Fastabiqul Khairat dalam Toleransi sebagai Jalan Kebaikan Bersama

Layyin Lala

06/10/2025

5
Min Read
Fastabiqul

On This Post

Harakatuna.com – Indonesia sebagai negara plural atau majemuk terdiri dari berbagai suku, budaya, bahasa, adat istiadat, dan agama yang hidup berdampingan dalam satu ikatan kebangsaan. Keberagaman tersebut membentang dari Sabang hingga Merauke merupakan fakta historis sekaligus sosiologis yang tidak dapat dipungkiri.

Dalam kehidupan berbangsa, keragaman ini dapat menjadi modal sosial yang memperkaya sekaligus memperkuat persatuan, namun juga berpotensi melahirkan konflik apabila tidak dikelola dengan baik. Karena itu, dibutuhkan suatu landasan nilai yang mampu mengikat perbedaan serta menciptakan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks inilah, gagasan mengenai toleransi menemukan relevansinya.

Dalam buku berjudul “Toleransi” karya Prof. Quraish Shihab, beliau menjelaskan mengenai makna kata toleransi. Menurut beliau, toleransi merupakan upaya mengakui hak seseorang untuk menganut dan mengamalkan pandangannya serta haknya untuk hidup berdampingan tanpa mengorbankan pihak lain yang tidak sependa  pat dengannya.

Toleransi termasuk nilai kemanusiaan, karena kemanusiaan terdapat pada seluruh orang tanpa perbedaan. Namun, pada sisi yang lain, kemanusiaan terwarnai oleh perbedaan sosok masing-masing manusia. Bentuk perbedaan harus kita akui. Mengapa demikian? Adanya perbedaan merupakan hal yang telah Allah kehendaki, begitu juga keragaman manusia yang merupakan bentuk keniscayaan.

Memaknai Hakikat Perbedaan

Bagi Prof. Quraish Shihab, adanya perbedaan dalam kehidupan manusia karena Allah menghendaki kita berbeda agar saling menyempurnakan, dan berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat hidup seorang diri. Kita membutuhkan orang lain bukan karena alasan orang lain itu kaya, memiliki ilmu, atau lebih kuat, melainkan karena kita juga tidak dapat melakukan kebaikan tanpa kehadiran orang lain.

Terbentuknya perbedaan bukanlah hal yang murni untuk diciptakan oleh manusia. Kita tidak memiliki kuasa untuk menentukan jenis kelamin saat kita terlahir, memilih warna kulit, memilih bangsa atau suku. Sehingga, adanya perbedaan sebetulnya mustahil untuk dihapuskan. Kehadiran perbedaan yang membentuk keragaman mestinya saling menyempurnakan manusia satu sama lain. Sehingga, perbedaan perlu untuk kita rawat bersama-sama demi menciptakan kemaslahatan bersama, bukan sebagai alasan saling memecah belah.

Hal tersebut sesuai dengan Q.S. Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

Toleransi dalam Perbedaan Kepercayaan

Salah satu bentuk perbedaan yang manusia miliki adalah perbedaan dalam memeluk agama atau kepercayaan. Manusia sebagai manusia (creation) mendapatkan kehormatan dari Tuhan tanpa membeda-bedakan agama, asal-usul keturunan, serta status sosial. Seperti itulah bentuk penegasan seluruh agama.

Dalam buku tersebut, Prof. Quraish Shihab menyatakan:

“Kepercayaan kepada Tuhan bahwa Dia adalah pencipta manusia dan menganugerahi manusia penghormatan menuntut semua pihak untuk menghormati pula kemanusiaan manusia yang pada hakikatnya sama dalam kemanusiaannya dan semua sama dalam pandangan Tuhan menyangkut kemanusiaan manusia itu, baik Muslim maupun non-Muslim, bahkan dalam ajaran Islam, yang hidup maupun yang telah mati.”

Salah satu bentuk menghargai perbedaan dalam keyakinan ialah memiliki rasa toleransi baik kepada sesama penganut kepercayaan maupun bukan. Toleransi pada masa kini mementingkan penekanan manfaat untuk seluruh orang, baik yang bertoleransi ataupun yang ditoleransi.

Manfaat tersebut dapat menciptakan hidup berdampingan secara damai yang berasas persamaan dan kesetaraan. Sehingga nantinya tidak akan muncul siapa yang kuat atau lemah, tidak ada pemberi tanpa penerima, atau sebaliknya.

Toleransi dapat digambarkan sebagai jabatan tangan dua pihak yang sedang merasakan kehangatan telapak tangan mitranya. Toleransi menjadi langkah untuk mencapai tujuan bersama.

Relasi Kemanusiaan, Keberagaman, dan Ketuhanan

Toleransi menjadi jalan yang mudah kita lakukan untuk menikmati kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk. Toleransi dapat membantu seseorang untuk berdamai dengan dirinya sendiri sebelum berdamai dengan orang lain. Sehingga, orang yang bertoleransi akan dipenuhi nilai-nilai kedamaian serta terhindar dari banyak permasalahan. Hal tersebut dikarenakan toleransi menjalin hubungan yang harmonis, terbebas dari dugaan (prejudice), penghakiman (judging), atau prasangka-prasangka buruk.

Manusia yang sehari-hari selalu menghadapi keberagaman akan sangat terbantu dengan bertoleransi. Hal tersebut dapat membuat manusia memiliki hubungan sesama manusia (hablum minannaas) yang baik serta hubungan dengan Tuhan (hablum minallah) yang baik juga.

Relasi yang baik antara Tuhan dan manusia (sekaligus keberagaman yang manusia punya) sejatinya menjadikan diri kita sebagai orang-orang yang rendah hati dan menghargai segala perbedaan yang telah Allah ciptakan. Oleh karenanya, toleransi tidak dapat terpisah dalam membangun hubungan kesalingan antar sesama manusia.

Saya sendiri merasakan manfaat melibatkan sikap-sikap toleransi dalam membangun hubungan sehat dengan sesama, terutama dengan teman-teman lintas iman. Beberapa pekan lalu, saya tergabung dalam kemah lintas iman di Bandung.

Kegiatan tersebut mengajak hampir 40 orang pemuda lintas agama yang berkumpul untuk berdialog mengenai penyelamatan lingkungan. Ketika saya melibatkan sikap-sikap toleransi, saya mendapatkan sambutan hangat dengan senyuman.

Toleransi yang saya terapkan memberikan kedamaian dan kepercayaan dalam membangun relasi yang sehat. Saya menyadari bahwa meskipun bukan saudara seiman, kami merupakan saudara dalam kemanusiaan, seperti yang dikatakan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Dengan majemuknya ragam kebudayaan, kepercayaan, adat istiadat, dan segala keanekaragaman bangsa Indonesia, saya rasa toleransi menjadi kunci untuk mewujudkan sistem masyarakat yang saling menyayangi, mengasihi, dan peduli satu sama lain tanpa perlu mendiskreditkan perbedaan yang ada.

Leave a Comment

Related Post