Fenomena Flexing di Media Sosial dalam Perspektif Ulama Klasik

Harakatuna

19/08/2025

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Fenomena flexing di media sosial dalam beberapa tahun terakhir menjadi begitu marak. Anak-anak muda—bahkan orang dewasa—berlomba-lomba memamerkan mobil mewah, rumah megah, saldo rekening, hingga barang branded hanya demi mendapatkan sorotan publik. Dari sekian banyak kasus, kita bisa melihat bahwa flexing pada dasarnya hanyalah bentuk kontemporer dari penyakit lama yang dalam tradisi Islam disebut tafākhur (bermegah-megahan) dan mufākhara (saling pamer).

Dalam al-Qur’an, fenomena semacam ini sudah disindir jauh sebelum Instagram dan TikTok lahir. Allah berfirman:

 أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ * حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

Artinya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke liang kubur.” (QS. al-Takāthur [102]: 1–2).

Ayat ini menegaskan, manusia yang sibuk dengan pamer jumlah harta dan kemewahan dunia sejatinya sedang terperangkap dalam fatamorgana yang tak berujung, bahkan sering berakhir dengan kehinaan. Para ulama klasik cukup sering membicarakan masalah ini. Imam al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (juz III, hlm. 250) menyebut:

 وَمِنْ آفَاتِ الْمَالِ الْفَخْرُ وَالْمُبَاهَاةُ وَالتَّكَاثُرُ

Artinya: “Di antara penyakit harta adalah kesombongan, saling pamer, dan bermegah-megahan.”

Bagi al-Ghazālī, harta sejatinya bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika harta itu dijadikan panggung untuk mempertontonkan diri. Itulah yang membuat amal sirna dan hati menjadi hampa.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam al-Fawā’id (hlm. 145) bahkan lebih tegas lagi:

 كُلُّ مَنْ تَزَيَّنَ لِلنَّاسِ بِمَا لَيْسَ فِيهِ سَقَطَ مِنْ عَيْنِ اللَّهِ

Artinya: “Setiap orang yang berhias di hadapan manusia dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya, maka ia jatuh dari pandangan Allah.”

Kalimat Ibn Qayyim ini amat relevan dengan fenomena flexing. Sebab, sebagian besar pamer di media sosial adalah artificial—bukan kekayaan nyata, tetapi pinjaman mobil mewah, sewaan barang branded, atau editan saldo bank. Semua itu, kata Ibn Qayyim, membuat pelakunya jatuh di hadapan Allah, meskipun mungkin ia tampak naik derajat di mata manusia.

Dalam Bāriqah Maḥmūdiyyah (juz II, hlm. 187), Abu Sa‘īd al-Khādimī ketika menjelaskan sum‘ah (cari popularitas) menulis:

 هُوَ أَنْ يَعْمَلَ الْعَبْدُ عَمَلًا لِلَّهِ ثُمَّ يُرِيدُ أَنْ يُظْهِرَهُ لِلنَّاسِ

Artinya: “Sum‘ah adalah ketika seorang hamba beramal untuk Allah, namun kemudian ia ingin menampakkannya kepada manusia.”

Maka, flexing hari ini bisa dipandang sebagai anak kandung dari sum‘ah. Bedanya, kalau sum‘ah pada masa klasik adalah pamer amal ibadah, flexing kontemporer lebih banyak pada pamer duniawi. Namun, akarnya sama: mencari pengakuan dari manusia, bukan dari Allah.

Jika kita ibaratkan, flexing di media sosial itu seperti orang yang sedang membangun rumah indah dari kaca. Dari luar tampak gemerlap, memantulkan cahaya. Tapi sedikit saja batu dilempar, pecahlah seluruh bangunan. Begitulah flexing: indah sesaat, rapuh selamanya.

Tak heran bila Nabi Muhammad ﷺ pernah memperingatkan:

 مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Barang siapa memakai pakaian demi mencari ketenaran di dunia, maka Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan di hari kiamat.” (HR. Ahmad, Abu Dāwud).

Hadis ini seakan diturunkan khusus untuk generasi flexing hari ini—mereka yang sibuk menjadikan busana, tas, atau mobil sebagai alat eksistensi diri.

Pada akhirnya, flexing hanyalah ilusi. Orang yang sibuk pamer tak ubahnya seperti aktor yang memainkan peran di panggung, lalu setelah tirai ditutup, ia kembali menjadi manusia biasa dengan segala luka dan kekosongannya.

Mungkin baik kita tutup tulisan ini dengan bait syair Imam al-Syafi‘i yang termaktub dalam Dīwān al-Imām al-Syāfi‘ī (hlm. 72):

 مَنْ أَرَادَ الْعِزَّ فَلْيَتَوَاضَعْ *** فَالْعُظْمُ فِي الْأَرْضِ مُسْتَكِنٌّ

Artinya: “Siapa yang ingin mulia, maka hendaklah ia merendah; sebab, semakin besar tulang, semakin ia tertanam dalam tanah.”

Sebuah sindiran halus bagi mereka yang gemar flexing: kemuliaan sejati tak pernah lahir dari pamer, tapi dari kerendahan hati.

Oleh: Sariassakoti (Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo)

Leave a Comment

Related Post