosa, dan merusak masa depan sebuah bangsa adalah bentuk terorisme paling brutal? Insiden ledakan di Lebanon ini, apakah secara langsung atau tidak, mencerminkan sebuah pola aksi terorisme sistematis yang amat menakutkan.

Dunia harus membuka mata dan melihat kenyataan tersebut. Ledakan-ledakan yang mengerikan tersebut tidak sekadar untuk menundukkan Lebanon, tetapi juga menakut-nakuti dunia ihwal strategi mematikan terorisme itu sendiri. Para teroris menggunakan segala cara, bahkan taktik terkeji sekalipun, untuk menanamkan rasa takut dan instabilitas global. Tentu saja, hal itu harus dilawan bersama.

Karena itu, dunia internasional wajib segera bertindak. Israel tidak bisa dibiarkan terus-menerus menggunakan kekuatan militer mereka untuk menindas bangsa lain dengan dalih keamanan. Aksi teror brutal mereka harus dihentikan. Dunia harus berpihak pada keadilan dan menolak segala bentuk teror. Terorisme adalah terorisme, dan tidak ada pembenaran terhadapnya, baik itu dilakukan oleh Israel maupun kelompok teror jihadis.

Jihadi Teroris Akan Adopsi?

Ledakan pager yang menewaskan sembilan orang di Lebanon adalah reminder betapa canggih dan berbahayanya adaptasi strategi teroris di era digital. Aksi Israel mengingatkan pada fakta bahwa kelompok teroris selalu bereksperimen dengan teknologi baru untuk melancarkan serangan. Mereka tidak lagi terbatas pada metode tradisional, tetapi memanfaatkan perangkat modern yang terkoneksi secara global.

Di Indonesia, ancaman semacam itu perlu juga menjadi perhatian serius. Perkembangan teknologi memberikan ruang bagi teroris untuk terus mengembangkan strategi gerilya terorisme. Seperti yang terjadi di Lebanon, di mana penggunaan pager—perangkat yang dianggap kuno—dapat disulap menjadi alat mematikan, di Indonesia pun kelompok teroris berpotensi melakukan hal yang sama. Dan itu tidak boleh dibiarkan.

Boleh jadi, saat ini, kelompok jihadi teroris sedang berusaha mengadopsi kebrutalan Israel sebagai taktik terorisme. Mereka, misalnya, masuk melalui platform yang populer di kalangan anak muda, lalu membangun hubungan emosional dengan mereka, dan secara perlahan mengarahkan mereka pada ideologi ekstremis hingga akhirnya menciptakan mesin-mesin pembunuh. Ironis jika pengadopsian tersebut terealisasi.

Lantas, apa yang harus dilakukan? Jawabannya: respons sigap-reaktif. Kasus ledakan pager Hizbullah adalah alarm keras bahwa teroris selalu beradaptasi dan berinovasi. Masyarakat tidak boleh terpaku pada ancaman konvensional, tetapi juga mesti siap menghadapi ancaman baru yang tidak terduga. Terorisme adalah ancaman yang inovatif. Artinya, ia wajib diantisipasi dan dilawan melalui strategi yang tak kalah inovatif juga.

Ledakan di Lebanon, sekali lagi, merupakan blueprint bahwa ancaman terorisme terus berkembang. Karenanya, selalu waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan adalah suatu keharusan. Jika jihadi teroris selalu mencari celah untuk beraksi, maka masyarakat mesti selalu cari cara menutup celah-celah itu sebelum mereka berhasil melancarkan aksinya. Sekali lagi, teror pager hanya permulaan. Maka, waspadalah ke depan.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post